Ustadz Adjie Nung Larang Masyarakat Kp.Wates Babelan Bekasi Rayakan Tahun Baru 2019

Bagikan :

Mediapatriot.co.id, Bekasi – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Majlis Taklim Nurul Iman Kp. Wates Desa Kedung Jaya Kec. Babelan Bekasi Utara, ini dihadiri oleh ratusan jamaah dan para ustadzaat, diantaranya Usth Hj. Maimunah binti KH. Muhyidin Anwar, Usth Hj. Zumaroh, Usth Hj. Maimunah, Usth Hj. Nurlaila, Usth. Nurfadhilah, Usth. Muthmainah Usth Hj. Maqbulah, Ibu Lurah Kedung Jaya, Bpk HM. Zein, Bpk.H.Jazuli dan Ketua Majlis taklim Usth Hj. Saodah. Minggu (30/12).

Dalam ceramahnya kali ini Ust H. Nur Anwar Amin, Lc.,MA sapaan akrabnya Ustd. Adjie Nung menyampaikan tentang akhlak Rosululloh SAW dan melarang jamaahnya untuk merayakan tahun baru. Menurut Adjie Nung, Rosululloh SAW diutus Allah SWT kedunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia dan diantaranya akhlak Nabi Muhammad SAW yang wajib kita tiru dan kita ikuti adalah Akhlaqun Hasanah (اخلاق حسنة) Orang yang memiliki akhlak hasanah adalah yang selalu bebuat baik dg orang yang ia kenal. Kemudian Rosululloh juga memiliki (اخلاق كريمة) akhlaqun karimah
yaitu orang yang selalu berbuat baik dengan orang ia kenal ataupun yang tidak ia kenal. Lebih dahsyat lagi Nabi SAW memiliki (اخلاق عظيم) akhlaqum azhima yaitu akhlak yang agung, orang yang memiliki akhlak ini selalu berbuat baik dengan orang yang menyakiti atau menzholiminya. Inilah merupakan akhlak yang wajib disuritauladani oleh umatnya.

Ust Adjie Nung juga melarang kepada semua jamaah yang hadir untuk tidak merayakan Tahun Baru Masehi 2019 karena itu sama halnya dengan menunjukkan rasa simpati, dan cinta kepada orang kafir yang menjadi sumber awal perayaan tersebut. Ia mengingatkan bahwa sesungguhnya umat islam sudah memiliki dua hari perayaan yang harus mereka besarkan dan banggakan yaitu hari raya idul fitri dan idul adha dan ini dikuatkan hadist Rosululloh SAW “dari Anas, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, penduduknya mempunyai dua hari yang biasa dirayakan yaitu Nairuz dan Mihrajan, kemudian Rasulullah SAW bertanya : “Ada apa dengan dua hari itu?” Mereka menjawab: “Kami sudah biasa merayakannya sejak zaman jahiliyyah.” lalu Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari Adlha dan hari Fithri.” (Sunan Abi Dawud).

Perayaan Tahun Baru Masehi merupakan pesta akhir sekaligus awal tahun baru yang sudah membudaya di seluruh penjuru dunia. Ia berharap umat Islam tidak turut merayakannya karena memang tidak ada yang layak untuk dirayakan sama sekali dari Tahun Baru Masehi tersebut, terlebih Nabi Muhammad SAW dengan tegas melarangnya. Hadits diatas juga membatasi dua hari yang boleh dirayakan oleh umat islam hanya pada ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha saja. Terkait perayaan Nairuz dan Mihrajan dua perayaan jahiliyah tersebut di atas, shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr sampai menyatakan.

مَنْ بَنَى بِأَرْضِ الْمُشْرِكِينَ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوت حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Siapa yang membangun rumah di negeri orang-orang musyrik, turut terlibat dalam perayaan Nairuz dan Mihrajan mereka, dan bertasyabbuh dengan mereka sampai ia meninggal, maka kelak akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat (Aunul-Ma’bud). Menurut Ibnu Taimiyyah, hadits diatas semakna dengan firman Allah Ta’ala;

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ ۝

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali/pemimpin kamu, mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Ma`idah : 51). Dan disampaikan pula kepada jamaahnya agar hanya memilih pemimpin yang sesuai Al-quran dan Al-hadist yaitu pemimpin yang beriman itulah pemimpin yang selalu sholat, siap membayar zakar, selalu ruku dan tawadu.

Dipenghujung ceramahnya Ustd. Adjie Nung selaku Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center, juga memberikan kesempatan bagi para donatur yang ingin mengamalkan kebajikan melalui program “Berbagi Cahaya diatas Cahaya” siap Menerima, Melayani dan Menyalurkan Wakaf, Zakat, Infak dan Shadaqohnya melalui Bank Syariah Mandiri cabang Bekasi, di No. Rekening 7117821823 atas nama Yayasan Wafizs Al-Amin Center.

Bagikan :