PETA POLITIK MASIH KOMPETITIF

Bagikan :

Voxpol Center Research and Consulting menyelenggarakan survey pada 18 Maret- 1 April 2019 dengan mengunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei adalah 1.600 dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar ± 2,45% pada tingkat kepercayaan 95%.

Survey ini menjangkau 34 provinsi secara proporsional berdasarkan data jumlah populasi pemilih terakhir. Pengumpulan data dilakukan oleh pewawancara terlatih melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terhadap responden yang telah terpilih secara acak. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih.

Dilakukan Quality Control sebanyak 20% dari total jumlah sampel secara acak (random), dengan cara mendatangi kembali responden terpilih dan mengkonfirmasi ulang responden terpilih (hot spot checking).

Survei ini bertujuan untuk menganalisis tingkat popularitas, likeabilitas dan elektabilitas Parpol dan Capres-Cawapres dalam PEMILU serentak tanggal 17 April 2019 mendatang, Menganalisis persepsi dan harapan masyarakat Indonesia terhadap Parpol dan Capres-Cawapres.

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam menentukan pilihan politik, Menganalisis pandangan masyarakat tentang berbagai masalah fundamental di bidang sosial, ekonomi, politik serta kebijakan-kebijakan pemerintah.

Temuan pokok dan analisis hasil survei ini dapat dijelaskan sebagaimana berikut:
Pertama: Dari segi elektabilitas menunjukkan peta politik semakin kompetitif, selisih elektabilas kedua pasang kandidat sudah semakin dekat. Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih memimpin dengan perolehan 48,8 persen dan pasangan Prabowo-Sandi 43,3 persen dengan 7,9 yang masih belum menentukan pilihan (Undecided Voters). Itu artinya, selisih elektabilitas kedua pasangan ini hanya terpaut 5.5 persen, kedua kandidat dan tim suksesnya harus bekerja keras mengamankan peluang memenangkan kontestasi 17 April 2019 yang tinggal menghitung hari.

Kedua: survei ini juga menunjukkan bahwa jika pemilu legislatif dilaksanakan saat survei ini, maka dua partai formatur (pengusung kandidat Capres) mendapat pengaruh coattail effect, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) (24.1%) adalah partai yang paling dipilih publik, disusul Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) (19.3%). Elektabilitas partai-partai di luar kedua partai tersebut berada di bawah 10%. PDI-P dalam hal ini berpotensi kuat sebagai pemenang pemilu 2019 karena selain mempunyai asosiasi kuat terhadap figur presiden incambent Jokowi, penyerentakan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019 (pemilu serentak) menciptakan bekerjanya struktur coattail effect, yaitu potensi tergiringnya suara pemilih capres terkuat untuk memilih partai pengusung/pendukungnya.

Pada posisi berikutnya Partai Golongan Karya (Golkar) (9.5%), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)(6.1%), Partai Demokrat (PD) (5,7%), Partai Nasional Demokrat (NASDEM) (4,3%), Partai Amanat Nasional (PAN)(4,1%). 7 partai ini memenuhi ambang batas parlemen 4% dipastikan berpotensi lolos ke senayan. Sementara itu PKS, PPP dan HANURA sebagai partai lama teracam crashed dari parlemen jika tidak mampu merebut hati undecided voter.

Namun masih ada beberapa partai yang berpeluang lolos kesenayan dengan mempertimbangkan margin of error, PKS (3.9 %), Perindo (3.3%), PPP (2.9%), Perindo menjadi satu-satunya partai baru yang punya peluang besar lolos ke senayan. Sisanya partai-partai lain elektabilitasnya di bawah 2%, Hanura (1,1%), PBB (0,3%), PSI (0.2%), Berkarya (0.2%), PKPI (0,1), Garuda (0,1).

Ketiga: Survey ini juga menunjukkan peta politik masih dinamis dan kompetitif, hal ini bisa ditinjau dari angka strong voters baik di pemilih capres maupun pemilih partai politik, Jokowi-Amin maupun Prabowo-Sandi memiliki tingkat loyalitas pemilih di bawah 50 persen dengan persentasi strong voter masing-masing sebesar 43.1 persen untuk Jokowi-Amin dan 40.9 untuk Prabowo-Sandi.

Rendahnya angka strong voters ini akan mempengaruhi peta politik secara luas dan akan berpotensi merubah peta politik secara drastis, di sisi lain pemilih kita juga masih cair, partai ID kita juga masih rendah, relatif kecil pemilih setia dalam partai, biasanya faktor figur menjadi dasar pertimbangan mereka memilih.

Semakin tinggi angka strong voters kandidat atau partai politik maka semakin besar peluang meraih dukungan yang lebih besar. Pergeseran pilihan politik dari pemilih masih mungkin terjadi, kepastian pemilih terhadap pilihannya baru akan ditentukan pada saat mencoblos di bilik suara (27,9 %), melihat penampilan kandidat pada saat debat terahir (22,1%), sebelum berangkat ke TPS (19,7%), dan menunggu calon memberikan hadiah/sembako/uang (13,1%). Itu artinya masih banyak faktor yang bisa mengintervensi pilihan politik ini, di antaranya tokoh Agama (21,7%), Lurah/kades (10,4%) keluarga (8,9%), tokoh partai (7,6%).

Oleh karena itu, kalau pilpres diselenggarakan hari ini, di atas kertas Jokowi masih unggul, sang penantang memang belum bisa melewati angka elektabilitas Jokowi. Namun pada hari H masih banyak faktor-faktor lain yang bisa mengubah peta politik elektoral seperti asupan swing voter, split undecided voters, golput, ditambah angka margin of error, isu dan money politik serta logistik lainnya. Dengan demikian, baik Jokowi maupun Prabowo pada hari pencoblosan sama-sama punya peluang “menang” dan sama-sama punya peluang “kalah” dalam pertarungan pilpres.

Tiap lembaga survei mungkin memiliki hasil yg berbeda karena berpengaruh pada waktu pelaksanaan survei, dalam rentang waktu itu tentu banyak peristiwa politik dan isu yang berkembang di lapangan, dan kedua tim sukses paslon sama-sama melancarkan strategi dalam meraih dan memenangkan hati rakyat.

Breadly effect mungkin juga terjadi, ketidak jujuran responden pada saat menjawab survei, dalam proses pemilihan Tom Breadley, mantan Walikota Los Angles AS tahun 1982. Effect breadly muncul karena dua hal
Pertama; pemilu yang sangat sengit/ kompetitif. Kedua; pelabelan negatif kandidat yang berdampak terhadap pemilih.

Dewa elektoral, penentu kemenangan undecided voters sebesar 7-13 persen setara belasan hingga 20 juta pemilih, angka yg besar dan bisa mengubah arsitektur kemenangan dan peta politik kedepannya ( Edi )

Bagikan :