Kota Tegal, 24 Agustus 2025 – Dewan Kesenian Kota Tegal berhasil menyelenggarakan sebuah acara seni dan budaya bertajuk “Festival SanuBahari” yang berlangsung meriah di Makom Lanal Tegal. Acara ini menjadi momentum penting bagi seniman, budayawan, dan masyarakat Tegal Raya untuk merayakan karya seni rupa sekaligus memperkuat identitas kebaharian yang melekat pada Kota Tegal.
Festival yang digagas bersama para perupa Tegal ini menghadirkan pameran lukisan, pemutaran film karya sineas lokal, serta diskusi seni budaya yang mendalam. Sejak dibuka pada Sabtu lalu, pameran seni rupa tersebut telah dikunjungi lebih dari 500 pengunjung dan panitia menargetkan jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang hingga penutupan.
Antusiasme Pengunjung dan Dukungan Seniman Lokal
Menurut Wowok Legowo, perupa sekaligus penanggung jawab acara, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk melihat pameran, tetapi juga untuk berdiskusi langsung dengan seniman yang memamerkan karyanya. Lukisan-lukisan yang dipamerkan memperlihatkan keragaman gaya, mulai dari realis, ekspresionis, hingga abstrak dengan tema yang sebagian besar terinspirasi dari kehidupan laut dan kebaharian Tegal.
“Sejak Sabtu hingga Minggu, tercatat ratusan orang hadir. Ini membuktikan bahwa masyarakat Tegal memiliki apresiasi yang baik terhadap seni rupa. Harapannya, hingga penutupan nanti jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari seribu lima ratus orang,” ungkap Wowok.
Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Surialu Andi Kustomo, menambahkan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk edukasi dan ruang bertumbuhnya ide-ide kreatif. Menurutnya, kesenian harus dekat dengan masyarakat dan tidak boleh elitis.
Pemutaran Film Lokal: “Pocong Compong”, “Samahamaha”, dan “Nyanyian Terumbu”
Festival semakin semarak dengan adanya pemutaran film lokal karya sineas Tegal. Wisnu Legowo, seorang produser asal Tegal, menampilkan dua film unik berjudul “Pocong Compong” dan “Samahamaha”. Kedua film ini menampilkan kekuatan bahasa ibu khas Tegal yang membuat penonton merasa dekat sekaligus terhibur.
Puncak apresiasi terjadi ketika film ketiga berjudul “Nyanyian Terumbu” karya Teguh Ostentrik ditayangkan. Film ini tidak hanya menyuguhkan nilai estetika, tetapi juga pesan ekologi yang mendalam. Teguh, yang dikenal sebagai perupa dengan latar belakang pendidikan seni di Jerman, menyampaikan gagasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan laut.
Diah Setyowati, seorang perupa Tegal, mengaku sangat tersentuh.
“Film ini membuat saya diremas oleh pikiran dan perasaan. Teguh menunjukkan bahwa seni bukan sekadar estetika, melainkan sarana spiritual untuk memahami alam. Pengalaman dan risetnya tentang ekologi mengajarkan kita agar mencintai laut,” tutur Diah.
Gagasan Teguh Ostentrik: Seni untuk Menyelamatkan Laut
Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film menjadi momen penting. Teguh Ostentrik dianggap membawa ide-ide besar yang melampaui sekadar karya artistik. Salah satu gagasan briliannya adalah menciptakan instalasi seni yang mampu berkolaborasi dengan alam bawah laut dan berubah menjadi terumbu karang buatan.
“Instalasi seni Teguh telah dipasang di sembilan titik rawan kerusakan terumbu karang di perairan Indonesia. Hasilnya, instalasi tersebut membantu membentuk ekosistem baru yang menyelamatkan ikan dari kepunahan akibat praktik destruktif seperti pengeboman,” jelas Wowok Legowo.
Wowok menambahkan bahwa karya Teguh bahkan telah menarik perhatian internasional. Banyak lembaga dan negara yang tertarik untuk mengadopsi gagasannya karena terbukti efektif menyelamatkan ekosistem laut. Menurutnya, Teguh adalah seniman dengan “ide gila” yang tidak dijual untuk sekadar komoditas, tetapi ditawarkan sebagai solusi bagi masalah lingkungan dunia.
Kritik Dewan Kesenian: Minimnya Dukungan Pemerintah
Meski festival berjalan meriah, Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Surialu Andi Kustomo, menyampaikan keprihatinan. Ia menyoroti kurangnya kehadiran pejabat daerah, baik dari eksekutif maupun legislatif, dalam acara seni budaya ini.
“Dari ribuan pengunjung, jangankan membeli karya seni, kehadiran pejabat pun seolah-olah terburu waktu. Padahal, seni budaya adalah nutrisi penting yang semestinya memberi pencerahan bagi pemimpin daerah,” tegas Andi.
Ia mengaku belum pernah mendengar ada Wali Kota atau pejabat Tegal yang benar-benar antusias membeli karya seni lokal. Menurutnya, mereka cenderung berharap diberi, bukan memberi dukungan nyata.
Namun, pernyataan tersebut sempat disanggah oleh Diah Setyowati. Ia menuturkan bahwa almarhum Wali Kota Adi Winarso pernah membeli lukisan karya seniman Moses. Bahkan, mantan Wali Kota Ikmal Jaya pernah membeli empat lukisan karya suaminya yang bertema ikan kakap merah dan memajangnya di rumah pribadinya.
Festival sebagai Simbol Identitas Kota Bahari
“Festival SanuBahari” tidak hanya menjadi ajang seni rupa, tetapi juga simbol kebangkitan identitas Kota Tegal sebagai kota bahari. Tema laut, terumbu karang, dan kehidupan nelayan banyak hadir dalam karya-karya seniman. Hal ini menjadi refleksi betapa eratnya hubungan masyarakat Tegal dengan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus inspirasi seni.
Selain itu, pemutaran film lokal yang menggunakan bahasa Tegal memperlihatkan kekuatan bahasa daerah dalam membangun identitas kultural. Bahasa ibu tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga medium seni yang mampu menyentuh emosi penonton.
Harapan ke Depan
Festival ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang konsisten digelar di Kota Tegal. Dengan demikian, masyarakat memiliki ruang tetap untuk berinteraksi dengan karya seni, sementara seniman lokal memiliki panggung untuk menunjukkan potensi mereka.
Menurut panitia, masih banyak rencana ke depan, seperti menghadirkan lebih banyak karya lintas disiplin seni, mengadakan workshop untuk pelajar, serta menjalin kolaborasi dengan komunitas seni dari luar daerah.
“Festival SanuBahari ini adalah awal. Kami ingin Tegal tidak hanya dikenal sebagai kota bahari, tetapi juga sebagai kota seni budaya yang berdaya saing,” pungkas Surialu Andi Kustomo.
Penutup
“Festival SanuBahari” telah membuka ruang apresiasi baru bagi masyarakat Tegal. Dengan menghadirkan pameran seni rupa, pemutaran film lokal, hingga diskusi kritis tentang seni dan ekologi, acara ini menjadi bukti bahwa kesenian dapat hadir sebagai solusi, bukan hanya hiburan.
Meskipun dukungan dari pemerintah daerah masih perlu ditingkatkan, semangat para seniman dan apresiasi masyarakat menjadi modal berharga untuk melanjutkan festival di masa depan. Dari ide-ide brilian seperti milik Teguh Ostentrik hingga semangat kolektif perupa Tegal, Kota Bahari kini semakin kokoh berdiri sebagai kota yang tidak hanya hidup dari laut, tetapi juga dari seni dan budaya.(NurDibyo)
.
Komentar