Diskusi Sosialisasi Nilai-nilai Pancasila lewat Medsos Pencegahan radikalisme & Intoleransi diselenggarakan oleh BPP Pancasila

Bagikan :

Acara diskusi dimulai dengan doa yg dipimpin oleh Gus Sholeh. Dan dilanjutkan kata sambutan oleh Dewan Pembina BPP, Kolonel TNI AD, Drs. Luma Sahap, MA.
Bang Luma Sahap menekankan bahwa bangsa besar ini terus diobok-obok baik dari pihak luar maupun oleh bangsa sendiri. Karena itu Pancasila harus dijaga, nilai-nilai luhur Pancasila harus ditanamkan di setiap jiwa manusia Indonesia agar bangsa besar yg telah dimerdekakan oleh pengorbanan jiwa-raga para pahlawan ini tidak tercerai-berai.

“Diawali dgn kegelisahan dan keresahan beberapa sahabat yg saling mengenal di Facebook. Betapa intoleransi, hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah, terus-menerus terjadi di medsos, bahkan terjadi persekusi di dunia nyata. Maka, singkat cerita Barisan Pencinta Pancasila (BPP) pun dilahirkan pada tahun 2018. Tetapi karena pengurus intinya sibuk, maka BPP sempat vacum hampir setahun. Baru setelah usai piplres, BPP melakukan kopdar yg kedua kali untuk memilih ulang kepengurusan baru tepatnya pada tgl 26 Juli 2019.”

“Kenapa saya beri nama Barisan Pencinta Pancasila? Ada yg usulkan agar organisasi ini diberi nama Front Pembela Pancasila (FPP). Tetapi saya tak setuju karena saya tidak ingin ada kesan frontal, sangar, keras. Maka, saya memilih nama BPP. Sebab , dunia ini rusak karena tak adanya cinta & kasih. Dengan “cinta” dunia ini akan damai sejahtera. Bumi Nusantara tercinta inipun sudah kekurangan akan cinta sehingga aura kebencian, hoaks, intoleransi, fitnah, bertebaran membuat kelam langit Indonesia.
Maka, Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa, harus *dicintai* dan *dihayati* oleh segenap anak bangsa. Seluruh manusia Indonesia harus mencintai Pancasila, berjiwa Pancasilais, mencintai NKRI dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.”
Maka, organisasi tercinta ini diberi nama *Barisan Pencinta Pancasila (BPP)*
dengan *Visi*:

*Menciptakan/melahirkan manusia Indonesia yg berjiwa Pancasilais, mencintai NKRI, dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.*

Dan *Misi* :

1. Mengedukasi dan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan seluruh komponen bangsa lainnya baik melalui diskusi, seminar, datang ke sekolah-sekolah memberikan pendidikan nilai-nilai luhur Pancasila maupun menerbitkan majalah, tabloid atau buku berisi pendidikan moral Pancasila.

2. Memberikan pelatihan dasar-dasar manajemen pemasaran bagi para UKM dan unit-unit usaha kecil dalam kaitannya dengan UU nomor 6 tahun 2014 tentang pemerintahan desa untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Sehingga bisa tercapai sila ke-5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Melaksanakan bakti sosial kepada masyarakat yg kurang beruntung, para kaum dhuafa, dan anak yatim-piatu.

Dan yang pasti, tidak boleh ada ideologi lain hidup di bumi Indonesia selain Pancasila. Karena, Pancasila telah disepakati oleh para pendiri bangsa dan negara ini sebagai dasar negara, pandangan dan falsafah hidup bangsa!”

“Oleh karena itu, Barisan Pencinta Pancasila berinisiatif melaksanakan diskusi-diskusi rutin untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada seluruh komponen bangsa. Diskusi tersebut akan secara rutin dilaksanakan terutama lewat sekolah-sekolah menengah maupun komponen bangsa lainnya. Diskusi rutin

Andy melanjutkan bahwa untuk menyukseskan Kultivasi nilai-nilai luhur Pancasila dan menjadikan seluruh manusia Indonesia berjiwa Pancasilais, tentunya tidak cukup hanya melakukan pendidikan, seminar, diskusi semata-mata tentang nilai-nilai Pancasila, tetapi, juga harus memberdayakan ekonomi masyarakat, meningkatkan taraf hidup Rakyat, menyejahterakan Rakyat. Barulah Kultivasi, pengolahan, penanaman dari nilai-nilai luhur Pancasila itu bisa ter-delivery dengan baik dan sukses dalam melahirkan dan menciptakan manusia-manusia Indonesia yg Pancasilais.

Kemudian dilanjutkan oleh pembicara utama
Prof. Christianto Wibisono dengan menyebutkan bahwa pendidikan nilai-nilai Pancasila tidak akan ter-delivery apabila masyarakat masih miskin dan lapar.

Sementara pembicara berikutnya, CEO AyoMulsi.com yang juga adalah Ketua Bidang IT BPP, Michael Seno Setiawan menyatakan bahwa radikalisme dan intoleransi bisa terjadi karena kurangnya masyarakat menghayati nilai-nilai Pancasila. Dan Michael memberikan saran agar supaya masyarakat jangan mudah menyebarkan hoaks dan hate speech di medsos. Sebelum mem-forward sesuatu materi di medsos sebaiknya dicek terlebih dahulu.
Karena dampaknya buruknya akan sangat besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagikan :