Bareksa Meluncurkan Menabung Reksadana Untuk Umroh Pertama Di Indonesia

Bagikan :

Mediapatriot.co.id — Jakarta — PT Bareksa Portal Investasi, yang mengoperasikan marketplace investasi terintegrasi Bareksa.com, meluncurkan Bareksa Umroh. Platform Bareksa Umroh menawarkan layanan rencana simpanan di reksadana syariah untuk membiayai perjalanan ibadah umroh.

Rani Sumarni, Chief Sales & Marketing Bareksa, mengatakan bahwa Bareksa Umroh adalah inovasi pertama di Indonesia untuk menabung online reksa dana dengan diintegrasikan tujuan menjalankan ibadah umroh. Layanan Bareksa Umroh memberikan 5 keuntungan: aman, halal, online, terpercaya dan terpadu.

“Kami ingin mengedukasi bahwa reksadana itu dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan keuangan jangka pendek hingga jangka panjang, termasuk tujuan spesifik seperti pergi umroh. Reksadana adalah instrumen investasi yang sangat mudah, fleksibel dan terjangkau. Selain itu, reksa dana syariah menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dari deposito, dan berdasarkan prinsip syariah yang tanpa riba,” jelasnya dalam peluncuran Bareksa Umroh di sebuah resto di Jakarta Selatan, Rabu, (10/07/2019).

Dalam menyediakan layanan menabung yang terintegrasi dengan tujuan umroh ini, Bareksa bekerja sama dengan mitra biro perjalanan umroh dan haji yang telah memiliki reputasi dan pengalaman di bidangnya. Mitra travel agent pertama Bareksa Umroh adalah Al-Qadri Umroh dan Haji yang telah berpengalaman mengelola perjalanan ibadah haji khusus dan umroh sejak tahun 1976.
Ahmad Fadjrie, Direktur Pengembangan Bisnis Al-Qadri Umroh & Haji, mengatakan Al-Qadri berkomitmen untuk selalu membantu dan mendampingi jemaah dengan profesional dan amanah. “Kami menyajikan paket haji khusus, umroh dan wisata muslim dengan kualitas pelayanan terbaik, profesional dan amanah.”
ujarnya.

Arfi Hatim, Direktur Pembinaan Umrah dan Haji Kementerian Agama, menyambut positif peluncuran platform Bareksa Umroh karena diharapkan bisa membantu mengedukasi para jemaah agar tidak menjadi korban penipuan. Selain itu, memastikan layanan yang diberikan kepada jemaah terjamin mulai dari keberangkatan hingga pulang kembali ke Tanah Air.

“Yang menjadi perhatian pemerintah adalah calon jemaah dan jemaah dapat terlindungi dengan baik selama perjalanan dan dalam melakukan ibadah umroh. Mereka juga mendapatkan kemudahan dan kualitas pelayanan terbaik dalam perjalanan sehingga dapat menunaikan ibadah dengan khusuk.” tuturnya.

Berkaitan dengan potensi umroh di Indonesia, Kementerian Agama menilai jumlah jemaah umroh akan terus bertambah. Pertumbuhan ini berkaitan dengan kuota haji Indonesia yang sangat terbatas. Kuota haji Indonesia pada 2018 terbatas hanya 221.000 orang, atau hanya 0,1 persen dari jumlah penganut Islam Indonesia yang sekitar 226,2 juta jiwa menurut data Bank Dunia.

Menurut data Kementerian Haji dan Umroh Kerajaan Arab Saudi, jumlah jemaah umrah Indonesia mencapai 1,1 juta orang pada 2018, naik 25 persen dibandingkan 875.958 jemaah pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan pada 2018 tersebut sama dengan tingkat pertumbuhan pada 2017 yang sebesar 25 persen juga.
Jumlah jemaah umroh yang besar ini tidak seiring dengan jumlah penyedia jasa perjalanan umroh yang profesional dan berizin resmi. Data Kementerian Agama mencatat jumlah Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) terdaftar dan berizin hanya sebanyak 1.015 per Maret 2019. Rasionya adalah 1 penyelenggara berbanding 1000 lebih jemaah.
Dengan demand (permintaan) yang sangat besar, sementara penyedia layanan resmi terbatas, dalam beberapa tahun belakangan banyak terjadi kasus penipuan umroh. Penipuan ini ada yang menyediakan paket umroh murah, tetapi ternyata produknya tidak resmi.

Reksadana adalah produk investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oleh karena itu, reksa dana bisa dijadikan alternatif menabung untuk tujuan umroh yang aman, dan menghindarkan para calon jemaah dari berbagai kemungkinan kasus penipuan investasi hingga kegagalan berangkat karena manajemen yang tidak baik.
Reksadana syariah memiliki potensi besar di negara dengan populasi muslim terbesar ini. Menurut data OJK, per Juni 2019, nilai dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana syariah di Indonesia telah mencapai Rp33,06 triliun. Angka ini merupakan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp14,91 triliun pada akhir 2016.
OJK juga mencatat, jumlah reksadana syariah yang beredar di Indonesia saat ini sebanyak 256 produk per Juni 2019. Jumlah itu meningkat pesat dibandingkan dengan 136 produk pada akhir 2016.

*Tentang Bareksa*

Bareksa adalah marketplace investasi terintegrasi pertama di Indonesia, yang telah mendapat lisensi resmi sebagai Agen Penjual Reksadana dari Otoritas Jasa Keuangan sejak 2016. Kini, Bareksa menjual lebih dari 180 produk reksa dana dari 36 manajer investasi di Indonesia dan kini Bareksa sudah punya hampir 500.000 nasabah investor reksadana. Selain menjual produk reksadana, Bareksa juga merupakan salah satu mitra distribusi yang dipercaya oleh Kementerian Keuangan untuk menjual Surat Berharga Retail secara Online. Selain itu di Bareksa juga menyediakan konten artikel yang update setiap harinya membahas mengenai keuangan dan investasi. (fri)

Bagikan :