Saraswati Learning Center Memperingati Hari Autisme Internasional

Bagikan :

Mediapatriot.co.id — Jakarta — Saraswati Learning Center (SLC) memperingati hari autisme internasional bersama para siswa dengan jalan santai bersama para guru dan orang tua siswa sambil membagikan brosur pada masyarakat sekitar, di Jakarta Pusat, Selasa, (02/04/2019).

Menurut Reshma Wijaya Kepala sekolah dan pendiri SLC jalan santai bersama para guru dan orang tua siswa sangat membantu para siswa agar lebih percaya diri dan mampu melakukan sesuatu seperti anak- anak lain. Walaupun berbeda mereka tidak boleh dikucilkan dari masyarakat. Mereka berjuang agar bisa diterima di komunitas , mereka punya suara tapi tak bisa mengungkapkan dengan menyebar poster berarti menyebar rasa kepedulian.

“Di hari autisme internasional ini mereka mengerti dan sangat senang, jalan santai beramai-ramai bersama para guru dan orang tua membuat mereka senang walaupun ada beberapa nampak kelelahan namun dari raut wajah terpancar kebahagiaan. Di sekolah juga dipajang hasil-hasil karya mereka seperti perhiasan, gelang, buku catatan, dompet , tas tangan, cemilan dan lain-lain,” ujar Reshma.

Fenny salah seorang orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya di SLC mengatakan ia memilih SLC karena di SLC sudah dipadukan antara pendidikan dan therapy jadi lebih memudahkan para orang tua siswa. “Di SLC anak- anak kami lebih diperhatikan karena satu guru maksimal menangani tiga orang siswa. Anak saya Kayla umur 4 tahun , sejak umur 2 tahun menunjukkan tanda- tanda autisme. Disini disediakan psikolog dan kami punya komunitas untuk berbagi rasa sesama orang tua yang anaknya autis,” ungkapnya.

Anggriana Angguningtyas M.Psi, seorang Psikolog yang mendampingi para siswa di SLC juga menjelaskan pentingnya penanganan dini pada anak-anak yang tidak bisa berinteraksi sosial dan cenderung tidak bisa kontak mata saat berbicara dengan orang lain. Karena tampilan fisik mereka tidak ada bedanya dengan anak normal. Para pengidap autis sebenarnya bisa saja disekolahkan di sekolah umum, namun perilaku yang cenderung menyendiri dan tidak bisa berinteraksi dengan orang lain bisa di ‘Bully’ oleh teman-temannya yang normal dan bisa menyebabkan depresi tanpa disadari oleh orang tua. Dalam hal kecerdasan memang bisa sama/setara dengan anak-anak lain cuma perilaku yang cenderung penyendiri tidak peduli orang-orang sekitar dan lingkungan . Jadi disarankan agar orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah khusus agar bisa bersosialisasi dengan teman- temannya dan tidak dianggap berbeda karena di sekolah khusus akan ditangani oleh para pengajar yang lebih sabar bisa mengarahkan perilaku juga ada therapy dan didampingi psikolog.
(fri)

Bagikan :