MEMBONGKAR PERDAGANGAN ORANG DEMGAN MODUS PENGANTIN PESANAN

Bagikan :

Alumn untuki DPT, SBMI, LBH Jakarta, Jaringan Buruh Migran mengadakan Konferensi pers, Minggu (23/6/2019), di LBH Jakarta, Jalan Diponegoro no.72, Menteng, Jakarta Pusat, pukul 12.00 wib.

4 fakta korban perdagangan orang dengan modus kawin kontrak antara lain; 1.Korban dijadikan bisnis oleh Agen dengan harga Rp.400 juta, korban hanya diberi Rp. 20 juta
2. Korban ditipu akan menikah dengan orang kaya, faktanya tidak
3. Korban, ditipu setelah kawin 1 atau 2 bulan bisa pulang, faktanya tidak bisa.
4. Korban harus kerja dari jam 7 pagi s/d 6 sore, lalu kerja lagi sampai jam 9 malam, tidak seperti ibu rumahtangga pada umumnya.

Fakta perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan antara lain;

1. Perkawinan sesama Chinese di RRT, biayanya 2 Miliar, maka memilih yang lebih murah dinegara lain.
2. Biaya pengantin pesanan di Indonesia dihargai 400 juta oleh agen, untuk pengantinnya 20 juta.
3. Jaringan Agen ada diberbagai negara termasuk di Indonesia.
4. Agen memiliki jaringan perekrutan hingga desa-desa.
5. Agen juga memiliki d wali nikah palsu, even pertunangan, melibatkan ASN, Dukcapil, imigrasi dan lainnya.

Menurut Bobi Anwar dan Mahadir Muhammad dari SBMI, perdagangan orang modus pengantin pesanan di Tiongkok sudah ada kelompok mafia yang bekerjasama dengan para Agent di Indonesia seperti Pontianak dan Jawa barat, ada korban 29 WNI yang menjadi pengantin pesenan baru 13 orang yang dibebaskan, dan pernah mengagalkan keberangkatan pesenan pengantin sekitar 60 korban tapi dicegah keberangkatan di China kerjasama dengan Polisi di Pontianak.

Sekitar pukul 18.00wib, SBMI dan Persada Indonesia bekerjasama dengan Polresta Bandara Soekarno-Hatta berhasil menangkap tangan terduga pelaku tindak pidana perdagangan orang dengan modus Pengantin Pesenan.

Pada saat dimintain keterangan Mario sebagai pelaku tersangka yang membawa 2 orang korban yang terindikasi akan dibawa ke Tiongkok, mengelak dan tidak mengakui depan polisi, namun setelah polisi mendapatkan bukti 4 paspor, surat keterangan catatan sipil, Mario akhirnya mengaku bahwa dirinya diperintahkan oleh teman orangtuanya untuk mengurus visa, selanjutnya mengatur penerbangan ke Tiongkok.

Dua korban bernama Dewi dan Yuli warga Pontianak, mengaku bahwa semua dokumen dipegang oleh Mario, dan setelah selesai mengurus visa akan diberangkatkan ke Tiongkok untuk menemui pacarnya.
Hingga saat ini, pelaku dan korban masih dimintai keterangan oleh Penyidik Polresta Bandara Soekarno-Hatta.(Ine)

Bagikan :