mediapatriot.co.id | Bekasi | Berita Terkini | –
Upaya memperkuat budaya literasi di Indonesia kembali mendapat perhatian melalui sebuah diskusi lintas generasi yang menghadirkan dua tokoh dari DPP PDI Perjuangan, yaitu Haris Turino, ST., SH., Si.MM., anggota Komisi XI DPR RI, serta Dian Napitupulu. Keduanya menjadi narasumber utama dalam kegiatan edukatif ini yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, akademisi, dan berbagai komunitas literasi. Tujuan dari diskusi ini adalah membangun pemahaman bersama bahwa literasi bukan semata kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga fondasi penting untuk membentuk karakter serta meningkatkan daya saing bangsa di tengah perubahan zaman.
Dalam pemaparannya, Haris Turino menekankan bahwa literasi adalah modal fundamental dalam menghadapi tantangan era digital dan globalisasi. Menurutnya, derasnya arus informasi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memilah, memahami, serta memanfaatkan informasi secara bijak. Ia mengingatkan bahwa literasi yang baik akan membantu masyarakat terhindar dari penyebaran hoaks dan manipulasi informasi yang dapat merugikan kehidupan sosial maupun ekonomi. Selain itu, Haris juga menyoroti pentingnya literasi keuangan sebagai keterampilan baru yang wajib dimiliki masyarakat di era modern. Dengan menguasai literasi keuangan, masyarakat dapat mengelola sumber daya secara lebih bijak, merencanakan masa depan, dan memahami risiko keuangan yang mungkin dihadapi.
Sementara itu, Dian Napitupulu dari DPP PDI Perjuangan memberikan perspektif yang lebih ideologis terkait pentingnya literasi. Ia menyampaikan bahwa literasi bukan hanya sekadar aktivitas membaca buku, tetapi juga alat perjuangan untuk membangun kesadaran kritis masyarakat. Literasi, menurutnya, adalah jembatan penghubung antar generasi yang memungkinkan transfer nilai, pengetahuan, serta semangat kebangsaan. Ia menegaskan bahwa generasi muda perlu menghidupkan kembali tradisi membaca yang menjadi bagian dari warisan intelektual bangsa. Selain itu, kemampuan berdialog, berargumentasi, serta memahami perbedaan pandangan juga menjadi bagian integral dari literasi yang bermakna.
Suasana diskusi berjalan hangat dan interaktif. Para peserta dari berbagai kelompok usia saling bertukar pandangan yang membuka ruang dialog sehat. Generasi muda tampil dengan gagasan inovatif yang mencerminkan perkembangan pemikiran di era digital, sementara generasi senior memberikan perspektif historis dan nilai-nilai kebijaksanaan yang menjadi kekayaan tersendiri. Pertukaran gagasan antara kedua generasi ini menciptakan harmoni intelektual yang memperkaya pemahaman mengenai literasi sebagai kebutuhan bersama.
Diskusi ini juga menjadi refleksi bahwa literasi harus dilihat sebagai proses yang berkelanjutan. Para peserta menyadari bahwa tantangan literasi di era digital bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami konteks, berpikir kritis, serta mengelola perbedaan secara konstruktif. Dengan situasi sosial yang semakin kompleks, gerakan literasi lintas generasi dianggap mampu menjadi solusi untuk memperkuat fondasi masyarakat yang cerdas, adaptif, dan berkarakter.
Ke depan, Haris Turino dan Dian Napitupulu berharap agar gerakan literasi lintas generasi dapat dikembangkan menjadi program nasional yang dapat melibatkan lebih banyak elemen masyarakat. Mereka menilai bahwa penguatan literasi akan meningkatkan kesiapan bangsa menghadapi berbagai tantangan, termasuk transformasi digital, persaingan global, hingga menjaga jati diri budaya Indonesia. Dengan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas literasi, dan masyarakat, gerakan literasi dapat menjadi kekuatan besar untuk memajukan bangsa.
(NurDibyo/Muchlasin)





















Komentar