Karena Faktor Alam Ambrol Lagi Tebing Bengawan Solo, Kontraktor Tetap Tanggung Jawab, FKMB Bakal Kawal Perbaikan Hingga Tuntas

BOJONEGORO – Mega proyek pembangunan tebing Bengawan Solo sepanjang sekitar 980 meter di wilayah Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, kembali mengalami ambrol pada Januari 2026. Proyek pengamanan tebing sungai yang menelan anggaran sekitar Rp40 miliar pada Tahun Anggaran 2024 tersebut sebelumnya juga sempat mengalami kerusakan pada Desember 2024 dan telah dilakukan perbaikan oleh pihak kontraktor pada tahun 2025.

Ambrolnya kembali tebing Bengawan Solo kali ini terjadi di wilayah Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, dengan panjang kerusakan diperkirakan mencapai 30 hingga 40 meter. Namun demikian, titik ambrol tersebut berada di lokasi yang berbeda dari bagian tanggul yang sebelumnya telah diperbaiki.

Forum Kedaulatan Masyarakat Bojonegoro (FKMB) memastikan akan mengawal proses perbaikan tebing tersebut hingga tuntas. Ketua FKMB, Edy Susilo, S.Sos., S.H., M.H., CPL, mengatakan bahwa pihak kontraktor telah menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

“Berdasarkan pantauan kami di lapangan, lokasi ambrol kali ini bergeser dan bukan di titik yang telah diperbaiki sebelumnya. FKMB akan tetap mengawal proses perbaikan karena kontraktor telah menyatakan bertanggung jawab,” ujar Edy kepada awak media, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Edy, ambrolnya tanggul tersebut lebih disebabkan oleh faktor alam, terutama tingginya intensitas hujan serta debit air Bengawan Solo yang meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Bojonegoro, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia yang bahkan telah mengalami banjir dengan kategori bencana.

“Secara teknis, pekerjaan pembangunan tanggul sudah dilakukan sesuai perencanaan. Namun kondisi cuaca ekstrem saat ini bisa dikategorikan sebagai force majeure atau keadaan memaksa,” jelasnya.

Edy menambahkan, dalam kondisi cuaca normal, tanggul tersebut diyakini tidak akan mengalami kerusakan serius. Meski demikian, karena masih dalam masa pemeliharaan dan pihak kontraktor menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab, maka perlu dilakukan kajian teknis secara komprehensif oleh instansi terkait.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU-SDA) Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, S.P., M.M., menjelaskan bahwa fungsi utama pembangunan tanggul Bengawan Solo adalah untuk menahan arus air agar tidak meluap ke area persawahan dan permukiman warga di sekitarnya.

Ia membenarkan bahwa titik yang ambrol pada awal Januari 2026 berada di lokasi yang berbeda dari bagian tanggul yang sebelumnya telah diperbaiki. Menjelang akhir masa pemeliharaan, kondisi alam yang ekstrem kembali memicu terjadinya kerusakan.

Pihak kontraktor pelaksana, PT Indopenta Bumi Permai (IBP) asal Surabaya, juga membenarkan adanya kerusakan tersebut. Humas PT IBP, Ardhiyana, menyampaikan bahwa panjang tebing yang ambrol mencapai sekitar 40 meter dan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk rencana perbaikan ulang.

FKMB mengapresiasi sikap kontraktor yang tetap menunjukkan tanggung jawab sambil menunggu hasil audit dan pemeriksaan teknis dari Pemkab Bojonegoro. Perbaikan diharapkan dapat segera dilakukan setelah kondisi cuaca memungkinkan, mengingat wilayah sekitar tanggul merupakan area persawahan produktif yang membutuhkan perlindungan maksimal.

“Apapun keputusan akhirnya, yang terpenting adalah solusi terbaik bagi kepentingan masyarakat. FKMB akan terus mengawal agar perbaikan benar-benar dilakukan hingga tuntas,” pungkas Edy.
(Red)

1 komentar

Komentar ditutup.