McKinsey mendorong perusahaan-perusahaan menerapkan strategi “triple transformation” untuk mencapai potensi Industri 4.0 di Indonesia

Bagikan :

mediapatriot.co.id – Jakarta, Industri 4.0 adalah realitas baru terkait disrupsi yang terjadi di berbagai industri di dunia. Industri 4.0 berhubungan dengan penerapan teknologi terbaru seperti advanced analytics, Internet of Things (IoT), machine learning, dan otomasi dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan respon terhadap permintaan konsumen yang berubah dengan sangat cepat.

Tahun ini, Indonesia mencapai tonggak sejarah penting dalam perjalanan Industri 4.0 dengan Presiden Joko Widodo meluncurkan peta jalan “Making Indonesia 4.0”. Peta jalan tersebut berfokus pada percepatan pertumbuhan sektor manufaktur dengan cara memperbaiki jalur distribusi, mengembangkan zona industri, penerapan standar yang keberlanjutan dan mendorong UMKM.

Riset McKinsey menunjukkan bahwa Industri 4.0 akan berdampak signifikan pada berbagai industri di Indonesia, sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan. Digitalisasi bisa mendorong pertambahan sebanyak $120 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada 2025. Sekitar seperempat dari angka ini, atau senilai $34 miliar, akan dihasilkan oleh sektor manufaktur, menempatkan sektor ini di posisi terdepan. Mengingat bahwa manufaktur menyumbang 18 persen ke PDB, sangatlah penting untuk mempercepat penerapan teknologi digital terbaru pada sektor ini.

Penerapan vs Realitas: Keluar dari ‘pilot trap’atau terjebak di tahap percontohan
Berdasarkan survei McKinsey & Company, 79 persen pemimpin bisnis di negara-negara berbasis manufaktur seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam pada umumnya bersifat optimis terhadap prospek Industri 4.0. Mereka sangat ingin menerapkan proyek-proyek percontohan untuk berbagai teknologi dan mengatakan bahwa mereka berharap penerapan tersebut akan meningkatkan pemasukan sebanyak 10 persen dan memangkas pengeluaran sebanyak lebih dari 10 persen. Beberapa perusahaan bahkan telah memulai penerapan Industri 4.0 di perusahaan mereka.

“Walau kami telah melihat bahwa berbagai perusahaan sudah sadar akan besarnya peluang Industri 4.0, hanya 13 persen perusahaan-perusahaan di ASEAN yang sudah menerapkan teknologi Industri 4.0. Terlebih lagi, walaupun mereka antusias terhadap manufaktur secara digital, hanya sedikit perusahaan yang telah mencapai potensi tertinggi dan malah terjebak dalam tahap percontohan, atau ‘pilot trap’ – dimana aktivitas sudah berjalan namun mereka tidak merasakan dampak berarti pada laba,” kata Vishal Agarwal, McKinsey & Company Partner and Leader, Southeast Asia, Operations practice.

“Kami menemukan bahwa 78 persen dari perusahaan-perusahaan yang kami survei tidak maju lebih jauh dari tahap percontohan. Sekitar 30 persen dari responden bahkan belum mencoba untuk mengembangkan proyek setelah satu atau dua tahun sehabis tahap percontohan,” tambahnya.

McKinsey menemukan enam faktor yang menyebabkan pelannya penerapan Industri 4.0 pada perusahaan-perusahaan yang sedang dalam tahap implementasi. Enam faktor tersebut adalah: kesulitan dalam merancang dengan jelas peta jalan untuk bertumbuh pada skala besar, data-data yang tersimpan secara terpisah dan tiadanya satu platform yang sesuai untuk melakukan integrasi, kekurangan orang-orang dengan kemampuan digital untuk menjalankan peta jalan yang telah dirancang, tantangan-tantangan dalam menemukan dan memprioritaskan proyek percontohan dengan nilai bisnis yang jelas, kekurangan pengetahuan dan sumber daya untuk mengembangkan proyek dan infrastruktur, dan kekhawatiran terhadap resiko keamanan cyber.

“Alasan terjebaknya perusahaan di tahap percontohan (pilot trap) sama dengan alasan-alasan yang digunakan perusahaan yang menghindari implementasi Industri 4.0. Alasan-alasan utamanya adalah perusahaan tersebut melihat bahwa keuntungan jangka pendek tidak sepadan dengan usaha yang harus dikeluarkan sebuah bisnis untuk melakukan transformasi digital atau kesulitan dalam menggabungkan sistem teknologi informasi (TI), dan kurangnya koordinasi antara unit-unit bisnis seperti TI, pemasaran, dan penjualan,” kata Agarwal.

Menjalani “triple transformation
Untuk mencapai seluruh potensi Industri 4.0 di sektor manufaktur, perusahaan-perusahaan perlu melewati tahap percontohan dengan menjalani triple transformation yang meliputi:
§ Proses bisnis: Mengembangkan visi bisnis yang jelas dari awal dan menerapkan peta jalan secara bertahap; digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan nilai, menciptakan kemudahan dan efisiensi; serta fokus pada proyek percontohan yang terpenting;
§ Adopsi teknologi: Membentuk kelengkapan sistem teknologi yang bisa dikembangkan; mengadopsi arsitektur TI ‘two speed’ untuk penerapan cepat solusi digital terbaru dengan “middleware” yang menghubungkan dengan sistem TI yang sudah ada; membangun ekosistem yang terfokus bersama mitra-mitra yang tergabung dalam sebuah ekosistem pada perusahaan tersebut; dan
§ Struktur organisasi: Mendorong transformasi dari atas dan mengomunikasikan kesuksesan; menarik bakat-bakat dan keterampilan baru sambil meningkatkan kemampuan pekerja yang sudah ada; membangun budaya yang menyokong transformasi; dan mengadopsi cara dan pola pikir baru untuk bekerja (contoh: belajar cepat, gagal cepat).

CEO Forum:Embracing Industry 4.0 opportunity, berkolaborasi dengan APINDO
Pada 10 Desember 2018, lebih dari 100 pemimpin perusahaan berkumpul untuk membahas dan bertukar pikiran tentang bagaimana perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa menerapkan strategi triple transformation. Acara CEO Forum yang terbatas untuk para undangan membicarakan transformasi digital, advanced analytics dan kecerdasan buatan (AI), serta keamanan cyber. Forum yang dilaksanakan bersama dengan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menyambut H Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia, yang membawakan pidato pembuka.

Ketua umum APINDO, Hariyadi Sukamdani menegaskan pentingnya pemimpin-pemimpin industri untuk bersatu untuk bertukar pikiran dan saling berbagi praktik terbaik terkait penerapan Industri 4.0.

“Industri 4.0 akan memerlukan perusahaan-perusahaan untuk bertransformasi agar mencapai tujuan-tujuan bisnis, termasuk efisiensi biaya operasional dan peningkatan volume produksi. Transformasi ini tidak hanya membutuhkan teknologi yang tepat, tetapi juga kemitraan bipartit dan tripartit yang berfokus pada pertukaran pengetahuan tentang bentuk-bentuk baru untuk hubungan industri. Jika berhasil menerapkan Industri 4.0, sektor manufaktur akan mampu terus memainkan perannya sebagai sektor penting yang mendukung ekonomi nasional,” kata Hariyadi.

“Dengan pengalaman kami dalam mendukung ribuan transformasi digital kepada berbagai klien di seluruh dunia, kami senang dapat berbagi pelajaran-pelajaran tersebut dengan para pemimpin-pemimpin bisnis di Indonesia yang ada pada acara ini. Yang terpenting dari pelajaran-pelajaran ini adalah perusahaan-perusahaan harus melihat kesempatan ini sebagai ‘nilai laba berbalik’ (bottom-line value backwards) daripada maju dari teknologi (technology forwards). Kami merasa sangat terhormat dapat membawa berbagai ahli Industri 4.0 kami dari beberapa negara ke Indonesia dengan bekerjasama dengan APINDO,” kata Agarwal.

Bagikan :