Indramayu, MPI.co.id
Filosofi Tari Topeng oleh Nurochman Sudibyo YS. Budayawan Pantura Jawa. Seno Tari Topeng adalah warisan yang berasal dari kerajaan, Majapahit, Bahkan ketika era kejayaan Singosari dan masa kendedes menjadi istri Kuwu Tumapel.

Tari topeng atau drama bertoleng sudah ada dan tenar di masa itu, Seni tari topeng Singosari pun menjadi kebanggaan di masa kejayaan kerajaan Majapahit, Ketika majapahit mengalami kemunduran kesenian ini dibawa para leluhur ke Malang menjadi terkenal hingga kini Tari โTopeng Malangโ. adapun warga masyarakat majapahit yang bergerak melalui laut bersandar ke pesisir Tegal jadi โTopeng Slarangโ hingga kini. Bersandar di losari jadi seni tari โtopeng Losariโ, Slangitdan Palimanan.
Dan di Indramayu berkembang di juntinyuat, Tambi pekandangan dan Lohbener, Orang orang yang tertarik belajar tari topeng di wilayah Cirebon dan Indramayu. dikarenakan makna filosofinya bukan karena kemewahan dan keanggunan tarian ini.
Jika pada awalnya tarian ini memiliki aneka ragam wajah wanda dan kedok,
Ketika sampai di wilayah Cirebon dan Indramayu hanya 5 Wanda saja yang diajarkan, Lima wanda atau lima jenis tarian topeng ini mengajarkan tentang watak dan laku lampah manusia.
โPanjiโ disaat baru lahir, manusia atau bocah wajib belajar menirukan gerakan orang tua. โSambaโatau usia kanak kanak seorang bocah wajib bersekolah. โRumyangโ dimasa Remaja siapapun wajib belajar dan membantu orang tua. โPatihโ kelak sesudah dewasa siapapun orangnya harus pandai berusaha bekerja dan mau berumah tangga. โKelanaโ ketika memiliki peluang usaha dan brrkuasa tidak boleh sombong, adigung adiguna. Ia harus mampu mengatur emosinya. Jika berlaku baik ia akan sukses jika berlaku curang dan korupsi akan masuk jeruji besi. (Nurdibyo).