Ribuan Masyarakat Lintas Agama di Kota Bekasi Gelar Silaturahmi Akbar

Bagikan :

Kota Bekasi, MPI
Ribuan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan hadir dan menegaskan komitmen bersama menjaga kesatuan bangsa di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sabtu (7/7/) pagi.

Mereka duduk bersama dan mengeliling area Monumen Perjuangan Rakyat Bekasi bersama unsur pimpinan daerah, diantaranya Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Indarto, Dandim 0507/Bekasi Letkol Arm Abdi Wirawan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama H Abdul Manan dan para tokoh dari pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu.

Monumen Perjuangan Rakyat Bekasi di Alun-Alun Kota Bekasi seperti menjadi saksi digelarnya silaturahmi akbar ini selepas pesta demokrasi, yakni Pemilu 2019.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menghimbau agar tidak ada lagi perbedaan pilihan pada Pemilu 2019 lalu.  “Sudah tidak ada nomor satu atau nomor dua. Yang ada sekarang dalam lima jari, salam pengendalian untuk bersama membangun Kota Bekasi dan semata mensejahterakan masyarakatnya,” katanya.

Wali Kota mengatakan Tugu Perjuangan Rakyat Bekasi ini banyak historikal didalamnya. Dan di Tugu Perjuangan Rakyat Bekasi kembali digelar hal serupa demi menguatkan komitmen bersama merajut kedamaian dan menjalin persatuan di Kota Bekasi.

“Menjadi tugas kita bersama merawat dan menjaga bukti sejarah perjuangan bangsa dan anak Kota Bekasi. Saya ingin monumen ini diperbagus dan ditinggikan hingga 5 meter seperti tugu Capitol di Amerika,” papar Wali Kota.

Diketahui, pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam rangka memperingati HUT Ke-10 Republik Indonesia dan HUT Ke-5 Kabupaten Bekasi diresmikan pada 5 Juli 1955 lalu. Pembuatannya berkaitan dengan beberapa peristiwa yang terjadi di Bekasi diantaranya peristiwa bulan Agustus 1945 dan peristiwa awal Februari 1950.

Peristiwa ketiga berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Bekasi yang mandiri. Pendirian itu bermula dari rapat umum di Alun-Alun Bekasi yang dihadiri elemen tokoh dan masyarakat Bekasi, termasuk ulama-pejuang KH. Noer Ali. Rapat yang menghasilkan “Resolusi Rakyat Bekasi” itu dibawa Panitia Amanat Rakyat Bekasi ke Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) cum Wakil Presiden RI Mohammad Hatta.

Pemerintah pusat lalu mengabulkan permintaan warga Bekasi. Daerah Bekasi yang tadinya merupakan bagian dari Kabupaten Jatinegara sejak itu berubah jadi Kabupaten Bekasi dengan “payung” Undang-Undang Nomor 14 tahun 1950 tertanggal 15 Agustus 1950. Tanggal itu lalu dijadikan hari lahir Pemkab Bekasi.

Beberapa tokoh agama yang memberikan sambutan tiap masing-masing agama mengatakan bahwa acara silaturahmi forum kerukunan umat beragama ini adalah suatu momen penting terkait keberadaan Kota Bekasi sebagai miniatur keberagaman agama. Tidak hanya itu, pemuka agama dari umat Kristen sempat memuji Wali Kota dan Wakil Wali Kota atas rasa bertoleransi umat yangbtelah dibangun, kita akan tetap tradisikan budaya ini sampai anak cucu kita nanti. (Ham/Adv)

Bagikan :