Selasa | 3 Februari 2026 | Pukul | 13:50 | WIB
Mediapatriot.co.id | Bogor | Berita Terkini — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan dan swasembada energi bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan nafas kedaulatan bangsa dan fondasi utama transformasi Indonesia menuju negara maju modern.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Senin (02/02/2026).
Di hadapan jajaran kepala daerah, menteri, serta pimpinan lembaga negara, Presiden Prabowo memaparkan arah besar pembangunan nasional yang berorientasi pada satu tolok ukur utama: peningkatan kualitas hidup seluruh rakyat Indonesia, dari pusat kota hingga pelosok desa, dari wilayah pesisir hingga daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).
“Negara tidak boleh berdiri jauh dari rakyatnya. Negara harus hadir di meja makan, di ladang, di sekolah, di puskesmas, dan di setiap denyut kehidupan masyarakat,” tegas Presiden dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan peserta Rakornas.
Swasembada sebagai Simbol Kemerdekaan Sejati
Presiden Prabowo menekankan bahwa swasembada pangan adalah syarat mutlak bagi sebuah bangsa yang merdeka.
Menurutnya, kemerdekaan politik tidak akan pernah bermakna jika rakyat masih bergantung pada pasokan pangan dari luar negeri.
“Bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang rapuh.
Swasembada pangan bukan sekadar soal produksi, tetapi soal harga diri dan martabat nasional,” ujar Presiden.
Di sektor energi, Presiden menegaskan pentingnya kemandirian sebagai penopang utama keberlanjutan pembangunan nasional.
Optimalisasi sumber daya energi dalam negeri, baik fosil maupun terbarukan, diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga untuk membalikkan arus ekonomi agar mengalir hingga ke desa-desa, memperkuat ekonomi rakyat dari akar rumput.
Transformasi yang Menyentuh Kehidupan Nyata
Dalam pemaparannya, Presiden Prabowo menyoroti capaian nyata dari berbagai program prioritas pemerintah yang dirancang untuk langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu program unggulan, Makan Bergizi Gratis (MBG), disebut telah menjangkau 60 juta penerima manfaat dan ditargetkan mencapai 82 juta penerima pada Desember 2026.
Lebih dari sekadar program sosial, MBG juga dinilai sebagai penggerak ekonomi nasional yang telah menciptakan sekitar satu juta lapangan kerja di berbagai sektor, mulai dari pertanian, distribusi pangan, hingga UMKM penyedia jasa katering.
“Ini bukan hanya tentang memberi makan anak-anak kita, tetapi tentang membangun rantai ekonomi nasional yang melibatkan petani, nelayan, pedagang, dan pelaku usaha kecil,” ujar Presiden.
Di sektor kesehatan, Presiden mengungkapkan bahwa 70 juta rakyat Indonesia telah menerima layanan pemeriksaan kesehatan gratis, sebuah langkah besar dalam memperluas akses layanan medis yang merata dan berkeadilan.
Sementara di bidang pendidikan, pemerintah telah menyalurkan fasilitas Interactive Flat Panel ke 282.180 sekolah, termasuk di wilayah terluar dan terpencil, sebagai bagian dari transformasi pembelajaran berbasis teknologi untuk menyiapkan generasi unggul di era global.
Danantara: Kekuatan Negara untuk Masa Depan Bangsa
Presiden Prabowo juga menyoroti langkah strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Lembaga ini menghimpun dan mengelola kekuatan aset negara dengan nilai mencapai 1 triliun dolar Amerika Serikat, yang diarahkan untuk mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis nasional, penguatan industri dalam negeri, serta pembangunan berkelanjutan jangka panjang.
“Ini adalah instrumen negara untuk memastikan bahwa kekayaan bangsa dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak,” tegas Presiden.
Sinergi Pusat dan Daerah sebagai Kunci Keberhasilan
Dalam Rakornas tersebut, Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sebagai pilar utama keberhasilan transformasi nasional.
Ia meminta seluruh kepala daerah untuk tidak sekadar menjadi administrator, tetapi menjadi pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mendengar, dan bertindak nyata.
Menurut Presiden, keberhasilan program nasional sangat ditentukan oleh keseriusan dan integritas pemerintah daerah dalam menerjemahkan kebijakan pusat ke dalam aksi nyata di lapangan.
“Transformasi bangsa tidak dibangun dari balik meja.
Ia dibangun dari sawah, pasar, sekolah, dan puskesmas. Dari kerja keras dan kejujuran para pemimpin di daerah,” ujarnya.
Menuju Indonesia Maju yang Berdaulat dan Berkeadilan
Menutup arahannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa strategi transformasi bangsa yang diusung pemerintah bukan sekadar proyek lima tahunan, melainkan ikhtiar sejarah untuk mewariskan Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera kepada generasi mendatang.
Dengan swasembada pangan dan energi sebagai fondasi, penguatan ekonomi nasional melalui Danantara, serta program-program sosial yang menyentuh langsung rakyat, Presiden optimistis Indonesia berada di jalur yang tepat menuju negara maju yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara moral dan berdaulat secara politik.
“Tujuan kita bukan sekadar pertumbuhan angka, tetapi pertumbuhan martabat. Kita ingin Indonesia berdiri tegak, dihormati dunia, dan dicintai oleh rakyatnya sendiri,” pungkas Presiden.
Sumber: BPMI Setpres
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
