Adelin Lis Buronan Indonesia Sejak 11 Tahun Lalu

Bagikan :

Mediapatriot – Sampai menjelang akhir tahun 2018, satu kasus buronan kelas kakap atas perambahan hutan secara liar (Illegal logging), yang sudah ditetapkan Mahkamah Agung (MA) bersalah dengan vonis tahun penjara, adalah Adelin Lis, yang sudah sebelas tahun menghilang dan belum berhasil ditangkap oleh aparat penegak hukum.

”Bos besar dari PT Keang Nam Development Indonesia (PT KNDI) itu, sesuai dengan kabar yang kami terima, masih berada di Asia. Kita heran atas kesulitan yang dihadapi aparat sehingga belum bisa menangkap dalang pembalakan hutan terbesar di negara ini,” ujar Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (Marak), Agus Yohanes, Kamis (20/12).

Agus mencurigai, banyak pihak yang diduga mengetahui keberadaan Adelin Lis. Bahkan, kedatangannya ke Tanah Air, sesuai laporan yang beredar di masyarakat, sudah berulangkali. Sayangnya, oknum aparat terkesan tidak mengetahui kepulangan cukong perambahan hutan itu di Indonesia. Buronan kelas wahid itu pun dengan leluasanya kembali lagi “pelesiran” ke negara lain.

“Gerakan besar yang dikobarkan pemerintah untuk memerangi pembalakan hutan seakan menjadi semu. Upaya pemerintah untuk melindungi hutan seakan hanya dagelan. Jangan sampai semangat pemerintah yang mendambakan penegakan hukum dianggap sebatas sandiwara. Kita minta aparat untuk segera menangkap Adelin Lis,” tegasnya.

Agus mencurigai, banyak pihak yang terindikasi terlibat di balik melenggangnya Adelin Lis tersebut. Oleh karena itu, buronan kelas kakap yang banyak merugikan negara tersebut, harus dikejar dan ditangkap. Sehingga, berdasarkan keterangan dari orang bersangkutan bisa dikembangkan untuk menyeret oknum – oknum yang terlibat.

Aksi kabur Adelin Lis yang kedua kalinya, nyaris sukses besar sampai organisasi antikriminal Australia, Crime Stoppers Australia mengumumkan 16 daftar buron internasional, termasuk tujuh buron kakap asal Indonesia, yang diduga bersembunyi di negeri Kanguru itu.

Dalam daftar tersebut, ada nama dan foto Adelin Lis, cukong kayu yang juga Bos PT Keang Nam Development Indonesia (PT KNDI). Petunjuk di Australia mungkin tak pernah diduga. Sebab, polisi menfokuskan pencarian di tiga negara yakni China, Hongkong, dan Singapura diawasi khusus.

Ditilik dari sejarah pelariannya yang pertama, Cina jadi pusat perhatian para pencari Adelin. Sebab, di negara itulah Adelin tertangkap dalam pelariannya yang pertama. Sedangkan, Hongkong dan Singapura diketahui sebagai tempat persinggahan Adelin.

Adelin diburu setelah majelis hakim agung yang dipimpin mantan Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan menjatuhkan pidana tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar kepadanya.

Harapan negara memperoleh ganti kerugian dengan jumlah luar biasa yakni sebesar Rp 119.8 miliar dan dana rebosisasi sebesar US$ 2,93 juta, masuk akal, syaratnya kalau Adelin berhasil ditangkap.

Nama Adelin membuat geger di publik saat Kepolisian Daerah Sumatera Utara membongkar kasus pembalakan liar, yang diduga dilakukan Inanta Timber (memiliki HPH 40.600 hektar) dan PT KNDI (HPH 58.500 hektar).

Selain Adelin, polisi juga menetapkan Direktur Utama PT Inanta Timber Adenan Lis, serta manager lapangan PT Inanta Timber, Lee Suk Man, yang merupakan warga Korea Selatan.

Diperiksa, Adelin malah kabur. Cap buronan pun langsung dilekatkan padanya. Polda Sumut lantas mengajukan permohonan cegah tangkal (cekal) terhadap ketiganya.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (Marak)

Pencekalan baru efektif berlaku sejak 29 Juni 2006 melalui Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep 233/D/Dsp.3/06/2006 tertanggal 29 Juni 2006. Padahal pada saat itu itu Adelin sudah keburu kabur keluar negeri.

Pencarian tak menemukan hasil, Adelin justru ditangkap karena peristiwa yang tak terduga. Dia tertangkap saat memperpanjang paspor miliknya di Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, Cina pada 8 September 2006.

Adelin yang mengaku sebagai pelajar tak bisa menunjukan ijin tinggal di Beijing. Atas dasar konfirmasi ke Kantor Imigrasi Jakarta lantas menangkap Adelin.

Menurut Jan S Maringka, Konsul Kejaksaan RI di Beijing, yang membawa pulang Adelin ke Indonesia, berdasarkan tanggal yang tertera di paspornya, Adelin sudah berada di Beijing sejak April 2006.

Penangkapan Adelin saat itu bak adegan film kungfu. Empat staf Kedubes RI dikeroyok gangster begitu sampai di depan Rumah Sakit Sino German, Beijing, saat mengantar Adelin yang saat diperiksa, mengeluh sakit, berobat.

Para penyerang berusaha membebaskan Adelis dari pengawalan, adu jotos pun tak terelakan. Untung, polisi Beijing turun tangan dan mengamankan Adelin. Sang buron dibawa kembali ke Indonesia pada Sabtu, 9 September 2006 untuk menghadapi perkaranya.

Di tengah penyelesaian perkara, pada 27 September 2006, Menteri Kehutanan M. S. Kaban tiba-tiba mengeluarkan surat bernomor S 613/ Menhut-II/2006/27 September 2006.

Isinya,Adelin Lis hanya melakukan pelanggaran administrasi, bukan tindak pidana, yang hanya layak dihukum denda. Surat itulah yang jadi senjata Adelin Lis dalam persidangan yang digelar mulai 20 Juni 2007 di Pengadilan Negeri Medan.

Pada 22 Oktober 2007, jaksa menuntut Adelin 10 tahun penjara, denda Rp 1 milliar, serta ganti rugi Rp. 119 Milliar, dan US $ 2,9 juta. Namun, semua dakwaan Adelin dimentahkan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai H. Arwan Byrin.

Pada 5 November 2007, Adelin dinyatakan bebas. Pengadilan menyatakan Adelin tidak melakukan tindak pidana tapi hanya kelalaian administrasi.

Pada hari yang sama, Adelin keluar dari tahanan pada pukul 23.30 WIB dengan surat perintah yang ternyata sudah dipersiapkan sebelumnya yang bertanggal 3 November 2007.

Polisi lantas berusaha menahan kembali Adelin dengan mengusut kasus pencucian uang pada 6 November 2007. Namun Adelin raib dan tidak diketahui keberadaannya, hingga saat ini.(Op)

Bagikan :