Menakar Pesan Funding Father Kemerdekaan

Bagikan :

Rafsanjani Rasyid

“Sebuah interupsi atas dialektik kampus”

Oleh: Rafsanjani Rasid

Tela’ah sejarah perjalanan mahasiswa ternyata terselip sebuah pembelajaran berharga yang patut kita syukuri. Begitu berharganya sehingga tokoh revolusioner kita dengan lantang dan tegas mengatakan ”JASMERA”, yakni “jangan sekali-kali melupakan sejarah kalau anda melupakan  sejarah  maka anda akan tergilas oleh jaman”.

Kalimat yang disampaikan oleh Bung Karno pada salah satu pidatonya berhasil mengobarkan semangat juang ribuan massa Rakyat Indonesia saat itu.

Seiring dengan itu tentunya setiap generasi, setiap massa, siapa dan dimana pun memiliki sejarahnya masing- masing dan  tentunya berbeda dari masa ke masa, sejarah akan terulang kembali jika kita melupakan sejarah.

Pertanyaan kemudian sejarah apa yag perlu di ungkapkan? Untuk apa dan siapa sejarah ini di pelajari?

Tentunya bangsa ini punya sejarah yang panjang tentang dialektika  pergerakan pemuda mahasiswa untuk mencapai sebuah perubahan di Republik ini.

Sebelum kemerdekaan, Gerakan 1908 sebagai embrio pergerakan kaum muda, kemudian 1928 menelorkan Sumpah Pemuda, pada 1945 deklarasi kemerdekaan.

Setelah pasca kemerdekaan, tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia.

Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.

Daya dobrak ini tentunya didukung oleh dua sumber daya sebagai energi pendorong gerakan. Pertama, ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis maupun kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa.

Kedua potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi (Baca Andi Rahmat dan Muhammad Najib, Perlawanan dari Masjid Kampus, 2001)

Sejarah merupakan bagian dari epistemology untuk merancang masa depan. Dalam konteks pergerakan mahasiswa, sejarah yag telah dipersembahkan oleh funding father Republik ini adalah contoh yang layak kita ikuti.

Salah satunya adalah semangat senasib-sepenanggungan sehingga mereka kebal dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan yang menghalangi pada tujuan mulia, yang kita sebut ‘Kemerdekaan’.

Sejarah ini diperuntukan kepada kita sebagai pemuda (Mahasiswa)yang menanamkan eksistensi dalam rahim Republik ini. Sebuah dosa besar jika kita bersenang-senang menikmati bumi, air, dan kekayaan alam yang telah diperjuangkan oleh funding father, sementara disisi lain kita mengabaikan pesan-pesan juang yang telah diamanahkan, Bung Karno berpesan dalam pidatonya,

“Engkau hai Pemuda-pemudi yang ada disini
Sekarang kerjakanlah invesmu
Kerjakanlah pekerjaanmu itu sebaik-baiknya
Kerjakanlah sebaik-baiknya
Oleh karena apa yang kau kejar sekarang ini ialah ilmu.

“Dan Ilmu itu bukan untukmu sendiri
Tapi ialah untuk anak cucumu, untuk bangsa Indonesia,untuk  rakyat Indonesia,
untuk tanah air Indonesia, untuk Negara Republik Indonesia”.

Potret mahasiswa kekinian menunjukan kondisi yang paradoksial, semakin kuat pesan sejarah semakin menjamur budaya hedonism, pragmatisme, disintegrasi elemen-elemn strategis (mahasiswa aktifis yang tercerai berai), dan sederetan pathology ke-diri-an mahasiswa yang tidak kunjung usai.

Eric Fromm, dalam uraiannya menyebutkan bahwa tercerabutnya kohesi sosial  dan alienasi dalam kepribadian manusia merupakan akibat yang menyolok dari teknologi dan kapitalisme, Adorno menyebutnya sebagai kepribadian yang otoriter. Mahasiswa seakan kehilangan identitasnya, sikap ramah dan rasa sosial yang tinggi yang pernah dibuktikan oleh funding father negeri ini hanyalah menjadi senjata pamungkas diforum-forum kajian.

Fenomena ini memperkuat hipotesis kita bahwa, sebagian dari kita tidak mengenal (tidak mau membaca)sejarah sehingga epistemology pergerakannya (baca eksistensi kemahasiswaannya) pun berbeda-beda (Kacau balau).

Ada yang menterjemahkan bahwa menjadi mahasiswa itu sekedar melewati anak tangga untuk meraih gelar, ada yang sekedar memenuhi kebutuhan berafiliasi, ada yang sekedar mempromosikan kehebatan status sosialnya (ada yag menyebut kampus selebriti), ada yang berpenampilan berantakan tidak terurus (mugngkin karena tafsirnya soal term ‘Kiri’).

Realitas ini menggambarkan bahwa masing-masing dari mereka berusaha menjawab ‘Bagaimana menjadi mahasiswa?’ sehingga melahirkan jawaban yang tergambar dalam fenomena di atas. Kalimat ‘Bagaimana menjadi mahasiswa? Menunjukan perihal epistemology.

Perbedaan itu adalah sunatullah, apalagi menyangkut dengan sisi-sisi eksetoris (luar). Namun secara alamiah kita memiliki taggungjawab yang sama, yakni Agen of change and Social control. Ini adalah amanah yang dikwatirkan oleh funding father jika nanti kita tidak mampu mengembannya.

Saatnya harus menyatukan kerangka epistemology pergerakan yang bersumberdari nilai-nilai senasib sepenanggungan yang dicontohi oleh sejarahwan Republik ini.

Sebagai agen perubahan dan pengontrol social, kita harus membangun kesadaran kritis terhadap perbudakan ala hedonism, pragmatism, dan kritis atas system pendidikan pasif yang mencekik proses pendidikan di Republik ini.

Hukum identitas mengajarkan bahwa kita (Mahasiswa) tidak sama dengan budak, kita tidak sama dengan selebritis, kita tidak sama dengan preman, dan kita juga tidak sama dengan ‘calengan’ yang hanya menerima pengisian pengetahuan oleh pendidik, meminjam ungkapan  Freire bahwa pola ini akan membentuk corak masyarakat kerucut menuju the culture of silent (Baca Muh. Hanif Dhakiri, ‘Paulo Freire, Islam dan Pembebasan’)

Kita dituntut untuk mengembalikan identitas kita sesungguhnya. Mahasiswa adalah sama dengan Mahasiswa itu sendiri. Sebagai konsekuensinya kita wajib berkarya sebagai agen of change and social control.

Tranformasi ini tentunya dimulai dari membangun kesadaran kritis masing-masing kemudian merekayasa struktur dinamika kampus sebagai wadah pembelajaran yang lebih manusiawi.

Berbagai konflik horizontal dan keterpecahan kohesi social dalam kehidupan bermasyarakat adalah cermin kegagalan kaum muda (mahasiswa) sebagai agen of change and social control.

Sebagai langkah membangun kesadaran kritis, maka gerakan merekayasa tradisi kajian dan diskusi  dikampus-kampus harus diperkuat, polanya harus kontekstual dengan corak mahasiswa dikampus.

Sehingga mereka (mahasiswa) yang kita sebut hedonis, pragmatis, fungsionaris, kutu buku dan lainnya merasa simpatik dan memiliki keterpanggilam moril untuk menciptakan suasana kampus yag lebih kondusif.

Disisi lain, mereka yang disebut aktifis di dalam elemen-elemen strategis harus memperkuat lintas perjumpaan antar sesama(coordination power). Ikhtiar ini memungkinkan kita dipertemukan dalam suatu kerangka epistemology pergerakan yang selaras dengan tuntutan nilai-nilai keumatan, kemahasiswaan dan kebangsan.  Semoga.!

“Maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan yang terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup”

Bagikan :