Senin | 05 Januari 2026 | Pukul | 15:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Langkat | Sumatera Utara | Berita Terkini — Sejarah bangsa Melayu di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari satu peristiwa besar yang mengubah peta peradaban Asia Tenggara: jatuhnya Kerajaan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 Masehi.
Peristiwa ini bukan sekadar penaklukan politik, melainkan menjadi titik balik yang memicu migrasi besar-besaran orang Melayu ke berbagai wilayah yang kini menjadi bagian dari Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Sebelum peristiwa tersebut, Malaka telah tumbuh sebagai pusat peradaban Melayu-Islam, khususnya sejak Parameswara dan pengikutnya memeluk Islam pada tahun 1406 Masehi.
Sejak saat itu, identitas Melayu mengalami transformasi fundamental—bukan hanya sebagai entitas etnis, tetapi sebagai bangsa berperadaban yang berlandaskan Islam, bahasa, adat, dan sistem pemerintahan yang berdaulat.
Malaka: Pusat Awal Identitas Melayu Islam
Malaka pada abad ke-15 bukan sekadar pelabuhan dagang, tetapi jantung intelektual dan spiritual bangsa Melayu.
Bahasa Melayu berkembang sebagai lingua franca, hukum adat diperkaya oleh syariat Islam, dan struktur kerajaan menjadi model politik bagi wilayah-wilayah Melayu lainnya.
Namun, ketika Portugis menyerbu Malaka pada 1511, stabilitas politik runtuh.
Penaklukan ini memaksa para bangsawan, ulama, saudagar, dan rakyat Melayu untuk menyelamatkan diri demi mempertahankan agama, adat, dan martabat bangsa.
Migrasi Melayu dan Penyebaran Peradaban
Pasca-kejatuhan Malaka, orang-orang Melayu menyebar ke berbagai wilayah strategis.
Migrasi ini bukan pelarian tanpa arah, melainkan gerakan sadar untuk membangun kembali pusat-pusat kekuasaan Melayu di wilayah baru. Beberapa daerah tujuan utama antara lain:
–Pattani
-Pahang
-Langkat
-Deli
-Siak
-Jambi
-Banten
-Batavia
-Pontianak
-Sambas
-Sarawak
-Brunei
-Bulungan
-Sulu
-Manila
-Makassar
-Ambon
Di wilayah-wilayah tersebut, orang Melayu berperan penting dalam mendirikan kesultanan, mengembangkan perdagangan maritim, menyebarkan Islam, serta membentuk struktur sosial dan hukum adat yang masih bertahan hingga kini.
Melayu dan Indonesia: Ikatan Sejarah yang Tak Terpisahkan
Kehadiran orang Melayu di Langkat, Deli, Siak, Jambi, Banten, Batavia, Pontianak, Sambas, Bulungan, Makassar, dan Ambon menegaskan bahwa sejarah Indonesia adalah bagian integral dari sejarah Melayu.
Banyak kesultanan di Indonesia berdiri di atas fondasi nilai-nilai Melayu-Islam, menjadikan Melayu sebagai salah satu pilar pembentuk bangsa Indonesia modern.
Bahasa Melayu sendiri kelak menjadi dasar Bahasa Indonesia, bahasa persatuan yang menyatukan ratusan etnis di Nusantara.
Ini membuktikan bahwa kontribusi Melayu tidak hanya bersifat regional, tetapi nasional.
Kesaksian Sejarah dari Sumber Eropa
Jejak migrasi dan pengaruh Melayu ini juga tercatat dalam berbagai sumber sejarah Eropa, antara lain:
Manuel Godinho de Eredia (1613) yang menulis tentang jaringan Melayu pasca-Malaka
Willem Lodewycksz (1595–1597) yang mencatat aktivitas pelayaran dan perdagangan Melayu
Dagh Register (1673) arsip VOC mengenai kesultanan Melayu
Antonio Paiva (1544) tentang diaspora Melayu di Asia Tenggara
Hendrik Brouwer (1634) dan Henry Short (1625) yang mengamati pengaruh politik Melayu di Nusantara
Sumber-sumber ini memperkuat fakta bahwa migrasi Melayu merupakan fenomena sejarah yang nyata, terstruktur, dan berpengaruh luas.
Melayu sebagai Bangsa Berperadaban
Sejarah masuknya orang Melayu ke Indonesia bukan sekadar cerita perpindahan penduduk, melainkan kisah tentang ketahanan peradaban.
Di tengah penjajahan dan tekanan asing, bangsa Melayu memilih untuk menyebar, beradaptasi, dan membangun kembali jati dirinya tanpa kehilangan nilai-nilai dasar: agama, adat, bahasa, dan marwah.
Memahami sejarah ini bukan untuk membangkitkan romantisme masa lalu, tetapi untuk meneguhkan identitas kebangsaan bahwa Indonesia berdiri di atas warisan peradaban besar, salah satunya adalah peradaban Melayu yang berakar kuat dan berwawasan luas.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)










Komentar