TEGAL — Sebuah diskusi bertajuk “Datang, Duduk, Sama Rasa: Evolusi Kota Tegal dalam Tinjauan Sejarah” digelar di ruang komunitas Spasi Spece, yang berlokasi di tengah Kota Tegal. Acara ini menghadirkan puluhan pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, seniman, hingga budayawan.
Diskusi dipandu oleh politisi Tegal, Abdullah Sungkar, MT, yang sekaligus bertindak sebagai moderator. Hadir sebagai pembicara utama, peneliti asal Belanda Olivier Johannes Raap, penulis buku Kota dan Budaya Jawa Tempo Doeloe. Raap dikenal luas sebagai peneliti sejarah dan kolektor kartu pos kuno yang banyak menyoroti perkembangan kota-kota di Jawa pada masa lampau.
Gagasan Ruang Diskusi
Acara ini diprakarsai oleh Wisnu Legowo, sutradara film asal Tegal sekaligus pendiri rumah Spasi, yang selama ini aktif menggagas ruang-ruang diskusi di kota tersebut. Dukungan juga datang dari Yono Daryono, sutradara sekaligus aktor teater pendiri Teater RSPD.
“Tradisi diskusi dan obrolan warga Tegal sudah lama ada. Prinsip sama rasa ini adalah cara kami mengungkap dan membicarakan persoalan yang ada di sekitar,” kata Yono Daryono saat membuka acara.
Pemaparan Peneliti Belanda
Dalam paparannya, Raap bercerita dengan fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ia mengungkapkan perjalanan risetnya yang panjang mengenai kota-kota tua di Jawa.
“Saya berangkat dari Solo menuju Tegal, karena kota ini punya sejarah panjang yang menarik,” ujarnya. Raap menambahkan, ketertarikannya terhadap Indonesia bermula dari koleksi kartu pos kuno. Dari sana, ia melakukan penelitian lapangan tentang bangunan dan infrastruktur lama di berbagai kota.
Hasil riset selama 22 tahun itu kemudian ia tuangkan ke dalam buku Kota Tua di Jawa Tempo Doeloe, yang kini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian sejarah perkotaan dan mendapat perhatian internasional.
Ruang Dialog Budaya
Diskusi di Spasi Spece ini menegaskan pentingnya ruang dialog publik di Tegal. Bagi para seniman dan budayawan, forum semacam ini menjadi sarana untuk memahami kembali sejarah kota, sekaligus membangun kesadaran kolektif mengenai identitas dan perkembangan Tegal di tengah perubahan zaman.(NurDibyo)
