Tahun terakhir di bangku SMA seringkali menjadi masa yang penuh tantangan juga tekanan. Segalanya terasa menegangkan karena adanya ujian tulis, ujian praktek, tugas akhir, seleksi kuliah, hingga kekhawatiran tentang biaya pendidikan di ranah selanjutnya. Begitupun juga yang Yaya rasakan di awal tahun 2025, seorang wanita muda dari Kabupaten Bandung yang memiliki cita-cita masuk top perguruan tinggi di Indonesia. Namun siapa sangka, tahun yang awalnya menurut Yaya terasa penuh ketidakpastian justru menjadi tahun paling bersejarah dalam hidupnya, ia berhasil lolos masuk perguruan tinggi dengan jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) dan juga mendapatkan Beasiswa Unggulan dari Puslapdik Kemendikdasmen di tahun yang sama!
Awalnya Tidak Percaya Diri
Sejak awal masuk kelas 12, Yaya merupakan siswa yang biasa saja. Nilainya tetap stabil, namun tidak menonjol seperti yang lainnya. Melihat teman-teman seperjuangannya sudah mulai sibuk mengikuti bimbingan belajar, Yaya sempat merasa tidak mempunyai peluang besar untuk masuk ke daftar siswa eligible atau daftar siswa yang berhak ikut SNBP.
Saat memasuki semester akhir di bangku SMA, pengumuman siswa eligible pun datang. Namanya terukir di daftar itu, walau di posisi menuju jurang. Sempat merasa tidak percaya diri karena nilai yang ia dapat tidak terlalu besar seperti teman-teman lainnya, sempat ragu juga untuk mengambil jurusan apa yang sesuai dengannya serta nilainya. Namun ia tidak menyerah, ia melakukan semua hal yang dapat dilakukan untuk melihat seberapa persentase ia lolos di suatu top PTN. Sempat bimbang ingin memilih yang mana, karena nilainya yang serba pas-pas an itu.
Sebelum pendaftaran dibuka, ia bersama teman-teman sekelasnya menghadap ke ruang BK untuk berkonsultasi disana. Saat gilirannya, guru BK sempat bertanya “Kamu mau ambil jurusan apa?” Yaya langsung menjawab semua jurusan yang ada di benak nya dengan beberapa kemungkinan yang terjadi, entah persentase lulus di jurusan ini yang tinggi lah, entah keketatannya tidak terlalu kecil lah, tanpa menyebutkan jurusan impiannya karena nilainya yang tidak memenuhi kriteria.
Di akhir konsultasi, Yaya sempat berkata bahwa sebenarnya ada jurusan lain yang ia inginkan tetapi dirinya ragu untuk memilih jurusan tersebut. Namun, guru BK berkata “Kenapa ngga dicoba aja? Kan kamu ngga tau nanti akhirnya kayak gimana, siapa tau kamu lolos di jurusan itu.” Kalimat sangat membekas di dirinya.
Saat pendaftaran SNBP dibuka, Yaya dengan percaya diri menuliskan universitas dan jurusan impiannya selama ini ia bayangkan: Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Universitas Airlangga. Meskipun ada sedikit keraguan dalam hati nya, ia tetap menekan tombol submit dengan lantunan doa yang tak kunjung berhenti.
Ketika Pengumuman Datang
Tanggal 18 Maret 2025 menjadi salah satu hari paling menegangkan dalam hidupnya. Yaya membuka layar laptop sendiri di kamar, tidak mau ditemani karena takut kegagalan itu datang. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin, hatinya tidak tenang, bahkan sempat ragu untuk membuka. Namun dengan keberanian penuh dan doa yang tak pernah putus, ia menarik nafas dengan dalam dan membuka situs pengumuman dengan perasaan campur aduk. Gadis itu sempat menutup mata beberapa detik sebelum melihat hasilnya, di layar pun muncul tulisan “Selamat! Anda Dinyatakan Lulus Seleksi SNBP 2025”
Rasanya seperti mimpi. Dirinya berteriak memanggil orang yang ada di dalam rumah dan menariknya untuk masuk ke dalam kamar, ia bahagia, ia senang. Akan tetapi di tengah euforia itu, muncul kekhawatiran baru yang muncul di benak nya, bagaimana dengan biaya kuliah?
Tidak Berhenti Disitu: Mencari Beasiswa
Beberapa hari setelah pengumuman dan invoice mengenai biaya perkuliahan keluar, Yaya mulai mencari beasiswa yang sekiranya dapat ia ikut. Mencari informasi bermodalkan internet membuatnya menemukan banyak sekali beasiswa dengan benefit yang berbeda-beda. Hati ini tertuju kepada satu beasiswa yang benefitnya sangat menarik perhatian, Beasiswa Unggulan. Salah satu program bantuan pendidikan bagi mahasiswa berprestasi, syarat yang diberikan cukup ketat, mulai dari nilai rapor, prestasi akademik, hingga membuat esai mengenai kontribusi bagi bangsa.
Mulai saat itu, Yaya pun berjuang dalam menulis esai dengan jujur. Menuliskan tentang pengalaman apa saja yang telah ia perbuat selama hidupnya, tentang impian membantu anak-anak di luaran sana agar tidak takut bermimpi dan tentang tekad untuk belajar bukan demi diri sendiri, melainkan menjadi manfaat bagi kawan sekitar.
Dua Pengumuman, Satu Tahun yang Tak Terlupakan
Beberapa bulan kemudian, mulai lah muncul pengumuman dalam tahap administrasi. Menatap seakan tak terpercaya, bahwa kalimat yang muncul ialah “Lolos Seleksi Administrasi.” Ucapan syukur tak kunjung berhenti dan mulai mempersiapkan untuk seleksi tahap selanjutnya.
Setelah melakukan seleksi wawancara, banyak doa yang Yaya panjatkan dalam tahap ini. Hingga saatnya tiba, membuka pengumuman ditemani oleh para sahabatnya dan sorakan serta tangisan bahagia terpancar. Tertulis dalam pengumuman itu, lagi dan lagi “Lolos Seleksi Wawancara.” Bayangan biaya kuliah yang dulu terasa berat kini terangkat. Yaya tidak hanya diterima di Universitas impiannya, namun juga dapat berkuliah dengan meringankan beban orang tua.
Mimpi itu Gratis, Tapi Mewujudkannya Butuh Keberanian
Dari pengalaman ini, Yaya belajar bahwa percaya diri terhadap diri sendiri dan tidak mudah merupakan kunci utama dalam meraih suatu hal. Terkadang, peluang bisa datang ketika kita berani untuk mencoba, bahkan saat merasa tidak cukup hebat dalam hal itu.
Cerita ini bukan untuk pamer semata, melainkan untuk menyampaikan suatu hal yang terkadang dianggap remeh oleh sebagian kalangan; jangan takut untuk bermimpi besar. Jalur SNBP bukan hanya untuk “anak pintar” dan beasiswa pun bukan hanya untuk “yang luar biasa”. Keduanya merupakan pintu yang bisa dibuka untuk siapa pun yang ingin berusaha.
Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang “lolos”, namun melainkan tentang kepercayaan terhadap diri sendiri, bahwa kita memang pantas untuk mendapatkan keberhasilan yang kita impikan.






















Komentar