“MAHASISWA DAN PERGOLAKAN MELAWAN KEKUASAAN”

Bagikan :

“MAHASISWA DAN PERGOLAKAN MELAWAN KEKUASAAN”

Sifat dasar mahasiswa adalah mencari kebenaran dan mewujudkan kebenaran. Kadang suatu “kebenaran” ala mahasiswa terbentur dengan sistem yang diterapkan penguasa. Konsekuensi langsung dari hal tersebut adalah gerakan pembaharuan terhadap ketimpangan yang terjadi. “Pengawal Utama” dari gerakan mahasiswa adalah nilai-nilai kebenaran ilmiah dan norma-norma etika. Hal tersebut kemudian menjadikan posisi dan peran ganda mahasiswa. Posisi ganda mahasiswa adalah sebagai kaum terpelajar/intelek sekaligus penyambung lidah rakyat atau DPR jalanan. Sedang peran ganda mahasiswa adalah sebagai pencari ilmu sekaligus agen pembaharu atau sosial kontrol.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual mempunyai tanggung jawab moral untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dan mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran untuk kepentingan rakyat walau harus berbenturan dengan penguasa.

Secara umum strata kehidupan berbangsa dapat digambarkan seperti piramida diatas. Rakyat sebagai mayoritas penduduk adalah elemen dasar suatu negara. Sedang Eksekutif sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Pihak Legislatif sebenarnya berfungsi sebagai penyampai aspirasi rakyat kepada eksekutif. Tapi ketika pihak legislatif mandul dan cenderung melupakan tanggung jawabnya dan justru memperjuangkan kepentingannya sebagai elit politik, maka pada saat itu mahasiswa harus memperjuangkan rakyat.

Mahasiswa di Indonesia adalah produk kapitalisme yang dipersiapkan bersaing dalam dunia kerja. Ilmu pengetahuan yang dikonsumsi dalam perguruan tinggi hanyalah sebagai jeruji penjara. Mahasiswa adalah calon budak yang cikal bakalnya menjadi lakon alias pelaku dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Oleh karena itu sudah saatnya mahasiswa tidak lagi berbicara struktur dan kekuasaan, melainkan mahasiswa seharusnya mengenal anarkisme secara khusus demi tercapainya hak dasar dan hak normatif secara menyeluruh.” lenyapkan struktur kekuasaan dalam kemahasiswaan tanpa terkecuali “.

-Gerakan Mahasiswa Harus Melawan Kekuasaan Dalam Pendidikan-

Tabiat yang sama tak bakal membuat Indonesia berubah. Selama mahasiswa sebagai bagian masyarakat terdidik tak bisa merubah kebiasaan demo tanpa riset dan berorganisasi tanpa transparansi, jangan berharap pendidikan nasional akan jadi lebih baik. Mereka hanya akan mengikuti barisan seniornya yang sudah menyiapkan pola bagi mereka. Pola yang sama dimiliki pendahulu mereka yang nyaman dengan kekuasaan dan jabatan, tapi lupa pada pengabdian.

Seharusnya mahasiswa yang menyadari ada penyakit lawas dalam dunia gerakan dan memilih jalur perubahan serta pola gerak berbeda, ada harapan pendidikan yang lebih baik. Perubahan Indonesia yang lebih baik. Pada yang mampu menciptakan perubahan paradigma dan cara gerak baru, mereka bakal jadi pembaharu. Mahasiswa harus berani melawan segala bentuk Permasalahan yang terjadi dinegara ini,tidak mengenal entah itu saudara.

Kejadian yang lalu yang perna kita lihat, ketua BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden adalah sebuah contoh mengingatkan kita sebagai mahasiswa sejati berani tidak takut demi ingin kebenaran,kejujuran,dan kebaikan.

Kenapa dan Bagaimana?
Sebuah pertanyaan penting yang harus kita terus sematkan, tancapkan pada setiap jati diri mahasiswa,
Dan mahasiswa bukan hanya sekedar membuat garis lingkaran untuk berdiskusi lalu takut untuk lantang dan keluar dari garis lingkaran itu.
Revolusioner adalah sebagian dari jati diri mahasiswa yang harus terus kalian tanamkan untuk membatasi diri kalian dari pembodohan yang bisa terjadi kapan saja. tanpa sadar kalian telah di curangi, dan di pengaruhi oleh kepentingan kepentingan dengan manipulasi pemerintahan dan kelembagaan kekuasaan.

Mahasiswa harus berjalan ke depan,mahasiswa menjemput bola,mahasiswa penerus bangsa,mahasiswa agen perubahan,mahasiswa garda terdepan untuk mengawasi pergerakan pemerintahan bukan sebaliknya, justru hanya diam menunggu pesanan pemerintahan, lalu kalian kerjakan sesuai pesanan itu. Mahasiswa harus ada di pertengahan, tidak proaction ataupun kontraaction, tetapi idealis dan independent.”Realistis ,idealisme seseorang akan mati jika berurusan dengan kekuasaan.

Secara perlahan akan menghilang bahkan mati secara mendadak jika teriming dengan kekuasaan,uang,jabatan. para mahasiswa ,aktivis, ,anggota partai dan lain-lain akan mengalami hal yang sama karna idealisme yang digadaikan”.

Penulis: Gubahan S.r

Aktifis HMI Cabang Manado Asal Haltim.
Bagikan :