oleh

BNpB Peringati Hari Pramuka Dan Puncak Destana Tsunami Di Serang.

Bagikan :

SERANG – Kepala BNPB Doni Monardo bersama pejabat tinggi BNPB memperingati Hari Pramuka ke-58 di Kabupaten Serang, Banten (14/08), dihadiri seribuan Pramuka dari berbagai daerah bersama relawan penanggulangan bencana.

Dalam sambutannya Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, peristiwa Alam merupakan kejadian alam yang terjadi berulang pada periode yang akan datang.

” Mengenali ancamannya, siapkan strateginya dan tangguh menyelamatkan diri dari bencana,”.

“Solusi dari bencana tsunami adalah dengan melakukan pencegahan, salah satunya membuat benteng alam dengan menanam pohon, vegetasi vegetatif yang dapat dilakukan semua orang,” Ujar Doni.

Menyelamatkan jiwa manusia lebih banyak dengan meningkatkan kapasitasnya,” Salah satunya membuat kontijensi plan, memastikan koordinasi dan alur informasi yang sampai langsung kepada masyarakat serta simulasi,” Ucapnya.

” Suka atau tidak suka kita tinggal di daerah bencana. Seperti kejadian tsunami di Selat Sunda, peristiwa yang belum lama terjadi. Karena belum ada alat yang dapat memastikan kapan terjadinya gempa,” Tutur Kepala BNPB.

Doni mengajak agar kita lebih meningkatkan kesiapsiagaan bencana, karena Indonesia memiliki 190rb Km pesisir pantai. Dengan adanya keterbatasan personil dan anggaran, BNPB tidak dapat melakukannya sendiri.

“Karena urusan bencana menjadi urusan bersama, semua komponen harus berperan, seperti pentahelix. Masyarakat harus mulai sadar, memahami, dan memiliki daya yang lebih kuat agar tangguh menghadapi bencana” Himbau Doni.

Program destana selain menargetkan ke millenial, untuk disampaikan kepada orang tua mereka, kaum yang paling rentan, perempuan dan anak-anak. “Kedepannya akan kita lanjutkan,
Latihan juga tidak hanya siang hari, tetapi juga bisa simulasi di malam hari” kata Doni.

Pada pidato penutup, Kepala BNPB menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas peran relawan yang telah berpartisipasi dalam penanggulangan bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan.

Negara telah membangun dana yang besar dalam sistem peringatan dini. Namun menjadi tidak efektif ketika komponen peralatannya ada yang hilang seperti aki dan sebagainya Memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak, kedepannya dalam menjaga alat peringatan dini.

Kepala BMKG, Dwikorita menyampaikan jika adik-adik mengalami gempa lebih dari 10 detik. “Langsung lari ke tempat yang lebih tinggi. Tidak perlu menunggu adanya bunyi sirine, karena tergantung pemerintah daerah yang membunyikan. Peringatan dini tsunami sudah dirancang 11 tahun lalu” ucap Dwikorita.

Provinsi Banten memiliki potensi pariwisata yang potensial. Daerah wisata di sepanjang Banten, aman untuk dikunjungi. Namun, tetap selalu waspada jika terjadi bencana.

Ketahui arah evakuasi dan bagaimana cara menyelamatkan diri. Pemerintah daerah juga menyiapkan tanda atau rambu bencana, sehingga wisata pantai aman dikunjungi tanpa harus takut ada bencana.

Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Banten. Kami sudah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengkolaborasikan dengan alat sistem peringatan dini dan pelatihan simulasi bencana.
(Rie-Humas BNPB).

Bagikan :