Pencegahan Kawin Anak Untuk Mewujudkan Keluarga Yang Berkualitas Disampaikan Dalam Diskusi Publik Polemik Pernikahan Dini Dan Sedarah

Bagikan :

Jakarta – Dalam Rangka Memperingati Hari Anak Nasional serta menindaklanjuti atas maraknya isu Perkawinan Anak dan perkawinan Sedarah yang terjadi di berbagai daerah di tanah air, MPC Pemuda Pancasila Jakarta Timur kerjasama dengan BKKBN dan Kementerian PPPA RI menggelar  Diskusi Publik “Stop Perkawinan Dini dan Stop Perkawinan Sedarah ” dengan tema diskusi: *Polemik terhadap pandangan Agama, Hukum, Kesehatan, Psikologi dan Tatanan Keluarga dalam Memperkokoh 4 Pilar Kebangsaan*

Kegiatan tersebut dilaksanakan (Jum’at/26/7 2019) di Kementerian PPPA RI Lt. 11. Jl. Medan Merdeka Barat .

Awalnya dijadwalkan hadir sebagai Keynote Speech adalah H. Bambang Soesatyo, S.E. MBA (Ketua DPR RI) dan Yohana S Yembise Menteri Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak RI.  Namun keduanya tidak hadir. Dr H. M. Dian Assafri SH, Mhum selaku ketua panitia telah meminta maaf kepada peserta atas ketidak hadiran Ketua DPR RI dan Menteri PPPA tersebut.

Sementara itu Narasumber lain juga hanya mengutus perwakilannya yakni Kepala BKKBN RI, Direktur Rehsos Kemensos RI dan Direktur Bina KUA & Keluarga Sakinah Kemenag RI.

Mereka antara lain: Rohika Kurniadisari selaku Perwakilan Kementerian PPPA, DR. Ade Iva Murty selaku Dekan Fakultas Psikologi Univ. Pancasila, DR. Matailam Endra selaku Perwakilan BKKBN , DR. Cup Santo selaku Perwakilan Kemensos RI,  Anwar selaku Perwakilan Kemenag RI  Dan Dian Assafri selaku Sekjen Gema Kosgoro.

Dian Assafri mengatakan bahwa diskusi ini didasari atas keprihatinan banyaknya terjadi pernikahan sedarah dan pernikahan dini yang sempat menghebohkan dan meresahkan masyarakat di beberapa tempat serta adanya kasus anak SD menikah dengan anak SMP di Banyuwangi.

“Dengan Diskusi Publik ini, MPC PP Jakarta Timur berharap ada solusi terbaik dalam menyikapi setiap persoalan yang sedang dihadapi anak bangsa. Kami ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara ini, inilah kepedulian kami sebagai anak bangsa,” ungkap Dian.

Di tempat yang sama, Ketua Umum MPC Pemuda Pancasila Jakarta Timur, Norman Silitonga,.SH, Mhum, mengungkapkan diskusi ini sebagai bentuk edukasi kepada.masyarakat bahwa kasus perkawinan dini dan perkawinan sedarah tidak boleh lagi terjadi.

” Kami berpendapat agama apapun melarang perkawinan semacam itu. Karena selain tidak sehat juga melanggar hukum , dan.adat istiadat. Kedepan saya berharap  tidak boleh terjadi lagi,” himbau Norman usai diskusi.

Ade Iva Murty, Dekan Fakultas Psikologi Univ. Pancasila menjelaskan, pernikahan sedarah adalah sebuah gangguan psikologis pelaku atau dalam bahasa psikolognya incest. Dalam kajian psikologis, pernikahan sedarah adalah seseorang menikah dengan saudara yang merupakan bagian keluarga dari sang ayah.

Menurutnya, Indonesia menduduki peringkat ketujuh sebagai negara yang angka pernikahan usia muda dibawah 15 tahun. Hal itu disebabkan beberapa hal, kata Ade, seperti ketidakpahaman akan kesetaraan gender, di mana jenis kelamin itu tidak bisa disamakan antara laki-laki dan perempuan.

Selain itu, lanjut Ade, nilai budaya dalam sebuah masyarakat, misalnya adanya anggapan bagi orang tua jika menikah lebih dari usia 20 tahun akan dianggap sebagai perawan tua. Bahkan, ada beberapa orang tua yang memanfaatkan anak sebagai alat mengatasi kesulitan ekonomi.

 

Undang-Undang yang Mengatur Perkawinan Sedarah

Pernikahan sedarah dan pernikahan dini menghebohkan di beberapa tempat. Padahal sudah ada Undang-Undang yang mengatur tentang hal itu.

Kasus yang meresahkan masyarakat itu, membuat organisasi masyarakat Pemuda Pancasila dari Jakarta Timur mengadukan ke Kementerian Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) di Jakarta Pusat.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia, hal itu dinilai melanggar UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pernikahan sedarah dilarang.

Dekan Psikologis dari Universitas Pancasila Ade Iva menyatakan pernikahan sedarah adalah sebuah gangguan psikologis pelaku atau dalam bahasa psikolognya incest. Dalam kajian psikologis, pernikahan sedarah dianggap saat seseorang menikah dengan saudara yang merupakan bagian keluarga dari sang ayah.

Peringkat Ketujuh Dunia

Pada acara diskusi publik bertema Stop Perkawinan Anak dan Stop Perkawinan Sedarahdengan tema diskusi Polemik terhadap pandangan Agama, Hukum, Kesehatan, Psikologi dan Tatanan Keluarga dalam Memperkokoh 4 Pilar Kebangsaan Ade juga menyinggung tentang pernikahan dini.

Dia mengatakan kalau Indonesia menduduki peringkat ketujuh sebagai negara yang angka pernikahan usia muda dibawah 15 tahun. Hal itu disebabkan beberapa hal, seperti ketidakpahaman akan keseteraan gender, di mana jenis kelamin itu tidak bisa disamakan antara laki-laki dan perempuan.

Selain itu, nilai budaya dalam sebuah masyarakat, misalnya adanya anggapan bagi orang tua jika menikah lebih dari usia 20 tahun akan disebut sebagai perawan tua. Bahkan, ada beberapa orang tua yang memanfaatkan anak sebagai alat untuk mengatasi kemiskinandalam keluarga.

Lebih lanjut, Ade mengatakan bahwa ada juga pengaruh tradisi yang melarang hubungan pacaran sangat mendorong untuk anakmelakukan pernikahan dini.

“Tradisi yang melarang hubungan romantis atau pacaran sangat mendorong anak untuk melakukan pernikahan dini. Biasanya remaja akan menikah lebih cepat,” ujar Ade di gedung Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Juli 2019.

Dia menyatakan beberapa penelitian  menunjukkan bahwa tingkat pernikahan dini kerap terjadi di tingkat provinsi, seperti Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, dan Sulawesi Selatan.

Hal itu didorong oleh tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, dan kurang terpaparnya pendidikan kesehatan reproduksi. Meskipun saat ini teknologisemakin canggih tidak menjadi menjamin masyarakat untuk mengakses kesehatan reproduksi akibat pernikahan usia dini.

Bagikan :