Pengaruh Kebangkitan Tiongkok Terhadap Indonesia

Bagikan :

Mediapatriot.co.id — Jakarta — Perkumpulan Tionghoa Indonesia. Mengadakan Seminar . Mengangkat tema “Kebangkitan Tiongkok, Obor Dan Implikasinya Terhadap Indonesia”. Diadakan di Auditorium Perhimpunan INTI, MGK Kemayoran – Office Tower B Lt.10 Jl.Angkasa Kemayoran Jakarta Pusat, Sabtu, (17/08/2019).

Hadir sebagai pembicara: Prof.Anwar Nasution,Ph.D guru besar ilmu ekonomi Universitas Indonesia, Dr.Drs.Krisno Legowo,Msi Pengajar di Sekolah Tinggi Intelejen Negara, Johanes Herlijanto,Msi,Ph.D Pengajar di Universitas Pelita Harapan, dr.Indra Wahidin Ketua Harian Perhimpunan INTI .Moderator Pusanti BA,MA,Ph.D candidate.

Dalam kata sambutannya I Wayan Suparmin selaku Ketua INTI DKI Jakarta mengatakan bahwa INTI adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri sejak tahun 1998. Setiap tahun memberikan bea siswa untuk anak-anak Indonesia menuntut ilmu di Tiongkok ke berbagai universitas ternama. Anak-anak yang dikirim ke Tiongkok dari berbagai provinsi di Indonesia bukan hanya yang etnis Tionghoa tapi bermacam-macam suku di Indonesia.

Krisno Legowo mengatakan “Kepentingan nasional maupun cita-cita bangsa dapat dibaca dalam konstitusi maupun pernyataan-pernyataan para pemimpin formal negara seperti kebijakan maupun pelaksanaannya, dalam hal ini sifat dan arah hubungan luar negeri Republik Rakyat Tiongkok dalam berinteraksi dengan dunia yang sering dinyatakan presiden Xi Jinping, Menlu Wang Yi maupun Dubes Tiongkok untuk Amerika Cui Tian Kai. Ada dua hal pokok strategi yang dilaksanakan sebagai arah bangsa dan negara. Menata ulang hubungan antara negara besar dan mewujudkan mimpi China. Strategi ini untuk memenuhi inti kepentingan nasional,” ujarnya.

Johanes Herlijanto mengatakan sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo Tiongkok telah memberikan bantuan sebesar 700 juta dolar untuk pembangunan jembatan Suramadu. Hubungan dengan Tiongkok semakin baik dan positif yang tadinya terkesan hubungan Tiongkok dan Indonesia kurang harmonis.

Anwar Nasution juga menyampaikan bahwa RRC membuat kebijakan strategis di bidang ekonomi, politik, keamanan yang akan mempengaruhi sistem ekonomi keuangan, politik dan keamanan regional dan internasionalnya. Kebijakan itu mencerminkan kesiapan negara untuk mengambil peranan yang lebih besar dalam kepemimpinan politik, ekonomi dan militer dunia. Hal ini perlu dicontoh Indonesia agar lebih maju. Tingkat produktifitas juga sangat besar di China sehingga barang-barang produksinya tersebar ke berbagai negara. Sebagai contoh tusuk gigi walaupun bahan bakunya ada di Indonesia, kita masih impor dari China termasuk segala jenis permainan anak-anak serta perabotan,” tuturnya.
(fri)

Bagikan :