Jakarta, MediaPatriot.co.id — Gelombang semangat moral dan intelektual mahasiswa kembali bergema di ibu kota. Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (BEM PTMA) se-Indonesia secara resmi menyuarakan Manifesto Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah Aisyiyah, dalam sebuah aksi nasional yang digelar di depan Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI, pada Selasa (11/11/2025).
Deklarasi manifesto tersebut menjadi momentum penting bagi gerakan mahasiswa Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk menegaskan komitmen moral, intelektual, dan sosial dalam membangun peradaban bangsa yang berkeadilan, berkemajuan, dan berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari konsolidasi nasional BEM PTMA, yang dihadiri oleh ratusan perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia. Dalam forum tersebut, para mahasiswa menyampaikan sikap kritis terhadap krisis moral kepemimpinan, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan pendidikan nasional di era digital.
Ketua Koordinasi Nasional BEM PTMA, Yogi, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar simbolik, tetapi merupakan panggilan moral mahasiswa Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk kembali ke jati diri gerakan mahasiswa sebagai penjaga nilai kebenaran dan keadilan.
“Kami berdiri di garda terdepan sebagai pelanjut perjuangan bangsa. Manifesto ini adalah bentuk tanggung jawab kami untuk menjaga nilai kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan berpihak kepada rakyat,” tegas Yogi di hadapan peserta aksi.
Manifesto Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah Aisyiyah berisi delapan poin utama yang mencerminkan keberpihakan terhadap rakyat dan lingkungan, antara lain:
- Pemerataan kesejahteraan dan lapangan kerja melalui kebijakan ekonomi yang inklusif.
- Stabilisasi harga dan ketahanan pangan untuk melindungi petani dan nelayan lokal.
- Pemberantasan korupsi dan monopoli usaha demi keadilan ekonomi nasional.
- Pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua sebagai hak dasar warga negara.
- Peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik.
- Penghentian eksploitasi alam dan penegakan hukum lingkungan.
- Penolakan proyek merusak di Pulau Komodo dan Pulau Padar.
- Transisi menuju ekonomi hijau dan energi terbarukan.
Aksi ini menunjukkan bahwa BEM PTMA bukan sekadar pengamat kebijakan publik, tetapi juga agen perubahan (agent of change) yang menawarkan gagasan dan solusi nyata bagi perbaikan bangsa.
Koordinator Wilayah BEM PTMA Jawa Tengah, Yoga Dwi Yuwono, yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), menegaskan pentingnya solidaritas lintas kampus dan ideologi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Kami menyerukan agar seluruh mahasiswa Indonesia, tanpa sekat ideologi, bersatu memperjuangkan keadilan sosial. Manifesto ini menjadi langkah konkret untuk mengembalikan idealisme mahasiswa di tengah pragmatisme politik yang semakin kuat,” ujarnya.
Gerakan ini diharapkan menjadi arus baru kebangkitan moral mahasiswa, yang tidak hanya bersuara di jalanan, tetapi juga menawarkan solusi berbasis riset, etika, dan nilai Islam.
Melalui Manifesto Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah Aisyiyah, BEM PTMA menyerukan kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah untuk membangun Indonesia yang lebih adil, beradab, dan berkemajuan, sejalan dengan nilai-nilai luhur Muhammadiyah dan Aisyiyah yang telah menjadi bagian penting dari sejarah peradaban bangsa.
Sebagai organisasi mahasiswa yang menaungi ratusan kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia, BEM PTMA berkomitmen untuk terus menjadi poros moral dan intelektual bangsa, serta mengawal cita-cita keumatan dan kebangsaan melalui pendidikan, advokasi kebijakan publik, dan dakwah sosial yang mencerahkan.
(Red Irwan)










