Senin | 22 Desember 2025 | Pukul | 13:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Aceh Tengah | Berita Terkini — Insiden terbaliknya rakit darurat yang ditumpangi Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Fadhlullah—akrab disapa Dek Fadh—saat kunjungan kerja ke kawasan Pameu, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi potret nyata rapuhnya akses dan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.
Peristiwa yang terjadi di tengah agenda peninjauan langsung dampak banjir dan longsor tersebut sekaligus menyingkap tantangan besar penanganan bencana di daerah-daerah terisolasi Aceh.
Kunjungan kerja Wagub Aceh dilakukan sebagai bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat yang terdampak banjir dan longsor, sekaligus untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi lapangan.
Dalam rombongan tersebut turut hadir General Manager (GM) PLN serta sejumlah pejabat dan pihak terkait lainnya yang memiliki peran strategis dalam pemulihan pascabencana, termasuk pemulihan akses energi dan logistik.
Namun, keterbatasan infrastruktur memaksa rombongan mengambil risiko. Akses darat menuju lokasi terputus total akibat terjangan banjir dan longsor, sehingga satu-satunya pilihan untuk mencapai wilayah tersebut adalah menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat.
Rakit yang digunakan terbuat dari material sederhana berupa kayu dan drum, ditarik menggunakan tali sling—sebuah solusi darurat yang mencerminkan keterbatasan sarana di lapangan.
Berdasarkan video yang beredar pada Minggu (21/12/2025), tampak sejumlah orang berada di atas rakit saat proses penyeberangan berlangsung. Namun nahas, ketika rakit berada di tengah sungai dengan arus yang cukup deras, konstruksi darurat tersebut kehilangan keseimbangan dan terbalik, menyebabkan Wagub Aceh bersama rombongan tercebur ke sungai.
Situasi sempat memicu kepanikan. Warga setempat dan petugas yang berada di sekitar lokasi dengan sigap melakukan upaya penyelamatan.
Tanpa menunggu instruksi, sejumlah orang langsung terjun ke sungai untuk membantu mengevakuasi para penumpang rakit, menunjukkan refleks solidaritas dan kepedulian masyarakat di tengah situasi darurat.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Aceh, Akkar Arafat, memastikan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Seluruh penumpang rakit, termasuk Wakil Gubernur Aceh, berhasil dievakuasi dengan selamat.
“Wakil Gubernur Aceh dan seluruh rombongan berhasil dievakuasi.
Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” ujar Akkar dalam keterangan resminya.
Meski tidak menelan korban, peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait.
Insiden tersebut mengungkap fakta bahwa dalam kondisi darurat, keterbatasan akses tidak hanya menghambat distribusi bantuan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan petugas dan pejabat yang turun langsung ke lapangan.
Pengamat kebencanaan menilai kejadian ini mencerminkan urgensi penataan ulang sistem mitigasi dan penanganan bencana, khususnya di wilayah pedalaman dan perbukitan Aceh.
Pembangunan infrastruktur tangguh bencana, jalur evakuasi alternatif, serta standar keselamatan dalam penggunaan sarana darurat menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.
Di sisi lain, keberanian Wakil Gubernur Aceh untuk tetap melanjutkan agenda peninjauan, meski dihadapkan pada risiko dan keterbatasan, dinilai sebagai bentuk komitmen moral dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat terdampak tidak dibiarkan berjuang sendiri.
Kehadiran langsung pimpinan daerah di lokasi bencana memiliki makna simbolik sekaligus strategis dalam mempercepat respons dan pengambilan kebijakan.
Insiden rakit terbalik ini akhirnya tidak hanya menjadi catatan tentang sebuah kecelakaan, melainkan juga refleksi tentang ketimpangan akses, kerentanan wilayah, dan tantangan nyata penanganan bencana di Aceh.
Pemerintah Aceh diharapkan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh guna memperkuat kesiapsiagaan, keselamatan, dan keberlanjutan pembangunan di wilayah-wilayah rawan bencana.
Dengan demikian, tragedi yang nyaris terjadi tersebut justru menghadirkan pesan
penting : bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan empati dan kehadiran, tetapi harus ditopang oleh infrastruktur yang layak, perencanaan matang, serta sistem keselamatan yang teruji—demi melindungi masyarakat dan mereka yang hadir untuk melayani.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)













Komentar