Mediapatriot.co.id Jakarta 6 Desember 2025
Indonesia sebagai bangsa yang besar yang terdiri atas banyak provinsi, Suku, Agama,Bahasa Daerah dan segala budaya yang tersebar di berbagai pelosok daerah Indonesia, tentunya sejak dahulu kala terutama setelah masa kemerdekaan Indonesia dicapai, Banyak sekali kehidupan berbangsa dan bernegara ini selalu berlandaskan pola Keagamaan.
Sebagaimana Dasar negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila Dan UUD’ 45 dalam konsep kehidupan bernegara ini dijadikan Parameter utama dalam pelaksanaannya.Khusus Konsep Ketuhanan dalam Negara Indonesia bisa kita lihat Dasar Dan Landasan utamanya bagaimana di jadikan Sila Pertama dalam Pancasila. 1.Ketuhanan Yang Maha Esa.
Konsep Sila Pertama tersebut menjadi dasar menjalankan Kehidupan Beragama di Indonesia agar Kerukunan Umat beragama yang Dijamin Pancasila Dan UUD 45 Bisa menjamin ” kebebasan Warga Negara Dan Rakyat Indonesia ” Menjalankan Agama menurut agama dan kepercayaan masing masing, Sehingga adanya Parameter Utama tsb ( Pancasila dan UUD’45 ) Akan menciptakan ketenangan kenyamanan dan kerukunan bagi pemeluk agama Indknesia menjalankan ibadah masing masing selama berada di Wilayah Republik Indonesia.
Kerukunan Umat beragama ini sangat penting menghindari ‘ Desintegrasi ” Di Indonesia sehingga bisa mewujudkan tujuan berdirinya bangsa dan negara Indonesia yaitu masyarakat Adil Makmur dan Sejahtera di Indonesia tercinta ini, inilah salah satu pokok landasan kehidupan di Indonesia yaitu ” Kerukunan antar Umat Beragama Indonesia ”
kementerian Agama dan Muslim World League (MWL) menggelar Dialog kerukunan lintas umat beragama sebagai respon atas kebutuhan memperkuat moderasi beragama, stabilitas sosial, dan hubungan antar komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
“Kerukunan merupakan ekspresi iman sekaligus jalan menjaga martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta fondasi kehidupan berbangsa yang adil dan tenteram,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Ia menambahkan bahwa masa depan manusia tidak dapat dibangun dengan kompetisi yang saling membinasakan, melainkan melalui persaudaraan kemanusiaan, penghormatan martabat, dan sinergitas spiritual antarkomunitas beriman.
Menag menekankan pentingnya memadukan kerukunan antarumat beragama dengan harmoni kosmik, mengingat seluruh tradisi besar menegaskan kewajiban manusia menjaga alam sebagai amanah ciptaan Tuhan yang harus dirawat bersama.
Dalam kesempatan wawancara terpisah dengan awak media dalam acara tsb, Bpk Richard Radja HAAK Dekenat Bekasi mengatakan bahwa Para Pemuka Umat menekankan harus ada tindakan nyata dalam menyelamatkan ” Mata Pelajaran ” mulai dari tingkat dasar bahkan TK hingga tingkat tertinggi harus ada” Kesejahteraan Bersama” yang berdasarkan Teologis, Humanis Dan Ekologist, Tanpa itu maka Indonesia tidak akan Maju maju dan akan terus selalu mengadakan kegiatan dialog keagamaan seperti ini, ujar beliau menambahkan sesi wawancaranya kepada para awak media yang mewawancarai nya.
Beliau yng juga pemeluk agama Katolik dan Sebagai Ketua DEKANAT BEKASI sngat menekankan ketiga aspek tsb ( Teologis, Humanist Dan Ekologist) tanpa hal tsb, maka hanya akan jadi omon omon belaka. Beliau juga menambahkan contohnya budaya orang naik transportasi. Ketika ada yang jauh lebih tua maka diutamakan untuk dapat duduk, dan sebagai perbandingan budaya kita dengan singapura kita tertinggal sangat jauh.
Kepada awak media beliau jg menambahkan bahwa Harapannya adalah bahwa Kementerian Agama dan juga Kementerian Pendidikan juga sangat bagus, sehingga diharapkan dapat ” Berkolaborasi ” Sehingga dapat mewujudkan Kurikulum yang Baik dan Bagus sebagaimana mengutip 6-7 Pembicara di acara Dialog Lintas Agama tersebut, sambil mengakhiri Sesi wawancara tsb 
Ia mengingatkan bahwa kerukunan dengan alam merupakan tingkat tertinggi karena mencerminkan keseimbangan batin, ketenangan jiwa, serta Relasi ekologis yang menentukan keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Menurutnya, berbagai tantangan nasional seperti ujaran kebencian, polarisasi publik, dan ancaman disintegrasi hanya dapat dijawab melalui kelebihan nurani, keteguhan moral, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
Indonesia kembali dipuji dunia sebagai mercusuar kerukunan setelah delegasi antaragama Austria mempelajari praktik toleransi Indonesia, terutama dalam mengelola 1.340 suku dan ratusan bahasa daerah dengan stabilitas sosial tinggi.
Delegasi tersebut terkesan melihat bagaimana masyarakat Indonesia mempertahankan kohesi sosial, sementara banyak negara homogen justru menghadapi tekanan identitas yang menggerus ruang dialog antarwarganya.
Nasaruddin menyebut keberagaman Indonesia bukan hambatan, melainkan energi kolektif yang memperkuat masyarakat menghadapi transformasi zaman, krisis global, dan dinamika sosial yang terus berubah secara cepat.
Ia menegaskan bahwa semua agama mengajarkan penghormatan terhadap alam, sehingga penebangan liar, perusakan sungai, dan kerusakan ekologis harus dihentikan demi masa depan manusia dan stabilitas lingkungan.
Pertanyaan penting pun ia ajukan: sampai kapan umat manusia menunda perbaikan ekologis sebelum bencana semakin berat dan menimbulkan penderitaan luas seperti banjir, longsor, dan krisis iklim berkepanjangan?
Ia menutup pesan bahwa dialog hari ini harus menjadi energi bersama memperluas kerja sama lintas agama, memperdalam persahabatan spiritual, serta memperkuat perdamaian bagi Indonesia dan masyarakat dunia.
Kontributor : ( Indra Permana )







