Disusun oleh : Siti Fajar Awaliyatun
Program Studi : Pendidikan Matematika
Fakultas : Ilmu Tarbiyah & Keguruan
Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun : 2025
Perundungan, atau bullying, adalah kata yang memicu rasa sakit dan kemarahan. Baik terjadi di koridor sekolah yang ramai atau di ruang obrolan daring yang gelap, dampaknya melumpuhkan. Namun, untuk mengakhiri siklus perundungan, kita harus berani melihat melampaui tindakan agresif itu sendiri. 
Bagaimana jika setiap tindakan intimidasi yang kita saksikan bukan sekadar kenakalan, melainkan sebuah sinyal bahaya? Bagaimana jika di balik topeng “pembully” yang keras kepala, tersembunyi seseorang yang berjuang dan sedang meminta pertolongan?
Membuka Topeng: Psikologi di Balik Perilaku Agresif
Masyarakat seringkali cepat melabeli pelaku perundungan sebagai sosok jahat, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa perilaku perundungan hampir selalu berakar pada rasa tidak nyaman yang mendalam.
Pelaku bullying seringkali memiliki kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi dan mereka menyalurkannya melalui dominasi atas orang lain. Beberapa akar masalah yang umum meliputi:
- Harga Diri yang Rapuh (Insecurity)
Paradoksnya, orang yang paling sering mencoba menjatuhkan orang lain adalah mereka yang paling takut jatuh. Perundungan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan. Dengan menindas, mereka merasa berkuasa dan mengalihkan perhatian dari kelemahan atau rasa tidak nyaman pada diri sendiri. - Pengalaman Menjadi Korban
Sering kali, seorang pelaku perundungan pernah menjadi korban. Mereka mungkin meniru perilaku agresif yang mereka alami di rumah atau lingkungan sosial sebagai cara untuk mendapatkan kontrol atau memproses rasa sakit mereka. Ini adalah manifestasi dari pepatah lama: hurt people hurt people. - Ketidakmampuan Mengelola Emosi
Banyak pelaku kekurangan keterampilan dasar dalam mengelola frustrasi, kemarahan, atau kecemasan. Mereka tidak tahu cara memproses emosi negatif secara sehat, sehingga cara termudah adalah meledakkannya kepada pihak yang dianggap lebih lemah.
Mengubah Arah: Dari Hukuman Menuju Dukungan
Jika kita mengakui bahwa perundungan adalah simtom dari masalah yang lebih dalam, pendekatan kita harus berubah dari sekadar menghukum menjadi menawarkan rehabilitasi dan koneksi. Inilah empat pilar strategi kebersamaan yang efektif:
- Intervensi Berbasis Empati
Alih-alih langsung memberikan sanksi berat, fasilitasi dialog yang restoratif. Pendekatan ini fokus pada bagaimana tindakan mereka memengaruhi korban. Pertanyaan seperti, “Menurutmu bagaimana perasaan temanmu setelah kamu melakukan itu?” jauh lebih kuat daripada sekadar, “Kenapa kamu melakukan itu?” Tujuannya adalah membangun kembali koneksi saraf yang menghubungkan tindakan dengan konsekuensi emosional. - Membangun Keterampilan Sosial Positif
Pelaku perundungan memerlukan pelatihan keterampilan sosial. Ini termasuk kursus manajemen konflik, kelas kepemimpinan yang berfokus pada kolaborasi, dan kegiatan kelompok yang mengajarkan pentingnya kerja sama tim, bukan dominasi. - Pemberdayaan dalam Perbaikan
Libatkan mantan pelaku dalam gerakan anti-perundungan. Ketika seseorang yang pernah melakukan kesalahan menjadi duta perubahan, pesannya akan resonan lebih kuat. Ini memberikan mereka rasa tanggung jawab dan validasi positif yang sangat mereka butuhkan. Mereka belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada mengangkat, bukan menjatuhkan. - Peran Komunitas (Lingkar Pengaman)
Perundungan tidak akan hilang hanya dengan fokus pada pelaku dan korban; dibutuhkan peran aktif komunitas. Guru, orang tua, dan rekan sebaya harus menjadi “lingkar pengaman” yang tidak mentolerir tindakan perundungan dan secara konsisten menunjukkan model perilaku yang menghormati serta mendukung.
Kebersamaan adalah Vaksin Terbaik
Mengubah nada dari permusuhan menjadi kebersamaan adalah tugas kita bersama. Ini membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan yang paling penting, keberanian untuk melihat manusia di balik label.
Ketika kita berhasil memicu empati pada seseorang yang pernah melakukan perundungan ketika mereka memahami bahwa mereka adalah bagian dari komunitas, bukan ancaman bagi komunitas, saat itulah siklus kekerasan terhenti.
Mari kita pastikan bahwa setiap anak, termasuk mereka yang tersesat di jalur perundungan, tahu bahwa mereka dilihat, didengar, dan layak mendapatkan dukungan. Karena kebersamaan adalah vaksin terbaik melawan intimidasi.










