Laporan Dell Technologies: Teknologi Baru Bisa Meredefinisi Masa Depan Dunia Kerja dengan Kemitraan Manusia dan Mesin

Bagikan :

Perubahan tren bekerja dan belajar di tahun 2030 akan menciptakan kondisi
tempat kerja yang lebih seimbang bagi banyak orang di seluruh dunia
Jakarta, Indonesia – 30 September 2019

Ringkasan berita
● Di tahun 2030, akan ada tiga perubahan yang akan membantu membentuk
lingkungan kerja yang lebih inklusif, memberdayakan, dan memuaskan
● Mayoritas pemimpin bisnis di Indonesia berharap berbagai teknologi baru bisa
meningkatkan produktivitas tenaga kerja
● Kolaborasi antara kecerdasan buatan (AI), antarmuka (interface) multimodal,
realitas tertambah (XR), dan teknologi buku besar yand didistribusikan dengan
aman (secure distributed ledger) akan membentuk cara kita mempersiapkan,
menemukan, dan bekerja di tahun 2030
Berita selengkapnya:
Dell Technologies (NYSE:DELL) baru-baru ini menerbitkan laporan berjudul ’Masa
Depan Dunia Kerja (Future of Work). Laporan yang merupakan hasil kerja sama dengan kelompok peneliti masa depan independen, Institute for the Future (IFTF), menelaah bagaimana kehadiran berbagai teknologi baru akan membentuk lingkungan kerja dalam sepuluh tahun ke depan dengan semakin meningkatnya kemitraan antara manusia dan mesin.

Kecerdasan Buatan (AI), Realitas Tertambah (XR) dan Internet of Things (IoT) terus
mendukung gelombang inovasi berkelanjutan dan disrupsi yang dihasilkan terhadap model-model bisnis tradisional. Semua kemajuan teknologi ini adalah kekuatan mutlak yang akan berdampak pada masa depan dunia kerja, yang akan mendukung lingkungan kerja yang lebih inklusif dan seimbang di tahun 2030.

Laporan The Future of Jobs 2018
yang diterbitkan World Economic Forum menemukan bahwa di 2018, rata-rata 71% total waktu bekerja dilakukan oleh manusia, dibandingkan dengan 29% oleh mesin. Pada
tahun 2022, WEF memperkirakan rata-rata persentase tersebut akan berubah menjadi
58% pekerjaan dilakukan oleh manusia dan 42% oleh mesin.

Laporan The Future of Work dari Dell Technologies, yang diterbitkan bekerja sama
dengan IFTF, berbagi wawasan tentang bagaimana kolaborasi AI, interface multimoda, realitas tertambah (XR), dan teknologi penyebaran buku besarakan bersinggungan dengan kekuatan sosial dan ekonomi yang terus berkembang untuk membentuk cara kita mempersiapkan diri, menemukan dan bekerja di tahun 2030. Laporan tersebut juga menyoroti tiga perubahan yang bisa membantu membentuk lingkungan kerja yang lebih
inklusif dan memuaskan selama satu dekade ke depan:

● Perubahan 1: Tenaga Kerja Inklusif – Kemitraan antara manusia dan mesin akan
menciptakan kesetaraan di tempat kerja yang lebih baik dimana kandidat
dievaluasi berdasarkan kemampuan mereka, bukan berdasarkan gender, umur
atau tingkatan sosial. 62% pemimpin bisnis di Indonesia berharap penggunaan
berbagai teknologi baru bisa menciptakan kesetaraan kesempatan dengan
menghilangkan faktor bias manusia dalam proses pengambilan keputusan
(Global: 67%).

● Perubahan 2: Pemberdayaan Tenaga Kerja – Dengan teknologi baru yang imersif
seperti XR, kolaborasi antar karyawan akan bisa mempercepat pemberdayakan
para pekerja. Sebanyak 89% pemimpin bisnis di Indonesia berencana untuk
menggunakan berbagai teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas tenaga
kerja mereka (Global: 86%)

● Perubahan 3: Kecakapan AI – Kemampuan Manusia tidak akan tergantikan oleh AI, sebaliknya justru akan saling melengkapi dan meningkatkan kemampuan manusia. Pemahaman mendalam tentang AI serta sistem kemitraan antaramanusia dan mesin akan membuka potensi manusia dan menciptakan pekerja-pekerja AI terampil. Hal tersebut akan memungkinkan para pekerja menggunakan keterampilan mereka untuk mengelola alur kerja dan menyelesaikan berbagai tugas.

80% pemimpin bisnis di Indonesia menyambut baik konsep kemitraan
manusia dengan mesin/robot. (Global: 70%)
“Dalam berbagai diskusi dengan CIO, sebagian besar menyatakan bahwa produktivitas, dan kini realitas gabungan (MR), adalah perhatian utama mereka. Mereka ingin tahu cara membuat perangkat untuk stimulasi, baik itu untuk bidang medis, manufaktur atau teknik.

Karena itulah inovasi berkelanjutan adalah salah satu faktor penting bagi Dell
Technologies,” ucap Richard Jeremiah, General Manager, Indonesia, Dell Technologies. “Organisasi-organisasi yang sukses menerapkan transformasi digital akan lebih unggul dibandingkan mereka yang masih bertahan dengan sistem lama, aliran data yang melebihi kapasitas (data deluge) dan tenaga kerja yang tidak mau berubah. Sebanyak 48% pemimpin bisnis di Indonesia memprediksi pekerja generasi berikutnya akan memiliki kemampuan mendisrupsi dengan keterampilan dan cara berpikir digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, sementara 54% pemimpin bisnis global menyatakan hal yang sama.”

Menurut IFTF, berbagai organisasi harus mengatasi tiga tantangan utama dalam satu
dekade mendatang, termasuk memerangi bias algoritmik dalam proses perekrutan;
meningkatkan keterampilan pekerja yang tidak seterampil rekan-rekannya dan
melindungi hak-hak pekerja, karena dunia kerja akan menjadi lebih dinamis. Faktanya,
hanya 43% pemimpin bisnis di Indonesia yang menyatakan perlu adanya peraturan dan kejelasan penerapan teknologi AI. Tapi 83% pemimpin bisnis di Indonesia percaya bahwa semua karyawan harus memiliki kecakapan teknologi di tahun 2030. Mengatasi berbagai tantangan yang dijabarkan dalam laporan ini membutuhkan pendekatan yang tepat, kreatif dan visioner untuk memperkuat kemitraan antara manusia dan mesin dan meredefinisi dunia kerja.

Laporan ini adalah salah satu dari tiga serial penelitian yang diterbitkan oleh Dell
Technologies, bekerja samaa dengan IFTF, yang menjabarkan bagaimana teknologi-
teknologi baru akan berdampak pada perekonomian, pekerjaan, dan kehidupan kita di tahun 2030.

Bagikan :