Pembangunan Pajak Dhuafa, Sumber Dana dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) TA 2015 Dipertanyakan

Bagikan :

Kutacane, MPI
Pembangunan Mega los dan kios pajak dhuafa sebnyak 3 (tiga) unit mega loos dan 280 unit kios di desa lawe rutung kecamatan lawe bulan kabupaten Aceh Tenggara terkesan sangat mubazir dan pemborosan. Selain terkesan sangat mubazir kondisi bangunan saat ini sudah rusak perah dan sangat mengenaskan. Hal itu diungkapkan Zulkarnain selaku Ketua Aliansi Masyakat Pajak Dhuafa Pembela Keadilan yang dihubungi MPI lewat telephone cellularnya minggu 22/9/2019.

Menurut Zulkarnain pembangunan pajak dhuafa sumber dana dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) TA 2015 yang semestinya di peruntukan untuk pembangunan bantuan rumah dhuafa di era pemerintahan H. Hasannudin B selaku Bupati dan atas kebijakan beliau pos bantuan tersebut berubah menjadi pajak dhuafa.

Penyimpagan pos bantuan tersebut atas kebijakan mantan Bupati Aceh Tenggara H. Hasannudin B diduga penuh dengan skandal mulai dari pengadaan tanahnya masih bermasalah dan pembahagian unit kios yang tidak tepat sasaran. Tambahnya.

Lebih lanjut Zulkarnain menjelaskan bahwa paska pembangunan pajak dhuafa tahun anggaran 2015 yang lalu sampai saat ini sertifikat kepemilikan belum seutuhnya di miliki oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara melainkan masih masih ada 2 (dua) percil sertifikat masih atas kepemilikan masyarakat dan sampai saat ini senin 21/09/2019 belum selesai proses balik nama dari masyarakat ke pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yaitu seluas 6.300 M2 dari luas keseluruhannya areal pembagunan Pajak tersebit lebih kurang 20. 000 M2

Selain proses pembebasan dan ganti rugi lahan bermasalah di duga pembahagian pos bantuan kios pajak dhuafa tersebut tidak mengenai sasaran bahkan saar ini sudah hancur mengenaskan sebelum sempat di fungsikan. Properti-properti bangunan tersebut sudah hancur berantakan seperti atap seng, plafon, pintu raib di gondol maling padahal biaya pembangunan tersebut terbilang mahal mulai dari ganti rugi lahan sebesar Rp.14.9 Milyar belum lagi ditambah biaya pembangunan 3 (tiga) unit mega loos dan 280 unit kios yang mencapai milyaran rupiah kini sudah hancur tak karuan dan terkesan sangat mubazir dan pemborosan.Pungkasnya.(Redaksi)

Editor:Hamdanil

Bagikan :