Disusun Oleh: Ganjar Eka Subakti
PENDAHULUAN
Pendidikan agama di sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak generasi muda. Namun, dalam praktik sehari-hari, adab atau etika dalam interaksi sosial sering kali terlupakan. Ketidakpatuhan terhadap norma kesopanan, rasa hormat terhadap guru, dan tata krama dalam berkomunikasi menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan agama dan praktik nyata.
Fenomena ini menjadi alarm bagi lembaga pendidikan untuk mengevaluasi efektivitas pengajaran agama. Jika adab tidak ditanamkan secara konsisten, pendidikan agama berpotensi hanya menjadi hafalan teori tanpa implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini membahas pentingnya adab dalam pendidikan agama dan strategi yang dapat diterapkan untuk mengembalikan peranannya di sekolah.
ISI
Adab sebagai Fondasi Pendidikan Agama
Adab mencakup perilaku sopan, hormat, dan kesadaran etis dalam interaksi sosial. Dalam konteks pendidikan agama, adab tidak hanya mengatur hubungan antara murid dan guru, tetapi juga membentuk pola interaksi antar sesama siswa. Anak yang memiliki adab yang baik cenderung mampu menginternalisasi nilai-nilai agama secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa banyak siswa menguasai pengetahuan agama, tetapi praktik adab masih lemah. Contohnya, ketidakpatuhan dalam mengikuti aturan kelas, perilaku kasar dalam diskusi, atau ketidakmampuan menghargai pendapat orang lain. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan adab sebagai bagian integral dari pendidikan agama, bukan sekadar materi tambahan.
Pendidikan Adab melalui Kurikulum dan Aktivitas Sekolah
Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menjadikan adab sebagai bagian dari kurikulum pendidikan agama. Pendekatan yang bisa diterapkan meliputi:
- Pembiasaan Harian: Kegiatan sederhana seperti salam, menghormati guru, dan antri dengan tertib dapat membentuk karakter siswa secara konsisten.
- Pembelajaran Kontekstual: Materi pendidikan agama dikaitkan dengan praktik nyata, misalnya bagaimana nilai kesabaran diterapkan saat menghadapi konflik di sekolah.
- Kegiatan Ekstrakurikuler: Kegiatan seperti pramuka, osis, atau kepedulian sosial dapat mengajarkan adab melalui pengalaman langsung.
- Teladan Guru: Guru yang menerapkan adab dalam interaksi sehari-hari menjadi model bagi siswa untuk meniru perilaku positif.
Peran Lingkungan dan Dukungan Orang Tua
Selain sekolah, keluarga juga berperan penting dalam menanamkan adab. Orang tua yang konsisten mengajarkan sopan santun, menghormati orang lain, dan menginternalisasi nilai agama akan mendukung pendidikan adab di sekolah. Sinergi antara rumah dan sekolah akan memperkuat pembentukan karakter yang utuh pada anak.
Tantangan Implementasi Pendidikan Adab
Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain: perubahan sosial yang cepat, pengaruh media digital yang kurang mendidik, serta kurangnya perhatian guru terhadap aspek adab dibandingkan materi akademik. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan strategi yang sistematis dan evaluasi berkelanjutan agar pendidikan adab tidak kehilangan relevansinya.
PENUTUP
Adab yang terlupakan di sekolah menjadi alarm penting bagi pendidikan agama. Pendidikan agama yang efektif tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan perilaku sopan, hormat, dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah, guru, dan orang tua memiliki peran strategis dalam memastikan adab menjadi fondasi pendidikan agama. Dengan menekankan adab secara konsisten, pendidikan agama dapat membentuk karakter generasi muda yang berakhlak mulia, siap menghadapi tantangan sosial, dan menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab.
LAMPIRAN
Tidak ada
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. (2004). Ihyaโ Ulumuddin. Jakarta: Pustaka Azzam.
Depdiknas. (2018). Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
Suharto, E. (2020). Pendidikan Karakter dan Adab di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muslich, M. (2019). Pendidikan Islam: Teori dan Praktik. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
