Oleh : Ismiatus Syah Rani (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura)
Bangkalan, 22 Desember 2025 – Saat ini, dengan masyarakat yang semakin terbuka, permasalahan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) terus menjadi tema hangat di perguruan tinggi di Indonesia. Terutama di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), yang terletak di Pulau Madura, Jawa Timur, pembahasan ini sering kali muncul dalam diskusi baik akademik maupun sosial. Debat mengenai hal ini sering menimbulkan pertanyaan krusial: apakah kebebasan akademik benar-benar aman, ataukah terhalang oleh norma sosial dan aturan kampus?
Menurut informasi dari portal tugas akhir UTM, sejumlah penelitian mahasiswa memfokuskan pada perilaku seksual mahasiswa gay di daerah Kabupaten Bangkalan. Ada skripsi dari mahasiswa UTM yang memperhatikan aktivisme komunitas gay melalui organisasi seperti GAYa NUSANTARA di Surabaya, yang berupaya menggalang dukungan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan. Temuan ini menegaskan bahwa isu LGBT bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian dari gerakan sosial yang lebih luas.
Dalam wawancara dengan berbagai mahasiswa UTM, terdapat beragam pendapat. Salah satu mahasiswa anonim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang kita sebut LY, mengungkapkan, “Kadang-kadang, orang yang menyukai sesama jenis berkumpul di kantin fakultas hukum. Mereka berbagi cerita, membahas cinta, bahkan merasa cemburu jika pasangan mereka dekat dengan orang lain.” Pandangan ini menunjukkan bahwa sudah ada keberadaan komunitas LGBT di kampus sejak tahun 2016, meski sering kali ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat sekitar.
Namun, tidak semua mahasiswa sepakat mengenai penerimaan isu ini. Mahasiswa lain dari Fakultas Psikologi berinisial RS, yang terlibat dalam penelitian psikoedukasi tentang LGBT, menekankan kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan remaja agar terhindar dari diskriminasi. “Psikoedukasi dapat membantu remaja memahami LGBT tanpa stigma, namun di kampus, pembicaraan semacam ini seringkali dibatasi karena dianggap sensitif,” jelas RS. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan bisa meningkatkan pemahaman, tetapi penerapannya di UTM masih sangat terbatas.
Sebaliknya, kebebasan akademik menjadi hal yang penting. Sebuah artikel ilmiah dari Universitas Airlangga menunjukkan bahwa komunitas LGBT di kampus-kampus Indonesia masih kurang dilindungi, walaupun negara mendukung hak asasi manusia. “Kasus diskriminasi terhadap LGBT di kampus sering kali diabaikan, padahal kebebasan akademik seharusnya menjamin adanya diskusi tanpa rasa khawatir,” tulis artikel dalam jurnal tersebut. Di UTM, meskipun ada skripsi yang mengangkat isu ini, pembatasan terhadap diskusi terbuka masih menjadi kendala, sebagaimana yang terjadi di universitas lain seperti Universitas Sumatera Utara (USU) yang menyensor cerita cinta lesbian pada tahun 2019.
Pembatasan ini mengingatkan pada pernyataan Menteri Riset dan Teknologi pada tahun 2016 yang melarang orang LGBT memasuki kampus, yang dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Salah satu mahasiswa UTM program studi ekonomi pembangunan berinisial ND menyatakan, “Kebebasan akademik jadi dipertanyakan ketika topik seperti LGBT dianggap tabu, meskipun melanggar agama dan norma mereka tetap bersikap bebas. Kampus seharusnya menjadi ruang untuk diskusi ilmiah, bukan hanya menjaga moral.” Jelas ND.
Isu ini akan semakin krusial pada tahun 2025, terlebih dengan laporan dari Amnesty International mengenai kekerasan terhadap komunitas gay di Aceh yang memengaruhi cara pandang masyarakat. Di UTM, yang bertekad untuk memberdayakan masyarakat sesuai dengan potensi Madura, mungkin bisa jadi langkah baik untuk memasukkan topik LGBT dalam pelajaran atau diskusi mahasiswa. Namun, tanpa adanya perlindungan hak asasi manusia yang kuat, kebebasan di bidang akademis masih berpotensi terancam.
Hingga kini, pihak kampus belum memberikan jawaban resmi mengenai isu ini. Di sisi lain, mahasiswa diharapkan untuk terus mendorong adanya percakapan terbuka agar lingkungan kampus menjadi lebih inklusif dan terbebas dari diskriminasi.
Meningkatnya Isu LGBT di Sekitar Kampus (Oleh: Ismiatus Syah Rani)










