FGD Forum Petobo, Menuju Petobo (Baru) Yang Sadar Bencana, Kuat dan Tangguh

Bagikan :

PALU, mediapatriot.co.id_Dengan mengusung tema “Menuju Petobo (Baru) Yang Sadar Bencana, Kuat dan Tangguh”, Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo menggelar forum group discussion (FGD), Rabu (05/12), di Camp Pengungsian, Tenda Umum PMI, Kota Palu.

FGD menghadirkan Ketua Ekspedisi Palu-Koro, Tri Nirmala Ningrum, bersama Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologo Indonesia (IAGI), Burhan, dan Akademisi Universitas Tadulako, Subhan, sebagai nara sumber.

Yahdi Basma, anggota Komisi I DPRD Sulawesi Tengah (Sulteng), selaku pematik diskusi menyampaikan FGD digelar dengan target mempromosikan secara khusus partisipasi masyarakat Kelurahan Petobo dalam perumusan RT RW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) Kelurahan Petobo pasca bencana Likuifaksi.

“Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo ini dibentuk langsung oleh masyarakat Petobo pada 9 Nopember 2018, di camp Pengungsian Petobo Atas, arah timur Desa Ngata Baru, Kabupaten Sigi,” ungkap Yahdi yang diamanahkan sebagai Ketua Forum Petobo.

Yahdi menambahkan, camp pengungsian Petobo atas saat ini dihuni lebih dari 4.000 jiwa warga Kelurahan Petobo yang selamat dari gulungan lumpur pembuburan tanah (Likuifaksi).

“Saat ini tercatat ada 4.000 jiwa wargabKelurahan Petobo yang menghuni camp pengungsian Petobo atas,” tandasnya.

Diskusi yang dipandu Wakil Ketua Forum Petobo, Umar Pantorano Rantebadja, Ketua Ekspedisi Palu-Koro, Tri Nirmala Ningrum menguraikan ringkas rangkaian kinerja Tim Ekspedisi Palu-Koro.

Tri menyampaikan ekspedisi Palu-Koro sejak 2012 telah memulai berbagai risetnya. Di Juli 2017 dan Agustus 2018 (sebulan sebelum bencana) tim ekspedisi menemui Gubernur Sulteng, Drs. Longki Djanggola, M.Si dan berbagai pihak kompeten guna menyampaikan summary (resume) hasil riset.

“Belakangan, hasil riset yang rencana dibukukan tersebut belum jua kesampaian sampai dengan kejadian bencana 28 September 2018,” tandasnya.

Selain itu, Wakil Ketua IAGI, Burhan juga memaparkan berbagai hal teologis terkait gempa, tsunami dan likuifaksi yang dihadiri puluhan tokoh masyarakat Petobo, tokoh perempuan dan pemuda, serta beberapa peserta yg mewakili korban tsunami, likuifaksi Balaroa, serta korban terdampak gempa lainnya dari Kelurahan Kawatuna, Lasoani dan Tanamodindi.

Burhan menguraikan kesadaran mitigasi sesungguhnya berorientasi pada upaya mengurangi korban terdampak. Bukan sekedar simulasi yang ciptakan jalur-jalur serta tindakan evakuasi saat terjadi bencana.

“Yang terpenting adalah soal mindset (cara pandang, red) bahwa kita hidup dan berkehidupan diatas patahan lempeng aktif sesar Palu-Koro yang sesungguhnya bukanlah Sang Pembunuh,” urainya.

Lebih lanjut dikatakan, banyaknya yang menjadi korban lebih karena reruntuhan dan hempasan gelombang tsunami diakibatkan lemahnya mitigasi.

“Mitigasi adalah serangkaian kegiatan yg direncanakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya korban dalam menghadapi bencana,” tegasnya.

Dalam FGD ini ditarik kesimpulan soal perlunya FORUM membantu Pemerintah Kelurahan untuk desain tata ruang/wilayah kawasan Kelurahan Petobo (Baru) di area Jalan Jepang.

Jalan jepang di Kelurahan Petobo diketahui berbatasan dengan Kelurahan Kawatuna dibagian utara, Selatan berbatasan dengan Desa Loru, Kabupaten Sigi, Timur dengan Desa Ngata Baru, Kabupaten Sigi, dan Barat dengan Jalan Suharto Atas berbatasan dengan Tanggul/Irigasi Gumbasa. Area Likuifaksi sepanjang lebih dari 2 KM ke arah barat Petobo sampai Rumah Sakit Nasanapura Jalan Suharto bawah.

Sementara itu, FGD juga merekomendasikan beberapa hal terkait tata ruang lokal Petobo, yakni bahwa timbunan material lumpur likuifaksi beserta 1.057 unit bangunan serta dugaan ribuan jenazah warga yg turut tertimbun, agar dijaga oleh pemerintah dan warga, tidak sekedar sebagai suatu memoriam park (taman kenangan) tapi juga didesign sebagai Museum Likuifaksi Dunia.

Rekomendasi juga disampaikan Yahdi soal perlunya koneksifitas darat yang lebih ringkas dengan pembangunan Jalan Lingkar Likuifaksi yang mengitari gunung lumpur dengan desain elips, dari arah bawah di Jalan Dewi Sartika, naik ke arah Timur hingga di Camp Pengungsian Jalan Jepang (jalan Kebun Sari) area Petobo Atas.

Terhadap berbagai rekomendasi tersebut, pihak IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) bersedia membantu dengan terlebih dahulu lakukan riset mendalam terkait komposisi material tanah dan air permukaan di area tersebut.(dewi)

Bagikan :