Bekerja Dalam Senyap (Catatan Kecil Abangku, H. M. Fadhil Rahmi, Lc, Calon DPD RI Asal Aceh)

Bagikan :

Bekerja Dalam Senyap
(Catatan Kecil Abangku, H. M. Fadhil Rahmi, Lc, Calon DPD RI Asal Aceh)
Oleh : Ibnu Ghani Allancoi

Tak perlu lama mengenal beliau, langsung kita bisa tahu bahwa beliau visioner. Jangan tanya apa yg visi misi sebagai calon DPD, karena sesungguhnya dalam kapasitas sebagai non calon anggota DPD sudah sangat banyak yg beliau lakukan untuk Aceh, Ummat dan Agama. Skala lokal, nasional maupun internasional.

Track Record/Rekam jejak Yang saya ingat:

  1. Di Mesir selama menjadi mahasiswa dari tahun 1996 sampai pulang kembali ke Aceh, 2008 mungkin hanya sedikit yg tidak mengenal beliau, itupun yang Bekerja jarang keluar rumah hehe. Beliau multi talent. Aktif tidak hanya di kampus sebagai mahasiswa Fakultas Syariah, beliau juga sangat aktif dalam dunia organisasi. Menjadi Pengurus organisasi apa saja, hal yg biasa. Dari pengurus almamater, kedaerahan, buletin/majalah kemahasiswaan sampai persatuan pelajar dan mahasiswa. Dan semuanya sampai jenjang tertinggi. Dari crew biasa hingga menjadi Pimpinan buletin mahasiswa.

Bg Fadhil juga pernah di Calon menjadi Presiden di organisasi induk pelajar dan mahasiswa indonesia(PPMI). Dalam sejarah, beliau putra Aceh pertama yg dicalonkan, hebatnya bukan KMA(Keluarga Mhasiswa Aceh) yg mencalonkan. Banyak dukungan dari non Aceh. Bukti beliau memang “tokoh nasional” di Mesir. Kepercayaan Masyarakat Indonesia di mesir juga beliau dapatkan ketika dipercaya menjadi penyelenggara pemilu di Mesir, beliau dipilih mewakili pulau Sumatera. Selain itu, 105 para intelek mesir yang diberi tugas suci melayani jamaah haji ke Arab saudi juga pernah beliau pimpin. Tidak salah kalo kemudian setiap tahunnya para calon presiden mahasiswa mesti sowan ke beliau untuk minta doa restu. Tokoh berpengaruh, geto loh hehe.

Masyarakat indonesia di mesir susah untuk tidak ketemu beliau. Boleh tidak suka organisasi, maka tidak ketemu beliau di civitas dan dunia organisasi. Namun beliau tidak hanya aktif disana. Bagi yang suka olahraga, maka akan ketemu di lapangan. Baik lapangan bola kaki, basket, takraw, badminton, volly, tenis meja dan lain-lain. Semua cabang olahraga di geluti beliau.

Menjadi wakil Aceh ke Indonesian Games atau event2 lain hal biasa. Lebih2 dibidang sepakbola. Saya yakin seyakin2nya, masyarakat indonesia yang hobby nonton/main bola dan pernah di mesir dalam kurun waktu 1996-2008 gak kenal Fadhil Aceh sebagai pemain bola, berarti tidak pernah di Mesir, minimal diragukan pernah di Mesir. “Susah untuk tidak kenal fadhil. Yang gak pernah ke wisma(pusat kegiatan mahasiswa indonesia), ketemu di lapangan bola, kalo gak hampir seluruh rumah daerah dia juga suka silaturrahmi,”ujar salah seorang senior ke saya. Dari awal Kedatangan menjadi pemain nasional, kapten, pelatih, manager. Semua jabatan di sepakbola pernah beliau emban. Dimasa beliau pula, ada komunikasi dengan PSSI. Waktu itu ketuanya, Pak Agusman Effendi. Alhamdulillah ada perhatian, seragam timnas pernah dirasakan oleh ‘timnas’ Indonesia di mesir “Loby beliau yahud,” ungkap salah satu junior beliau.

  1. Di indonesia, khususnya di Aceh, sejak awal pengabdian, beliau sudah tampil beda. Beliau tidak menjadi dosen. LC (lulusan alazhar) pertama dan satu2nya yang lulus dan berkiprah di dunia pemberdayaan, PNPM. Beliau lolos sebagai Asisten Fasilitator Kecamatan. Jauh dari disiplin ilmu sebagai sarjana agama. Lanjut kemudian ke kampus, namun bukan sebagai dosen mata kuliah, tapi menjadi pelatih Bola. Ya, pelatih Tim sepakbola STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Ke Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Meulaboh, 2009.

Lalu, Lolos PNS, bertahan dua tahun, beliau resign. “Gak minat, cuma mau test kemampuan dan test kejujuran. Gak benar harus sogok, ungkapnya ke saya. Gak perlu jual tanah menjadi PNS, cukup kemampuan keilmuan, percaya diri dan doa,”ujar beliau menyimpulkan ketika ditanya kenapa resign.

Setelah itu beliau dipercaya menjadi Asisten Ombudsman RI, pengawas pelayanan publik. Jabatan fungsional sebagai pegawai permanen di lembaga negara yg dibiayai APBN. Lagi-lagi, alumni Alzhar mesir yang pertama ada disitu ketika yg lain mayoritas berkiprah di dunia kampus, kantor kementerian agama dan pesantren/lembaga pendidikan serta travel haji dan umroh.

5 tahun dan beliau resign kembali. “Menyenangkan di Ombudsman, tapi libido politik (keinginan terjun ke dunia politik) yang terpupuk dari sejak santri masih tinggi. Tertantang untuk berbuat lebih dan lebih, ” ungkapnya.

Singkatnya, konstribusi nyata beliau yg saya ingat adalah:
1. Sejak tahun 2013 berhasil “Membawa” pulang Seleksi Nasional Masuk Kuliah Timur Tengah ke Banda Aceh dari Medan.

  1. Bersama KNPI, berhasil menggagas Umrah Umrah Backpaker bersama Pemuda. Dari lobby yg dilakukan berhasil mendapat fasilitas penginapan dan konsumsi gratis selama di Makkah untuk 200 pemuda/i Aceh.

  2. Membantu pengurusan dan pemberangkatan Ratusan Mahasiswa/i Aceh yg akan melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, seperti Alazhar Mesir dan lainnya.

  3. Mendapat 2 penghargaan dari Jawa Barat dan Walikota Banda Aceh atas konstribusinya terhadap pendidikan dan penegakan syariat di Aceh.

  4. Bersama tim tahsin IKAT sudah melatih ratusan guru Al-Qur’an dan imam masjid di berbagai kabupaten/kota, terutama Abdya, Pidie Jaya dan Aceh Tengah. Perencanaan sedang berlangsung untuk kabupaten lainnya. Banyak hal-hal hebat lain yg sudah beliau lakukan bersama IKAT. Gak percaya? Coba search nama beliau/ikat aceh di google atau tanya langsung anggota IKAT yg anda kenal.hehe

Itu yang saya ingat, walau masih banyak yg lain. Kalau belum jadi anggota DPD RI sudah banyak yg diperbuat, tentu kita berharap lebih ketika beliau di DPD RI nanti. Terus terang, Tak sabar menanti kiprah beliau sebagai politisi, smg.

Doaku menyertai perjuanganmu, abangku.

Bagikan :