Saling Adu ‘Pengaruh’ Antara KH Ma’ruf Amin Dengan Habib Rizieq Shihab Di Pilpres 2019

Bagikan :

Sebuah Opini

*) Oleh Ichsan Indradewa

Mediapatriot.co.id –Jakarta — Dinamika politik nasional menjelang hari pemilihan umum 17 April 2019 sangat terasa panas di tatanan masyarakat. Panasnya situasi yang berkembang di masyarakat tidak terlepas dari isu-isu yang mengancam eksistensi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Isu negara khilafah yang dihembus oleh kelompok tertentu disinyalir dapat memicu perpecahan anak bangsa sekaligus menghancurkan kebhinekaan yang sudah dirawat bertahun-tahun lamanya.

Tidak luput dari termakannya isu tersebut Cawapres KH. Ma’ruf Amin pun kerap terlihat turut merespon bagaimana bahayanya jika negara ini betul-betul terwujud sistem khilafah yang akan diterapkan jika Prabowo Sandi menang dalam pemilihan mendatang. Sosok ini tidak ada rasa lelahnya berkunjung dari daerah satu ke daerah lain hanya untuk minta dukungan masyarakat agar memilih dirinya dan Joko Widodo untuk menjadi pasangan jadi, presiden dan wakil presiden yang tetap berkomitmen menjaga keutuhan NKRI.

Kiyai Ma’ruf adalah tokoh senior dan dihormati dikalangan warga Nahdiyin. Dunia politik praktis sudah menjadi makanannya sehari-hari. Pengalaman panjangnya di dunia politik dijalaninya sejak sangat muda, konsisten mengusung karakter kenahdiyinannya. Wajar jika dirinya sebagai cawapres representasi NU mengklaim bahwasanya dirinya akan didukung oleh 90 juta warga Nahdiyin yang tersebar dari desa dan kota bahkan hingga di luar negeri. Ketokohan kiyai Ma’ruf sebagai representasi NU dalam pemilu kali ini tidak bisa dipandang sebelah mata oleh kubu Prabowo Sandi. Meski sudah uzur dan kondisi kesehatan beliau yang sudah dalam pengawasan dokter tapi semangat dan perjuangannya tidak pernah kendor untuk memenangkan pertarungan ini. Keyakinan kiyai Ma’ruf akan didukung warga Nahdiyin tercermin dari sejarah pemilihan umum di Indonesia sejak pemilu 1955 hingga pemilu paska reformasi, perolehan suara Nahdiyin cenderung tidak bergeser pada figur-figur tokoh NU yang diusung. Dari sisi inilah kiyai Ma’ruf sangat yakin bahwa beliau dan Jokowi akan mendapat dukungan penuh dari warga Nahdiyin.

Sebaliknya dengan Habib Rizieq yang mengambil sikap berbeda dengan kiyai Ma’ruf. Pendiri Front Pembela Islam ini memilih mendukung Prabowo Sandi yang dinilai akan lebih mengakomodir kebutuhan umat Islam dalam kebijakan politik jika Prabowo yang keluar sebagai pemenang dalam pertarungan ini.

IJTIMA’ ULAMA sebagai aspirasi umat islam menjadi produk berkualitas tinggi yang tidak akan roboh meski dihadang oleh kekuatan apapun yang berusaha mempengaruhi untuk bergabung dengan kubunya kiyai Ma’ruf.
IJTIMA’ Ulama bisa dikatakan sebagai sandaran utama Prabowo Sandi dalam menggapai cita-cita luhur untuk menata ulang kebijakan nasional yang pro rakyat.

Pengaruh Habib Rizieq terbukti kuat ketika kampanye Akbar Prabowo Sandi di GBK diberi ruang istimewa untuk menyampaikan maklumat ulama kepada pasangan Prabowo Sandi meski hanya melalui teleconfrens. Sungguh nampak Habib Rizieq masih mempunyai daya Magnit yang luar biasa. Luapan massa terbesar dalam sejarah kampanye politik tanah air tidak bisa dipisahkan dari pengaruhnya. Sedari awal figur ini konsisten menentang pemerintahan Jokowi yang dinilai jauh dari kebijakan yang pro umat.

Dari sinilah Habib Rizieq menjadi tokoh paling kontroversial dalam sejarah politik ulama saat ini. Kiyai Ma’ruf dan Habib Rizieq adalah sama-sama warga Nahdiyin penganut Mazhab Syafi’i. Mereka berdua berbeda pandangan politik bukan bertujuan untuk memecahkan bangsa, tetapi lebih menjaga umat Islam sebagai pilar utama dalam menjaga keutuhan bangsa.Mari kita lihat nanti. (fri)

*) M. Ichsan Indradewa. Founder Ciswani Insani Foundation dan Pemerhati Sosial.

Bagikan :