Senin | 16 Februari 2026 | Pukul | 22:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Medan | Sumatera Utara | Berita Terkini – Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Pengurus Besar Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabil Khairiyah (PB JMLTK) mengeluarkan himbauan resmi yang sarat pesan spiritual, sosial, dan kebangsaan.
Himbauan tersebut tidak hanya menekankan urgensi peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan, tetapi juga mempertegas komitmen organisasi terhadap persatuan umat, kepatuhan kepada pemerintah, serta penguatan solidaritas sosial di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
Dalam dokumen yang ditandatangani di Medan pada 26 Syakban 1447 H bertepatan 14 Februari 2026 M, Ketua Umum PB JMLTK, Prof. Dr. Fachruddin Azmi, M.A., bersama Sekretaris Umum Dr. Sufriansyah, M.A., mengajak seluruh keluarga besar Jamaiyah Mahmudiyah—mulai dari pengurus yayasan, pimpinan perguruan tinggi, civitas akademika, pimpinan madrasah, guru, siswa, mahasiswa, alumni, hingga para da’i dan muballigh—untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi ruhani dan sosial.
Kepatuhan pada Keputusan Pemerintah, Hindari Khilafiyah
Salah satu poin penting dalam himbauan tersebut adalah ajakan agar seluruh warga Jamaiyah Mahmudiyah memulai puasa Ramadan 1447 H dan menetapkan 1 Syawal 1447 H sesuai keputusan resmi Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya menghindari khilafiyah (perbedaan penetapan awal bulan) yang berpotensi menimbulkan fragmentasi di tengah umat.
PB JMLTK menegaskan bahwa kepatuhan kepada ulil amri dalam perkara yang bersifat ijtihadiyah dan administratif merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif dalam menjaga taqwiyah ukhuwah (penguatan persaudaraan) dan kemaslahatan umat.
Sikap ini sekaligus mencerminkan komitmen organisasi terhadap stabilitas sosial dan harmoni kebangsaan, di mana praktik keberagamaan ditempatkan dalam bingkai moderasi dan kepatuhan konstitusional.
Ramadan sebagai Momentum
Pencerahan Spiritual dan Syiar Publik
Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” PB JMLTK menekankan bahwa esensi puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga, melainkan membangun kualitas takwa sebagai fondasi moral individu dan masyarakat.
Lebih lanjut, hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan tentang keutamaan Ramadan—bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan—dijadikan penguat teologis bahwa Ramadan adalah ruang perjumpaan antara kewajiban syariat dan peluang pengampunan ilahi.
PB JMLTK mendorong seluruh komponen organisasi untuk aktif menyemarakkan syiar Ramadan melalui berbagai media dan aktivitas publik.
Pemasangan banner, spanduk, baliho di masjid, sekolah, madrasah, dan pesantren, hingga publikasi melalui media cetak dan elektronik, dipandang sebagai bagian dari edukasi kolektif dalam menyambut bulan suci.
Tidak hanya itu, program-program keagamaan seperti tarawih, witir, tahajud, ceramah Ramadan, tadarus Al-Qur’an, peringatan Nuzulul Qur’an, pesantren kilat, safari Ramadan, pembinaan remaja masjid, hingga peningkatan sedekah, zikir, dan i’tikaf, dianjurkan untuk dioptimalkan secara sistematis dan terukur.
“Ramadan adalah madrasah ruhani yang membentuk manusia muttaqin—pribadi yang bukan hanya saleh secara individual, tetapi juga berintegritas sosial dan kebangsaan,” demikian esensi pesan yang tertuang dalam himbauan tersebut.
Etika Sosial dan Penghormatan Publik
Dalam perspektif etika sosial, PB JMLTK juga menyerukan agar umat Islam yang sedang sakit, berhalangan syar’i, atau musafir tetap menghormati saudara-saudara yang berpuasa dengan tidak makan dan minum secara terbuka di tempat umum.
Ajakan ini diletakkan dalam kerangka adab sosial dan penghormatan terhadap kesucian bulan Ramadan. Profesionalitas di tempat kerja dan ruang publik tetap harus dijaga tanpa mengurangi sensitivitas spiritual terhadap suasana ibadah yang sedang berlangsung.
Peran Pemerintah dan Penegakan Moral Sosial
Himbauan PB JMLTK turut menyentuh dimensi struktural dengan meminta Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, hingga aparat penegak hukum untuk mengintensifkan pengawasan selama Ramadan.
Upaya pemberantasan narkoba, judi, prostitusi, serta berbagai bentuk penyakit masyarakat lainnya dinilai sebagai bagian integral dari menciptakan suasana kondusif agar umat dapat menjalankan ibadah secara khusyuk dan maksimal.
Seruan ini menegaskan bahwa pembangunan masyarakat muttaqin tidak hanya menjadi tanggung jawab individu dan lembaga keagamaan, tetapi juga memerlukan dukungan regulatif dan penegakan hukum yang konsisten.
Solidaritas Sosial dan Konsolidasi Zakat
Aspek sosial-ekonomi turut menjadi perhatian.
PB JMLTK menghimbau agar pemerintah, lembaga sosial kemanusiaan, dan seluruh keluarga besar Jamaiyah Mahmudiyah mengkonsolidasikan infaq, sedekah, dan wakaf untuk membantu masyarakat terdampak bencana dan kelompok dhuafa.
Koordinasi penyaluran zakat fitrah
secara sistematis di lingkungan masing-masing diharapkan dapat memastikan distribusi tepat sasaran, khususnya bagi fakir miskin yang membutuhkan dukungan untuk menjalankan Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan layak dan bermartabat.
Solidaritas ini dipandang sebagai implementasi nyata dari nilai rahmatan lil ‘alamin, di mana ibadah vertikal (hablumminallah) terintegrasi dengan tanggung jawab horizontal (hablumminannas).
Meneguhkan Spirit Kebangsaan
Di tengah dinamika sosial dan tantangan moral bangsa, himbauan PB Jamaiyah Mahmudiyah Li Thalabil Khairiyah hadir sebagai panduan komprehensif yang menggabungkan dimensi teologis, etis, dan kebangsaan.
Ramadan 1447 H diharapkan tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan momentum rekonstruksi spiritual dan sosial—membangun generasi yang berilmu, berakhlak, serta berkontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan negara.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, inayah, dan keberkahan bagi kita umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadan,” demikian penutup himbauan yang sarat doa dan harapan.
Dengan spirit ini, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan konsolidasi iman, moralitas, dan peradaban.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
