Jakarta – Laksamana Pertama (Purn) Yutti S. Halilin menyampaikan keprihatinannya terhadap arah tata kelola negara yang menurutnya belum mencerminkan sikap tegas dan kemandirian dalam mengelola sumber daya alam. Ia menilai Indonesia sebagai negara yang kaya dan subur seharusnya dapat menjadi negara yang bersih, jujur, serta makmur di bawah kepemimpinan yang memiliki integritas.
“Negara kita ini subur dan makmur. Seharusnya kita punya pemimpin yang jujur agar rakyat makmur dan negara makmur,” ujar Yutti.
Menurutnya, Indonesia selama ini justru membeli kembali bahan olahan dari luar negeri dengan harga yang lebih tinggi, meski memiliki kekayaan alam berlimpah. Ia menyayangkan kurangnya ketegasan pemerintah dalam mengambil keputusan strategis untuk kepentingan nasional.
Yutti juga menyinggung adanya komitmen-komitmen politik yang menurutnya berpotensi membuat pemerintah kurang leluasa bertindak. Ia menilai bahwa keberanian dalam mengambil langkah tegas menjadi kunci utama untuk kemajuan negara.
“Kalau semuanya tersandera, bagaimana bisa tegas? Kita harus berani. Kalau mikirnya cuma uang, ya selesai. Kita ini punya harga diri dan harus punya integritas,” tegasnya.
Yutti mengingatkan bahwa bangsa ini tidak boleh mudah tergoda oleh kepentingan tertentu, termasuk tekanan atau pengaruh oligarki. Ia menyerukan para tokoh, aparat, dan elemen bangsa untuk bersatu mempertahankan kepentingan nasional.
“Semua memang butuh uang, tapi kalau tergoda, negara yang rugi. Rakyat kita yang dizalimi. Kita harus kompak dan tidak boleh berkhianat,” katanya.
Dalam pandangannya, Indonesia saat ini menghadapi tekanan asing yang masuk secara perlahan. Karena itu, ia mengajak semua pihak, termasuk para purnawirawan TNI, untuk ikut menjaga kedaulatan bangsa melalui langkah nyata.
“Berdoa itu perlu, tapi harus ada aksi. Kita harus ikhtiar. Mudah-mudahan perjuangan rakyat yang terus menerus bisa membawa perubahan lebih baik,” tutup Yutti.
(Red Irwan Hasiholan)
