Jakarta, 2025 – Momentum peringatan 50 Tahun Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional di Jakarta berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara ini dihadiri langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah, bersama tokoh penting di bidang K3, Dr. Isradi Zainal, Kehadiran dua figur ini menandai sinergi antara pemerintah dan akademisi/praktisi dalam memperkuat komitmen keselamatan kerja di Indonesia.
Bulan K3 Nasional tahun ini menjadi istimewa karena genap 50 tahun sejak pertama kali dicanangkan pada tahun 1975. Selama lima dekade, program K3 terus berkembang menjadi salah satu prioritas nasional dalam mewujudkan tenaga kerja yang sehat, produktif, dan terlindungi. Kehadiran Menaker Ida Fauziyah bersama Dr. Isradi Zainal menjadi simbol penting bahwa K3 bukan hanya program teknis, melainkan gerakan bersama seluruh komponen bangsa.
Ajakan Menaker Ida Fauziyah: K3 Adalah Budaya, Bukan Hanya Aturan
Dalam sambutannya, Menaker RI Ida Fauziyah menekankan bahwa K3 harus dipandang sebagai budaya kerja, bukan sekadar kewajiban administratif. Menurutnya, dengan menjadikan K3 sebagai budaya, setiap tenaga kerja, pengusaha, hingga masyarakat luas akan memiliki kesadaran penuh terhadap pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.
“Keselamatan dan kesehatan kerja tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan yang harus dipatuhi. K3 adalah budaya, bagian dari kehidupan sehari-hari di tempat kerja, yang menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Ida Fauziyah.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan dunia kerja ke depan semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi digital, era otomatisasi, hingga risiko-risiko baru dalam industri. Oleh karena itu, K3 harus terus bertransformasi agar mampu menjawab perubahan zaman.
Dr. Isradi Zainal: Akademisi, Praktisi, dan Penggerak Budaya K3
Di sisi lain, Dr. Ir. M. Isradi Zainal tampil sebagai figur sentral dalam dunia K3 Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai akademisi dan Rektor Universitas Balikpapan (Uniba), tetapi juga menjabat sebagai Ketua Umum Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (P2K3N).
Sebagai pakar dengan gelar akademik yang lengkap, Dr. Isradi telah lama mendedikasikan dirinya untuk riset, edukasi, dan advokasi keselamatan kerja. Dalam peringatan Bulan K3 Nasional kali ini, ia menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam mengawal budaya K3.
“K3 harus adaptif. Dunia kerja berubah dengan cepat. Kalau kita tidak mengiringinya dengan inovasi, maka upaya K3 bisa tertinggal. Saya percaya dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi, Indonesia bisa menjadi negara yang unggul dalam penerapan K3,” jelas Dr. Isradi.
Kiprah Dr. Isradi Zainal: Dari Kampus, P2K3N hingga IKN
Dr. Isradi bukan sekadar akademisi. Ia juga aktif sebagai tokoh nasional yang terus mendorong penerapan K3 dalam pembangunan besar, termasuk di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pada 16 Januari 2025, saat menghadiri peringatan Bulan K3 Nasional di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, Dr. Isradi mengajak Kemenaker RI untuk bersinergi mengawal penerapan budaya K3 di IKN.
Sebagai anggota Dewan K3 Provinsi Kalimantan Timur – IKN, ia menegaskan bahwa pembangunan IKN harus menjadi contoh penerapan K3 yang modern dan berkelanjutan.
“IKN adalah proyek strategis bangsa. Penerapan budaya K3 harus dimulai dari pekerja, sehingga setiap aktivitas pembangunan berjalan aman, sehat, dan produktif,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Dr. Isradi juga menyerahkan buku karyanya berjudul “IKN Jilid II” kepada Menteri Ketenagakerjaan RI Prof. Yassierly. Buku ini berisi gagasan strategis mengenai pembangunan IKN dengan pendekatan keselamatan kerja, lingkungan, dan keberlanjutan.
Pertemuan dengan Presiden Prabowo: Komitmen K3 untuk Bangsa
Kiprah Dr. Isradi tidak berhenti di dunia akademis dan kementerian. Pada 18 Maret 2024, ia bahkan sempat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan ini menjadi momen penting, di mana Dr. Isradi menyampaikan komitmennya sebagai Rektor Uniba dan Ketua P2K3N untuk terus mendukung pemerintah dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berlandaskan keselamatan kerja.
Langkah ini menunjukkan bahwa perhatian Dr. Isradi terhadap K3 bukan hanya sebatas teori, melainkan nyata hingga level tertinggi kepemimpinan nasional.
Sejarah Singkat 50 Tahun Bulan K3 Nasional
Bulan K3 Nasional pertama kali diperingati pada 12 Januari 1975 dengan tujuan membangun kesadaran nasional mengenai pentingnya keselamatan kerja. Saat itu, tingkat kecelakaan kerja di Indonesia masih cukup tinggi. Dengan adanya gerakan nasional ini, pemerintah bersama dunia usaha berkomitmen menurunkan angka kecelakaan kerja secara signifikan.
Selama 50 tahun terakhir, Bulan K3 telah melahirkan berbagai program, antara lain:
- Penerapan standar K3 di perusahaan.
- Pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja K3.
- Kampanye nasional tentang pentingnya APD (Alat Pelindung Diri).
- Penguatan regulasi melalui UU Ketenagakerjaan dan turunan peraturan lainnya.
Kini, setelah setengah abad, Bulan K3 dipandang sebagai tonggak sejarah yang terus memperkuat budaya keselamatan kerja di tanah air.
Tema 50 Tahun Bulan K3: Transformasi untuk Masa Depan
Peringatan 50 Tahun Bulan K3 Nasional di Jakarta mengusung tema besar: “K3 Unggul, Indonesia Maju”. Tema ini menekankan bahwa keselamatan kerja bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi untuk kemajuan bangsa. Dengan pekerja yang sehat dan selamat, produktivitas akan meningkat, dan daya saing Indonesia di kancah global semakin kuat.
Harapan 50 Tahun ke Depan: Menuju 100 Tahun Bulan K3 Nasional
Menaker Ida Fauziyah menegaskan bahwa apa yang dilakukan hari ini adalah warisan bagi generasi mendatang. Sementara itu, Dr. Isradi Zainal menekankan bahwa generasi muda harus dibekali pemahaman K3 sejak dini, termasuk melalui kurikulum pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.
“K3 bukan hanya soal hari ini. Kita bicara tentang 50 tahun ke depan. Harapan saya, saat Bulan K3 berusia 100 tahun, Indonesia sudah diakui dunia sebagai negara dengan standar K3 kelas dunia,” ungkap Dr. Isradi.
Kesimpulan
Peringatan 50 Tahun Bulan K3 Nasional di Jakarta bukan hanya sebuah seremoni, melainkan momentum penting untuk memperkuat komitmen bangsa terhadap keselamatan kerja. Kehadiran Menaker Ida Fauziyah bersama Dr. Ir. M. Isradi Zainal menjadi simbol nyata bahwa pemerintah, akademisi, dan praktisi bersatu dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju melalui budaya K3.
Dengan rekam jejak Dr. Isradi sebagai Rektor Uniba, Ketua Umum P2K3N, penggagas K3 di IKN, serta penulis buku strategis, semakin jelas bahwa peran beliau menjadi kunci dalam membangun kesadaran K3 di tingkat nasional.
Peringatan ini menandai langkah bersama menuju Indonesia yang lebih aman, sehat, produktif, dan siap menyongsong masa depan.(Tommy K/Hamdanil)
Komentar