Jakarta, MediaPatriot.co.id – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa industri halal bukan sekadar isu keagamaan, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi (growth economic engine) yang memiliki potensi luar biasa bagi perekonomian nasional. Penegasan tersebut disampaikan dalam forum KADIN Sharia Economic Outlook 2026 yang digelar Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Menara KADIN Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Mengusung tema “Driving Indonesia’s Halal Industry Competitiveness and Global Export Readiness”, forum ini menjadi ruang strategis untuk membahas arah kebijakan serta kesiapan Indonesia dalam memperkuat daya saing industri halal menuju pasar global.
Dalam pemaparannya, Haikal Hasan mengungkapkan bahwa BPJPH saat ini telah menjalin kerja sama dengan 92 Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) yang tersebar di berbagai negara. Kerja sama tersebut menjadi kunci dalam memastikan produk impor yang masuk ke Indonesia memenuhi standar halal nasional sekaligus membuka peluang ekonomi yang selama ini justru dinikmati pihak asing.
“Selama ini ada potensi besar yang justru dinikmati negara lain. Contohnya, dari satu negara saja, lembaga halal asing bisa meraih keuntungan puluhan miliar rupiah per tahun dari sertifikasi produk yang masuk ke Indonesia. Ini harus kita benahi agar manfaat ekonominya masuk ke dalam negeri,” tegas Haikal.
Ia menambahkan, potensi industri halal Indonesia sangat besar, dengan kontribusi mencapai 26 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan perhitungan resmi pemerintah. Kontribusi tersebut mencakup sektor makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, produk kimia, barang gunaan, hingga perlengkapan rumah tangga dan kesehatan.
Lebih jauh, Haikal mengungkapkan capaian penting BPJPH di tingkat internasional. Salah satunya adalah pengakuan dan kesepakatan otoritas Amerika Serikat untuk mematuhi standar halal Indonesia setelah melalui rangkaian perundingan intensif.
“Ini bukan prestasi pribadi, tetapi prestasi institusi BPJPH dan Indonesia. Dunia mulai mengakui standar halal kita,” ujarnya.
Menurut Haikal, persepsi global terhadap halal juga telah berubah. Di berbagai negara, halal tidak lagi dipandang sebagai isu eksklusif umat Muslim.
Di Amerika, halal dipahami sebagai simbol kesehatan; di Korea sebagai double clean; di Eropa sebagai elite food; di Inggris sebagai bagian dari keberlanjutan dan penyelamatan lingkungan; sementara di Tiongkok halal dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
“Halal adalah standar kualitas global, milik semua golongan, semua agama, dan semua bangsa,” katanya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, BPJPH menjalankan empat strategi utama, yakni penguatan regulasi, kolaborasi lintas kementerian dan daerah, sosialisasi massif, serta digitalisasi layanan halal, termasuk pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) guna mempercepat proses sertifikasi.
Melalui diskusi panel dan pemaparan strategis dalam KADIN Sharia Economic Outlook 2026, para pemangku kepentingan sepakat bahwa penguatan industri halal merupakan langkah krusial untuk mendorong ekspor, meningkatkan daya saing nasional, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal dunia.
Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan syariah dalam membangun ekosistem halal yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi global.
(Red Irwan Hasiholan)











Komentar