Longky : Haul Ke 51 Guru Tua Merupakan Simpul Kebangsaan Dalam Merajut Persatuan

Bagikan :

PALU BARAT, PALU, SULAWESI TENGAH, mediapatriot.co.id_Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Drs. H. Longky Djanggola, M.Si, menegaskan bahwasanya pelaksanaan Hari Ulang Tahun (Haul) ke 51 pendiri Alkhairaat, Habib Syaied Idrus Bin Salim Aljufri atau sering dikenal Guru Tua, merupakan suatu simpul kebangsaan yang berperan merajut persatuan dan menghubungkan kembali para elemen bangsa, kaum muslimin dan muslimat dari seluruh daerah di Indonesia.

“Bukan hanya berbicara lokal di Sulteng atau regional Pulau Sulawesi saja, tapi sekali lagi secara nasional. Seluruh daerah dan pulau di nusantara, yang saat ini dihadiri para perwakilannya dan saling terhubung, terikat dalam ikatan emosional spiritual lahir dan batin di Kota Palu, Sulteng,” ungkapnya saat memberikan sambutan pada peringatan Haul ke 51 Guru Tua, Sabtu (15/06), di Kompleks Alkhairaat, jalan Sisaljufri, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Longki menyatakan peringatan Haul kali ini agak berbeda dibanding sebelumnya. Dimana baru saja digelar perhelatan akbar demokrasi pada 17 April 2019 lalu.

“Perhelatan demokrasi tersebut amat penting dan menentukan bagi perjalanan bangsa untuk masa 5 tahun mendatang, yaitu pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019,” katanya.

Longki meyakini dan percaya para jamaah yang hadir sudah menunaikan dengan baik hak politik dalam menentukan figur ideal yang diyakini amanah, integritas dan punya kapasitas yang melebihi dalam memikul tugas politik bangsa dan negara.

“Sekarang waktunya bagaimana kita saling menghormati, tetap akur, bisa duduk bersama lagi membangun dialog komunikasi, dan bekerjasama secara Intens guna menyelesaikan berbagai pekerjaan bangsa yang tidak bisa ditunda terlalu lama, dan merupakan tugas pokok kita sesuai profesi masing-masing,” urainya.

Disamping itu, lanjutnya, Sulteng, khususnya di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, 8 bulan lalu, tepatnya pada 28 September 2018, tertimpa bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang membuat banyak korban jiwa.

“Sehingga dalam rangka memperingati haul Al Mukarom Habib Idrus ke-51saat ini kita tidak lagi bertemu dengan para saudara kita yang telah menjadi korban pada bencana tersebut,” paparnya.

Selain itu, Longki menegaskan dukungannya terhadap peningkatan status Guru Tua untuk memperoleh gelar pahlawan nasional.

“Saya harap semua kelengkapan data, dokumentasi, rekam jejak dan memorabilia perjuangan peninggalan Guru Tua yang autentik dipersiapkan dengan baik dan lengkap. Untuk itu, saya juga mohon dukungan dari para tokoh nasional yang hadir saat ini kiranya ikut mengawal dan membantu perjuangan tersebut termasuk pengurus AlKhairat,” tegasnya.

Longky juga berpesan kiranya Alkhairaat dapat dilibatkan dan diikutsertakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena Alkhaerat bukanlah orang sembarangan, akan tetapi adalah pemikir Islam yang moderat, inovatif yang sinergi dan mampu menterjemahkan ajaran Islam secara utuh baik kontekstual maupun komprehensif.

“Sehingga dengan narasi persuasif yang dibangun bisa meresap masuk ke semua lini dan ikut diterima dengan baik oleh semua lapisan,” tegasnya.

Longky menambahkan, Guru Tua merupakan sosok yang sangat nasionalis. Hakikat ajarannya sarat dengan nilai kepahlawanan sejati baik pikiran, sikap dan perilaku perjuangan yang mengandung mutu dan jasa pengabdian tulus ikhlas serta pengorbanan tanpa pamrih demi memajukan bangsa dan negara Indonesia melalui dunia pendidikan.

“Guru Tua turut memajukan bangsa dan negara Indonesia melalui dunia pendidikan, sosial, budaya dan kemasyarakatan dengan pendirian perguruan Islam Alkhairat. Perguruan ini sampai sekarang masih eksis dan Insya Allah hadir memberi sumbangan terbaik sepanjang hayat sampai hari kiamat,” pungkasnya.(dewi/adm)

Artikel ini sebelumnya terbit di tadulakonews.com

Bagikan :