Senin | 19 Januari 2026 | Pukul | 17:40 | WIB
Mediapatriot.co.id | Sorong | Papua Barat Daya | Berita Terkini – Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional pada awal tahun 2026. PT Pertamina EP (PEP) Papua Field berhasil mencatatkan lonjakan signifikan produksi minyak setelah sumur pengembangan Salawati SLW-C4X menunjukkan performa di atas ekspektasi.
Berlokasi di Formasi Kais, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, sumur ini mendorong total produksi lapangan menembus angka 2.020 barel minyak per hari (barrels of oil per day/BOPD), sekaligus menegaskan peran strategis kawasan timur Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Sumur SLW-C4X mulai ditajak pada 2 November 2025 dengan menggunakan Rig PDSI #11.2/N80B-M.
Dalam waktu yang relatif singkat, proses pengeboran dan penyelesaian sumur berjalan sesuai dengan rencana kerja dan standar operasional yang ketat.
Hasilnya, pada saat produksi perdana yang dimulai 15 Desember 2025, sumur ini langsung mencatatkan angka 1.094 BOPD, melampaui proyeksi awal yang telah ditetapkan dalam perencanaan teknis.
Sejak pertama kali onstream, kinerja SLW-C4X menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dan berdampak langsung pada total produksi PEP Papua Field. Data operasional mencatat, pada 16 Desember 2025 produksi lapangan berada di angka 1.535 BOPD, kemudian meningkat menjadi 1.800 BOPD pada 29 Desember 2025.
Tren positif ini terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 dengan produksi harian sebesar 2.007 BOPD, sebelum akhirnya melampaui 2.020 BOPD pada pertengahan Januari 2026.
General Manager Zona 14 Regional Indonesia Timur, Dadang Soewargono, menyebut capaian tersebut sebagai hasil dari kerja kolektif seluruh tim yang mengedepankan ketelitian teknis, disiplin operasional, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid.
“Keberhasilan sumur SLW-C4X di Formasi Kais merupakan wujud nyata komitmen kami dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Produksi yang kini melampaui 2.000 barel per hari menjadi kado awal tahun yang membanggakan bagi industri hulu migas Indonesia, khususnya dari kawasan Indonesia Timur,” ujar Dadang dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan operasional tersebut tidak hanya diukur dari sisi capaian produksi semata, melainkan juga dari kepatuhan terhadap aspek keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tata kelola perusahaan yang baik.
Menurutnya, prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) diterapkan secara konsisten dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengeboran, hingga proses produksi.
“Seluruh aktivitas kami pastikan berjalan dengan standar keselamatan tertinggi, meminimalkan dampak lingkungan, serta sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Ini adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai perusahaan energi nasional yang beroperasi di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dadang juga menyampaikan apresiasi kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Pemerintah Daerah, serta Masyarakat Adat setempat atas dukungan dan sinergi yang terjalin selama proses pengeboran dan produksi berlangsung.
“Dukungan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam pencapaian peningkatan produksi ini.
Sinergi yang baik antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi fondasi keberlanjutan operasi di wilayah Papua Barat Daya,” tambahnya.
Keberhasilan sumur SLW-C4X sekaligus menjadi suntikan optimisme bagi Pertamina EP Papua Field untuk melanjutkan program pengeboran sumur pengembangan berikutnya.
Saat ini, pengeboran sumur SLW-E6X tengah berlangsung dan diharapkan dapat kembali memperkuat kinerja produksi lapangan dalam waktu dekat.
Upaya ini sejalan dengan target perusahaan untuk menjaga tingkat produksi yang stabil dan berkelanjutan di tengah tantangan industri migas global.
Sebagai informasi, Regional Indonesia Timur Subholding Upstream
Pertamina mengelola aset hulu migas yang tersebar di berbagai wilayah strategis, mulai dari Jawa Timur, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga Papua, baik di wilayah offshore maupun onshore.
Selain itu, regional ini juga mengelola satu aset downstream strategis nasional, yakni Donggi Senoro LNG, yang berperan penting dalam rantai pasok gas alam Indonesia.
Dengan cakupan wilayah Zona 11 hingga Zona 14, Regional Indonesia Timur menjadi salah satu tulang punggung produksi energi nasional dari kawasan timur.
Peningkatan produksi di Papua Field melalui keberhasilan sumur SLW-C4X diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta menciptakan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Ke depan, Pertamina EP menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan potensi migas nasional secara profesional, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan, sejalan dengan semangat membangun kemandirian energi Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)
