Kota Bekasi, MPN
Tanpa mengesampingkan kesibukannya sebagai pegawai ASN PPPK Kota Bekasi, ada sosok yang tak pernah berhenti menyalurkan kecintaannya pada dunia literasi. Fiqih Akhdiyatu Salam, atau yang akrab disapa Ucil, merupakan pegawai Dinas Perhubungan Kota Bekasi yang bertugas di UPTD LLAP Mustikajaya. Meski bekerja di sektor layanan publik, dedikasinya pada dunia tulis-menulis tidak pernah padam.
Latar belakangnya sebagai lulusan Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi (IBM) dan Universitas Paramadina, ditambah pengalaman di bidang media massa, membuat gaya tulisannya kaya perspektif dan mudah dicerna. Tema yang ia angkat pun beragam—mulai dari parenting, media massa, komunikasi publik, hingga isu-isu sosial. Tak heran jika ratusan tulisannya kini tersebar di media online lokal, nasional, bahkan internasional.
Belum lama ini, Ucil juga menerbitkan sebuah buku yang mengulas tentang
Generasi sandwich—sebuah karya yang lahir dari kegelisahan, pengamatan, dan keinginan untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
“Saya suka menulis. Sebelum bekerja di pemerintahan, saya sempat berkecimpung di media online. Banyak belajar dari pengalaman dan dari bangku kuliah,” tuturnya.
Meski mendapat tawaran dari penerbit dan berhasil menerbitkan buku, ia mengaku belum bisa sepenuhnya fokus pada dunia kepenulisan.
“Menulis buku itu iseng saja, kebetulan ada tawaran dari penerbit. Pekerjaan utama tetap di Dinas Perhubungan, jadi itu yang saya prioritaskan,” sambungnya.
Tidak hanya menulis, Ucil juga pernah membagikan ilmunya sebagai pengajar di Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi dan beberapa sekolah PKBM di Kota Bekasi. Baginya, berbagi pengetahuan adalah bentuk kontribusi yang tidak kalah pentingnya.
Ia bercerita bahwa waktu terbaik untuk menulis adalah malam hari—saat suasana tenang dan pikiran lebih jernih. Inspirasi ia dapat dari mana saja: buku, media sosial, hingga pengamatan sehari-hari di lingkungan sekitar.
“Harapannya bisa terus belajar dan punya minat belajar. Itu yang mahal. Karena tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan berilmu, maka kitalah yang harus mencarinya,” ungkapnya penuh keyakinan.
Menutup percakapan, Ucil tersenyum saat menyebut satu mimpi besarnya:
“Kalau ada rezeki dan kesempatan, pengen S3. Semoga ada donatur,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dalam diam, Ucil membuktikan bahwa kontribusi kepada publik tidak hanya melalui pekerjaan formal. Di sela-sela tugas lapangannya mengatur lalu lintas, dan admin ia terus menebar manfaat lewat tulisan—sebuah warisan yang mungkin akan dibaca pada anak dan keturunannya. (Mul)
















Komentar