by

DPC ISRI INDRAMAYU MINTA DISBUDPAR DAN BUMN ANGGARKAN RISET PENULISAN NASKAH KUNO BERBASIS KERTAS DALUANG

Indramayu, MPI

Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), Kabupaten Indramayu. Saat berkunjung menghadiri workshop pembuatan kertas daluang yang diprakarsai oleh majelis arkeolog dan manuskrip kuno, Lembaga seni budaya muslim Indonesia (Lesbumi), Kabupaten Indramayu. Menyampaikan keprihatinannya ketika karya intelektual anak bangsa kurang diperhatikan, hal itu disampaikan dihadapan para aktivis, pegiat dan seniman di Desa Cikedung pada, (18/10).

Ketua DPC. ISRI, Kabupaten Indramayu Abdul Azis menyatakan prihatin ketika Riset serta penulisan yang dilakukan oleh tim arkeolog dan manuskrip kuno Lesbumi Indramayu tidak dianggarkan oleh Kedinasan pemerintah daerah dan BUMN yang ada di Indramayu melalui CSR-nya.

“Banyak yang tidak tahu tentang nama kertas manuskrip kuno yang bernama  daluang (Broussonetia papyrifera), kertas tersebut biasa dipakai untuk menuliskan sesuatu, seperti penulisan naskah kuno nusantara, babad leluhur tanah jawa atau kisah dan sejarah lainnya. Namun sangat disayangkan program tersebut hingga hari ini tidak pernah tersentuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan BUMN yang ada di Kabupaten Indramayu. Padahal melalui CSR dan pagu anggaran Kedinasan, seharusnya bisa dilakukan untuk membantu proses kerja intelektual dari para aktivis, pegiat dan seniman lembaga tersebut, “ungkapnya.

Ketua Lembaga Seni dan budaya muslim Indonesia (Lesbumi), Kabupaten Indramayu didampingi semua penasehat dan anggota mengungkapkan bahwa belum ada dukungan dari pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di Indramayu tentang riset dan penulisan ulang naskah kuno yang sedang dilakukan.

Saat ini kertas daluang telah didaftarkan menjadi budaya tak benda di Indonesia, dan menjadi identitas  adiluhur budaya nusantara, maka pemerintah di tingkat daerah, hingga pusat seharusnya mendukung penggunaan kertas daluang. Apalagi saat ini kertas daluang sudah bisa dicetak menggunakan printer, sehingga kami berharap pihak pemda Indramayu melalui dinas terkait membantu dan mengakomodir keberadaan mereka.

“Ketika melakukan riset dan penulisan ulang naskah kuno melalui  media kertas daluang. kami juga berencana menghadap Disbudpar dan BUMN di Indramayu agar lembaga tersebut lebih perhatian terhadap para pelaku sejarah dan budaya, serta mau membantu menganggarkan apa yang sedang dan telah dilakukan oleh tim arkeolog dan manuskrip kuno Lesbumi Indramayu, “ungkapnya.

Ketua majelis arkeolog dan manuskrip kuno Lesbumi Indramayu Ki Tarka Hanacaraka, didampingi ketua dan anggota Lesbumi Indramayu, serta tim budaya pembuat kertas daluang menyampaikan bahwa kertas daluang perlu dimunculkan kembali serta dirawat keberadaannya.

“Munculnya sejarah  kisah masa lalu,  dapat kita ketahui pada masa saat ini. Karenakan adanya karya tulis dalam bentuk aksara dan manuskrip kuno, untuk itu sangat penting peran manuskrip kuno bagi keberadaan sejarah, dan sangat penting pula bagi kita. Semua untuk mengetahui manuskrip kuno tersebut berbahan dasar apa,  sehingga sejarah dapat tertulis dalam sebuah kertas (manuskrip) dan bahan baku manuskrip kuno itu  disebut kertas daluang, “ungkapnya.

Pada kesempatan Workshop kertas daluang, guru budaya pembuat kertas daluang, Pedi Permadi sekaligus sebagai Dosen Program Studi sastra Indonesia UPI Bandung, menjelaskan bahwa kertas daluang muncul setelah tradisi tulis lontar di NUsantara dan banyak diabadikan oleh para pendakwah Islam untuk membuat al-qur’an dan kitab tradisional lainnya.

“Pada tradisi zaman dulu kertas daluang dijadikan bahan dasar manuskrip, terutama pada tiap pesantren di NUsantara, untuk menulisnya  menggunakan tinta yang terbuat dari jelaga dan larutan beras ketan, yang disebut tinta karon. Untuk itu kertas daluang disebut sebagai kertas tradisional Indonesia berbahan paper molberry, seperti yang kita ketahui penggunaan serta pembuatan kertas daluang masih ada hingga kini, seperti Pesantren Gentur di daerah Cianjur, disana kertas daluang digunakan bersamaan dengan mangsi tradisional yang disebut mangsi gentur, dan perlu diketahui  kertas daluang mampu bertahan 300 hingga 500 tahun, “terangnya.

Hingga berita ini ditulis, para tim dari majelis arkeolog dan manuskrip kuno Lesbumi Indramayu, belum mendapatkan informasi apapun, tentang dukungan pemkab melalui Disbudpar dan BUMN Kabupaten Indramayu,

Padahal dalam waktu dekat pihak, Lesbumi Indramayu melalui majelis arkeolog dan manuskrip kuno  berencana mengembangkan kertas daluang untuk menulis naskah dan babad kuno yang perlu di tulis ulang, contohnya seperti  naskah jaransari, selarasa, babad Cirebon, lontar kertasemaya dan lainnya.

Sehingga peran serta pemerintahan daerah melalui Disbudpar dan BUMN yang ada di Kabupaten Indramayu amat sangat dibutuhkan kehadirannya untuk merawat bersama budaya tak benda milik rakyat bumi Wiralodra.(Deswin Nazamudin)

Bagikan :

Berita Kegiatan Presiden Ir. Joko Widodo di MPI, kunjungan kerja, peresmian dan lain lain KLIK DISINI
Kegiatan Panglima TNI ketika dilantik Presiden, kunjungan kerja, peresmian dan lainnya KLIK DISINI
Kegiatan Kapolri ketika dilantik Presiden, kunjungan kerja, peresmian dan lainnya KLIK DISINI
Cara Cepat Cari Berita Ketik di Bawah Ini:

Ada Iklan Lowongan Pekerjaan, Lowongan Wartawan, Iklan Jual Mobil, Motor dan lain lain baca sekarang di IKLAN BARIS >>

Bagaimana Wajah Kinclong Daus Mini Menjelang Peernikahan ke Tiga Artis6.COM >>


News Feed