Menakar Sistem MBG: Solusi atau Tantangan Baru dalam Penanganan Stunting di Indonesia? (Oleh: Layyina Dinda Larasati)


ARTIKEL PENUGASAN


Baca Juga: Pemimpin Umum Mediapatriot.co.id Hamdanil Asykar Tegaskan Pentingnya UKW bagi Wartawan


Disusun oleh : Layyina Dinda Larasati (172251079)


Dosen Pengampu : Tania Ardiani Saleh, Dra., M.S.

Mata Kuliah : Logika dan Pemikiran Kritis


UNIVERSITAS AIRLANGGA – SURABAYA


Tahun 2025


Menakar Sistem MBG: Solusi atau Tantangan Baru dalam Penanganan Stunting di Indonesia?

PENDAHULUAN

Anak-anak lahir di negeri kaya, sebuah negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya terus melonjak dan menjadi kebanggaan banyak pihak. Namun, di balik angka-angka gemilang itu, ada hal yang sering terlupakan — bagaimana mungkin anak-anak itu benar-benar tumbuh, jika tubuh dan pikirannya tak pernah mendapatkan asupan gizi yang cukup?

Stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, bukan sekadar tentang tinggi badan. Ia adalah luka tersembunyi yang memengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh, bahkan kemampuan belajar anak (WHO, 2020).
Pertanyaannya, apakah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan pemerintah mampu menjadi solusi?


ARGUMEN

Program MBG adalah program unggulan Prabowo–Gibran yang mulai berjalan sejak 6 Januari 2025. Program ini memang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, apakah itu cukup untuk mencegah stunting?

Faktanya, stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis sejak masa kehamilan. Jika ibu hamil tidak mendapatkan nutrisi cukup, perkembangan janin terganggu dan berlanjut hingga anak lahir. Stunting tidak muncul secara tiba-tiba. Pencegahan harus dilakukan sejak awal kehidupan, bahkan sebelum anak lahir.

Pakar gizi Universitas Hohenheim, Veronika Scherbaum, menegaskan bahwa ASI eksklusif berperan besar menurunkan risiko stunting karena kandungan nutrisi lengkap di dalamnya.

Dengan demikian, MBG bukan satu-satunya solusi. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh:

  • Edukasi gizi untuk remaja
  • Pemenuhan nutrisi ibu hamil
  • Perbaikan sanitasi
  • Pola asuh yang tepat
  • Akses layanan kesehatan

WHO (2020) dan Kemenkes RI (2023) menegaskan bahwa stunting merupakan masalah multidimensi, bukan sekadar soal makanan.

Tantangan lain adalah keberlanjutan program. MBG memerlukan:

  • Pengawasan gizi menu
  • Ketepatan sasaran penerima
  • Konsistensi distribusi
  • Pengawasan pusat katering
  • Monitoring jangka panjang

UNICEF (2021) menyebutkan bahwa kegagalan program intervensi gizi biasanya terjadi jika pendanaan dan pengawasannya tidak konsisten.


PENUTUP

Stunting tidak bisa diatasi oleh satu program saja. Program MBG baik sebagai langkah awal, tetapi hanya menjadi bagian kecil dari solusi besar yang harus dilakukan Indonesia.

Pemerintah harus:

  • menjaga kualitas menu MBG,
  • mengawasi dana dan distribusi,
  • memberi edukasi gizi sejak masa remaja,
  • fokus pada kesehatan ibu hamil dan menyusui,
  • memperkuat layanan kesehatan dasar.

Tanpa pendekatan menyeluruh, MBG hanya menjadi program jangka pendek tanpa mengatasi akar masalah.

Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, MBG harus dipandang sebagai langkah awal, bukan tujuan akhir.


REFERENSI

(Referensi tetap saya biarkan sebagaimana aslinya)




Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN >>>


Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.


>

Posting Terkait

Jangan Lewatkan