Rabu | 31 Desember 2025 | Pukul | 06:30 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Upaya pemerintah bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam mengakselerasi peningkatan produksi minyak nasional kembali menunjukkan babak penting.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Petrogas (Basin) Ltd.
Resmi melaksanakan injeksi perdana Proyek Pilot Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Walio, Wilayah Kerja (WK) Kepala Burung, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.
Pelaksanaan injeksi perdana ini menandai dimulainya tahapan krusial dalam pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) Wilayah Kerja Kepala Burung, sekaligus menjadi tonggak strategis pengembangan teknologi peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery) di wilayah Indonesia bagian timur yang dikenal memiliki tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.
Prosesi injeksi perdana dilakukan langsung oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, yang menegaskan bahwa proyek CEOR Walio bukan sekadar kewajiban kontraktual, melainkan bagian dari strategi jangka panjang optimalisasi lapangan migas mature nasional.
“Injeksi perdana ini merupakan milestone penting dalam rencana pengembangan CEOR di Lapangan Walio.
Lebih dari pemenuhan KKP, kami berharap hasil pilot project ini memenuhi kriteria keberhasilan sehingga dapat ditindaklanjuti ke tahap pengembangan CEOR skala komersial,” ujar Rikky dalam keterangannya, Selasa (30/12/2025).
Teknologi CEOR Dorong Minyak Sisa ke Permukaan
CEOR merupakan metode lanjutan peningkatan perolehan minyak dengan cara menginjeksikan bahan kimia tertentu—seperti surfaktan dan polimer—ke dalam reservoir atau lapisan batuan di bawah permukaan bumi.
Metode ini bertujuan menurunkan tegangan antarmuka dan meningkatkan mobilitas fluida sehingga minyak sisa yang sebelumnya sulit diproduksikan dapat terdorong menuju sumur produksi.
Pada proyek CEOR Walio, skema injeksi diterapkan dengan pola lima titik, yang terdiri dari satu sumur injeksi dan empat sumur produksi.
Injeksi diarahkan ke reservoir Kais, yakni reservoir karbonat yang telah memasuki fase mature dan telah berproduksi lebih dari empat dekade.
Reservoir ini merupakan tulang punggung produksi minyak di WK Kepala Burung.
Rikky menekankan bahwa keberhasilan proyek ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa keterbatasan lokasi dan tantangan wilayah terpencil tidak menjadi hambatan apabila didukung oleh komitmen, dedikasi, serta kerja keras seluruh pemangku kepentingan.
“Proyek ini membuktikan bahwa lokasi yang remote dan jauh bukan menjadi penghalang.
Dengan perencanaan matang dan sinergi yang kuat, seluruh tahapan persiapan hingga pelaksanaan dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Dorong Cadangan Baru dan Perpanjang Usia Produksi
Lebih lanjut, SKK Migas optimistis bahwa pengembangan CEOR skala komersial di Lapangan Walio, yang dikombinasikan dengan pengembangan struktur-struktur baru hasil eksplorasi, akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan, tambahan produksi, serta perpanjangan usia produksi WK Kepala Burung.
Dampak lanjutan dari keberhasilan proyek ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh operator, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara serta menggerakkan industri dan jasa penunjang sektor hulu migas, khususnya di kawasan Indonesia timur.
Selain itu, proyek CEOR Walio diharapkan menjadi role model dan inspirasi bagi KKKS lain yang mengoperasikan lapangan-lapangan potensial EOR, baik di wilayah remote maupun di daerah dengan infrastruktur migas yang lebih mapan seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Komitmen Petrogas Optimalkan Produksi Nasional
Sementara itu, President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim, menegaskan bahwa pilot project CEOR ini merupakan wujud komitmen Petrogas (Basin) Ltd.
dalam menjalankan KKP sekaligus mengoptimalkan potensi produksi Lapangan Walio.
“Keberhasilan pilot project ini akan membuka peluang besar bagi Petrogas (Basin) Ltd.
untuk mengembangkan penerapan CEOR di area yang lebih luas. Hal ini akan memperkuat rencana jangka panjang perusahaan dalam meningkatkan produksi minyak serta memaksimalkan perolehan cadangan,” ungkap Ferry.
Pelaksanaan pilot project ini didukung oleh pengoperasian fasilitas
Permukaan khusus, termasuk unit injeksi surfaktan–polimer, sistem pengolahan air, serta jaringan flowline pendukung.
Secara keseluruhan, implementasi proyek diperkirakan berlangsung selama 30 hingga 35 bulan, terhitung sejak dimulainya injeksi hingga penyelesaian evaluasi teknis akhir.
Lapangan Legendaris Migas Timur Indonesia
Sebagai informasi, Lapangan Walio merupakan lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia bagian timur.
Lapangan ini berlokasi sekitar 3 kilometer dari fasilitas Kasim Marine Terminal dan menjadi salah satu tulang punggung produksi di Wilayah Kerja Kepala Burung PSC.
Dengan dimulainya injeksi perdana CEOR ini, Lapangan Walio kembali mencatatkan sejarah baru sebagai simbol transformasi teknologi hulu migas nasional—dari sekadar mempertahankan produksi lapangan tua, menuju optimalisasi berkelanjutan berbasis inovasi dan efisiensi.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)
