Bawaslu Segera Periksa Ariady Arsal dan Andre Tanta

Bagikan :

MAKASSAR, media patriot.co.id

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Makassar segera melakukan pemeriksaan terhadap dua orang Caleg yang diduga melakukan pelanggaran pemilu. Hal ini disampaikan Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kota Makassar, Zulfikarnain.

“Sudah dilakukan investigasi, dalam waktu dekat akan dilakukan pemeriksaan,” jawabnya singkat via whatsapp, Jumat (8/2/19).

Sebelumnya, Lembaga Pemantau Pemilu (LPP) menemukan caleg DPR RI Sulsel 1 nomor urut 1 dari Partai PKS H. Ariady Arsal dan Caleg DPRD Sulsel dari Partai Nasdem wilayah Makassar A nomor urut 6, Andre Prasetyo Tanta yang diduga melakukan tindak pidana pemilu. Ariady Arsal kedapatan melakukan pemasangan baliho yang bertuliskan “SIM Seumur Hidup” dan “Bebas Pajak Motor”. Begitupun Andy Prasetyo Tanta yang menuliskan di balihonya “100% X 5 tahun gajinya untuk rakyat”.

Ariady Arsal dan Andre Prasetyo Tanta diduga terindikasi melakukan pelanggaran pemilu.

“Dalam baliho tersebut, mereka diduga menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta pemilu sebagaimana diatur dalam Pasal 523 ayat (1) juncto Pasal 280 ayat (1) huruf j UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu,” ucap Jumadi, SH, Koordinator Divisi Hukum LSM PERAK selaku pemantau pemilu, saat dikonfirmasi via telepon. Sabtu, (9/2/19).

Dalam penyampaiannya, pihaknya mengapresiasi kinerja Bawaslu Kota Makassar dalam menindaklanjuti temuan LSM PERAK sebagai pemantau pemilu selama ini.

“Bawaslu telah bekerja secara aktif dan profesional dalam pencegahan, pengawasan dan penindakan,” kata Alumni Fakultas Hukum Unhalu Kendari ini.

Tak berhenti disitu, Ia pun meminta Bawaslu segera memanggil dan memeriksa pemilik baliho serta mengawal kasus ini sampai ke tahapan penuntutan.

Jumadi meyakini, Ariady Arsal dan Andre Prasetyo Tanta sudah menjanjikan seperti yang tertulis di balihonya pada saat mereka berdua turun sosialisasi di masyarakat.

“Bawaslu harus berani menindak tegas mereka agar tidak menjadi contoh yang buruk dalam dunia pemilu di Sulsel khususnya. Kalau dibiarkan berarti kita melakukan terjadi pembiaran dan pelanggaran pemilu yang jelas-jelas ada di depan mata,” tegas mantan Bendahara BEM Unhalu Kendari ini.
(*)

Bagikan :