STRATEGI REHABILITASI BNN MELALUI PROGRAM SKRINING INTERVENSI LAPANGAN

Bagikan :

MPI, Pelaksanaan rehabilitasi di daerah banyak menemukan tantangan dari mulai sulitnya mendaptkan klien, kekurangan sumber daya manusia (SDM), penyerapan anggaran hingga kondisi geografis yang sulit dijangkau. Meski demikian, diharapkan dengan kekuatan yang ada, program rehabilitasi tetap dapat dimaksimalkan.

Ketika ditanyakan tentang kendala yang dihadapi selama ini, Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah BNN RI, Dra. Riza Sarasvita, M.Si, MHS, Ph.D mengatakan bahwa persoalan rehabilitasi dari tahun ke tahun yang paling menonjol adalah sulitnya mendapatkan klien. Karena itulah BNN melakukan terobosan dengan meluncurkan program Skrining Intervensi Lapangan (SIL). Menurut Riza, program ini sangat membantu para petugas di lapangan, untuk mendapatkan tambahan klien, terutama yang berasal dari voluntary.

Ia menambahkan bahwa tahun depan, ada program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), yang di dalamnya terdapat program SIL.

“Program SIL tetap dipertahankan dan ini akan menjadi incubator bagi upaya pemulihan berbasis masyarakat,” imbuhnya di sela-sela diskusi dalam kegiatan Raker Evaluasi Bidang Rehabilitasi BNNP/K di Surabaya, Kamis (10/10).

Ketika ditanyakan tentang signifikansi SIL, Riza mengatakan bahwa menunggu orang yang datang secara sukarela untuk direhabilitasi itu sulit apalagi bagi para penyalah guna narkotika jenis stimulan. Karena itulah SIL hadir untuk jemput bola dan diawaki oleh tenaga profesional dan kompeten.

Melalui SIL inilah, Riza berharap agar program rehabilitasi dapat merangkul semua potensi di tengah masyarakat. Jika memang belum bisa ditangani pada level tersebut, maka bisa dirujuk baik itu untuk rehabilitasi rawat inap maupun rawat jalan.

Senada dengan hal tersebut, Dr Budiyono, Direktur Pasca Rehabilitasi BNN, mengungkapkan bahwa program rehabilitasi model Intervensi Berbasis Masyarakat ini diharapkan bisa menjadi program dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

“Ini adalah program di mana ada sinergi antara Direktorat PLRKM, PLRIP dan Pasca Rehabiltiasi,” imbuhnya.

Terkait program Intervensi Berbasis Masyarakat ini, Direktorat Pasca Rehabilitasi berperan dalam menggulirkan program Agen Pemulihan. Para agen pemulihan ini merupakan orang yang terpilih di suatu daerah dan mendapatkan pelatihan dari BNN. Mereka dipilih secara ketat, sehingga tidak menimbulkan masalah ke depannya nanti. Jika ada petugas yang terpilih dari mantan penyalah guna narkoba, maka harus dipastikan reputasinya, bukan sumber masalah di desanya.

Meski banyak tantangan yang dihadapi, ia berpesan pada para Kepala Bidang Rehabilitasi yang berasal dari 18 provinsi di Indonesia wilayah timur untuk dapat senantiasa melakukan inovasi dan terobosan dalam pelaksanaan tugasnya

( Redaksi )

Editor:Pairin

Bagikan :