Disusun Oleh : Zidan Tardian Putra
Disusun Oleh : Zidan Tardian Putra
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Rini Devijanti Ridwan, drg., M.Kes.
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
Tahun 2025
Apa itu Lab Gigi/Dental Lab?
Bayangkan bagaimana jadinya kalau tidak ada gigi palsu di dunia, para lansia tidak dapat tampil nyentrik dengan gigi yang sudah ompong. Disitulah peran seorang tekniker gigi dengan rumah berkaryanya yang bernama dental laboratorium atau lab gigi. Saya baru saja melakukan kunjungan ke Alami Dental Laboratory, sebuah dental lab Surabaya yang sudah berdiri sejak era reformasi, 1998. Berbincang dengan Pak Ramlan, sang manajer, seperti membuka buku panduan lengkap untuk survive dan berkembang di profesi ini.
Inilah catatan menarik yang bisa menjadi bekal berharga, bukan hanya untuk calon tekniker gigi, tapi juga untuk memahami dunia kesehatan gigi dari sudut pandang yang berbeda.
“Ga semua orang punya 1 visi,” ujar Pak Ramlan. Itulah tantangan manajemen terbesarnya. Lab dengan 15 karyawan yang 10 di antaranya lulusan Teknik Gigi UNAIR, ini membuktikan bahwa menyatukan hati dan pikiran lebih sulit daripada membuat crown gigi yang presisi.
Kuncinya? Kedisiplinan, inisiatif, dan ketekunan. Tiga nilai ini adalah “nilai tambah” yang membuat lab ini tetap eksis dan dipercaya banyak dokter.
Orderan mengalir dari rumah sakit gigi, klinik gigi, hingga dokter gigi yang membuka praktik pribadi. Untuk RS, kerjasama diformalkan dengan MoU (Perjanjian Kerjasama). Sedangkan untuk dokter, kuncinya adalah kepercayaan.
“Kepuasan dokter gigi adalah nomor satu,” tegas Pak Ramlan. Hasil kerja yang bagus adalah marketing terbaik. Satu dokter yang puas, akan merekomendasikan ke rekan-rekannya. Simple, tapi powerful.
Inilah pola unik yang jarang diketahui orang:
Fenomena ini menunjukkan bahwa perawatan gigi, terutama yang estetik, masih dianggap sebagai biaya tambahan yang bisa ditunda.
Di era serba digital, Alami Dental Laboratory justru masih bertahan dengan teknik konvensional. Teknologi mutakhir seperti exocad (desain gigi digital) dan material zirconia belum mereka gunakan.
Penyebabnya yakni harga mesin yang relatif mahal. Ini adalah realita yang dihadapi banyak pelaku usaha menengah di Indonesia. Namun, ini juga membuka peluang bagi lulusan baru yang menguasai teknologi digital untuk menjadi pionir.
Bagi Anda yang masih mahasiswa atau fresh graduate, simak wejangan emas dari Pak Ramlan:
Refleksi Akhir: Profesi yang Tak Pernah Padam
Di balik setiap senyum yang kita lihat, bisa jadi ada jejak kerja keras seorang tekniker gigi. Profesi ini akan selalu dibutuhkan selama manusia masih punya gigi dan ingin tampil percaya diri.
Kunjungan singkat ini membuktikan bahwa kesuksesan tidak hanya datang dari keahlian teknis semata, tetapi juga dari kemampuan membangun tim, menjaga kepercayaan klien, dan memahami gelombang pasar. Siap untuk menjadi bagian dari unsung hero ini?
Referensi