FPPD Gelar Diskusi Publik Bertema Menjaga Kedamaian Bumi Cendrawasih

Bagikan :

BANDUNG, MPI – Forum Pemuda Peduli Demokrasi menggelar diskusi publik bertema ‘Menjaga Kedamaian Bumi Cendrawasih,’ di Rully Bistro Cafe, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin, (23/9/19).

Diskusi ini diikuti sekitar 40 mahasiswa dan pemuda se-Kota Bandung dengan menghadirkan narasumber Evalda Cherrys Yandenday S.Ip (Aktivis Papua), Deni Ahmad Haidar (Ketua PW GP Ansor Jawa Barat) dan Marius Widyarto (Tokoh Masyarakat Bandung/Pengusaha).

Aktivis Papua, Evalda Cherrys Yandenda mengatakan, secara umum masyarakat Papua telah menerapkan nilai nasionalisme dengan tidak membedakan ras dan suku bangsa serta dapat hidup berdampingan dengan masyarakat pendatang.

“Setiap 17 Agustus, bendera Merah Putih berkibar di tiap rumah warga Papua, meski ada keengganan sebagian kecil warga tentang semangat nasionalime ini, tapi jangan disamaratakan. Penyakit ini perlu diobati dengan cara edukasi nasionalisme,” ujarnya.

Ia mengaku telah telah merasakan bukti nyata nasionalisme selama berada di Kota Bandung. “Rekan-rekan non-Papua banyak membantu memberikan soft skill usaha kreatif bagi anak asli Papua di Kota Bandung. Ini bukti nyata nasionalime di Indonesia,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar menghimbau agar masalah Papua diselesaikan secara damai tanpa tindakan represif. “Pendekatan damai dan humanis tersebut telah dicontohkan Presiden Abdurrahman Wahid dan efektif merangkul masyarakat Papua,” tuturnya.

Selain itu, upaya lainnya adalah pemberian dana Otsus yang dilakukan pemerintah saat ini. ”Akan tetapi, kebijkan tersebut belum efektif karena adanya korupsi di tingkat daerah. sehingga, dana Otsus terkesan belum menyentuh langsung kepada masyarakat, dan ini harus dievaluasi,” paparnya.

Ia menuding hanya oknum yang melakuakan tindakan bernuansa rasisme terhadap masyarakat Papua, bukan sikap keseluruhan masyarakat Indonesia. Disamping itu katanya banyak negara di dunia yang menginginkan Indonesia damai. Ia berharap, pola pikir masyarakat yang masih membedakan daerah satu dengan daerah lainnya perlu dihilangkan.

Perkembangan teknologi lanjutnya, telah memberikan andil dalam kerusuhan di Papua. “Saat ini, isu hoaks telah memicu terjadinya kerusuhan di Papua, termasuk kerusuhan yang terjadi di Wamena,” lanjutnya.

Tokoh Masyarakat Kota Bandung, Marius Widyarto mengatakan yang terpenting dalam hidup bermasyarakat di Indonesia adalah bagaimana Burung Garuda dapat mempertemukan Burung Cendrawasih dan Burung Pelatuk, yang merupakan simbol dari ujung timur dan ujung barat Indonesia.

Ia mengaku pihaknya dalam komunitas usaha C59 telah membantu memberikan soft skill bagi anak Papua yang ada di Bandung. “Selain itu, C59 juga telah memberikan pelatihan di wilayah Papua seperti Kab. Nabire dan wilayah lain. Ini implementasi nyata dari nasionalisme,” tegasnya.(Redaksi)

Editor:Hamdanil

Bagikan :