Kota Bekasi, MPN
Partai Golkar akhirnya berkoalisi dengan Partai Nasdem dengan mengusung pasangan Uu Saeful Mikdar dan Nurul Sumarheni sebagai Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam ajang Pilkada Kota Bekasi yang akan digelar 27 November 2024. Namun banyak pihak yang meragukan keutuhan suara partai berlambang beringin ini dalam rangka memenangkan Pilkada nanti.
Kondisi ini dipicu dengan banyaknya isu yang menyebut bahwa sejumlah kader Partai Golkar yang melipir mendukung pasangan Heri Koswara-Sholihin. Sebagian juga diisukan telah merapatkan barisan untuk mendukung pasangan Tri Adhianto-Abdul Harris Bobihoe.
Menanggapi kondisi ini, salah seoramg pemerhati politik yang juga akademisi dari Universitas Islam 45 Bekasi, Adi Susila, menyatakan keretakan suara di kubu Partai Golkar ini sudah bisa diprediksi sebelumnya. โJika sebuah partai mengusung calon yang tidak sesuai dengan keinginan akar rumput maka dampaknya adalah perpecahan atau keretakan suara, ini sudah bisa diprediksi,โ ungkap Adi Susila saat diajak berbincang melalui sambungan telepon, Sabtu (1/9).
Adi kemudiang mengungkapkan dua keanehan terkait kondisi Partai Golkar dalam ajang Pilkada Kota Bekasi kali ini. โKeanehan pertama adalah sepinya koalisi, soalnya kawan Golkar kali ini cuma Nasdem, tidak seperti Pilkada-Pilkada yang lalu dimana banyak partai politik yang berkoalisi dengan Golkar,โ ulasnya.
Sedangkan keanehan kedua versi Adi Susila adalah pasangan calon kepala daerah yang diusung Partai Golkar Kota Bekasi bukan merupakan kader militan. โBiasanya Golkar pasti mengusung kadernya sendiri, nah ini kok tumben Golkar mengusung pendatang baru, memangnya kemana kader-kader terbaik Golkar selama ini,โ ujar Adi dengan nada penuh tanya.
Kedua keanehan ini, menurut Adi, yang akhirnya berdampak terhadap keretakan suara dukungan dari para kader Partai Golkar di Kota Bekasi. โKondisi ini pada akhirnya menguntungkan pasangan yang diusung PKS dan PPP, karena suara pemilih mereka stabil malah dapat tambahan dari suara pemilih dari Golkar,โ paparnya.
Sementara, lanjut Adi, suara pasangan yang diusung Tri-Harris yang diusung PDIP dan Gerindra ini sudah terpecah sebelumnya sejak munculnya poros ketiga, yakni pasangan dari Golkar dan Nasdem. โSeandainya tidak ada poros ketiga, bisa jadi suara nasionalis akan merapat ke Tri-Harris,โ katanya.
โTapi sejak ada poros ketiga, suara nasionalis terpcah ke kubu pasangan Golkar dan Nasdem. Artinya, adanya tiga poros ini menguntungkan pasangan Heri Koswara-Sholihin,โ pungkas Adi mengakhiri perbincangan. (Mul)









