Disusun Oleh:
Shafira Aqmalya Kumar (007251032)
Disusun Oleh:
Shafira Aqmalya Kumar (007251032)
Dosen Pengampu:
Tania Ardiani Saleh, Dra., M.S.
MATA KULIAH LOGIKA DAN PEMIKIRAN KRITIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2025
APAKAH BRAINROT MEMBENTUK ATAU MERUSAK POLA PIKIR PESERTA DIDIK DI ERA AI?
Oleh: Shafira Aqmalya Kumar
Pendahuluan
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong lahirnya berbagai fenomena digital, salah satunya adalah Brainrot. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan konten yang terkesan aneh, tidak masuk akal, bahkan absurd, namun justru populer di media sosial seperti TikTok. Banyak karakter Brainrot yang menjadi tren, misalnya Tung Tung Sahur, Bombardino Crocodilo, hingga Ballerina Cappucina.
Popularitas konten tersebut membawa dampak besar, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang menjadi konsumen utama. Pertanyaan pun muncul: apakah fenomena Brainrot hanya sebatas hiburan semata, ataukah ia berpengaruh lebih jauh terhadap pembentukan bahkan perusakan pola pikir peserta didik di era digital?
Argumen
Di sisi positif, Brainrot bisa dianggap sebagai wujud kreativitas digital yang segar. Karakter nyentrik, narasi yang aneh, dan gaya penyajian yang unik membuka peluang bagi peserta didik untuk mengembangkan imajinasi. Dalam dunia pendidikan, fenomena ini dapat menghadirkan manfaat, antara lain:
Dengan pendekatan yang tepat, Brainrot bahkan dapat dijadikan media belajar alternatif. Misalnya, guru dapat mengajak siswa membuat konten Brainrot yang menyampaikan pesan edukatif agar proses belajar terasa lebih dekat dengan keseharian mereka.
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Brainrot juga menyimpan risiko. Jika dikonsumsi berlebihan tanpa arahan, konten jenis ini bisa berdampak pada perkembangan peserta didik, di antaranya:
Artinya, Brainrot bisa menjadi tantangan serius apabila tidak ada kontrol dari pihak keluarga maupun sekolah.
Pendidikan tidak cukup hanya melarang, tetapi perlu memanfaatkan Brainrot sebagai sarana literasi digital dan media pembelajaran kreatif. Guru dapat menggunakannya untuk mengenalkan cara kerja AI sekaligus melatih siswa berpikir kritis dalam membedakan hiburan dan edukasi. Selain itu, orang tua berperan penting mendampingi anak agar tidak sekadar menjadi konsumen pasif, melainkan mampu menyikapi tren digital ini dengan bijak. Dengan kolaborasi antara sekolah dan keluarga, Brainrot bisa diarahkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Pada akhirnya, fenomena ini dapat menjadi peluang inovasi dalam pendidikan jika dikelola dengan tepat.
Penutup
Fenomena Brainrot dapat dipandang sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mampu mendorong imajinasi, literasi digital, serta ekspresi diri generasi muda. Namun di sisi lain, ia berisiko melemahkan konsentrasi, menanamkan budaya instan, dan mengaburkan makna budaya apabila dikonsumsi tanpa kendali.
Dengan demikian, Brainrot bisa membentuk sekaligus merusak pola pikir peserta didik, tergantung bagaimana ia diarahkan. Peran guru, orang tua, dan lembaga pendidikan menjadi faktor penentu agar peserta didik tidak sekadar menjadi penikmat hiburan digital, melainkan juga pembelajar kritis yang siap menghadapi tantangan era AI.
Referensi