Minggu | 22 Februari 2026 | Pukul | 15:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Medan | Sumatera Utara | Berita Terkini — Dalam kurun 100 hari kerja, Polrestabes Medan mencatat capaian yang tak sekadar statistik, melainkan potret nyata pertempuran panjang melawan narkotika di ibu kota Sumatera Utara.
Sebanyak 526 kasus berhasil diungkap dengan 718 tersangka diamankan.
Barang bukti yang disita pun mencengangkan: 156 kilogram sabu, 3 kilogram ganja, 60 ribu butir ekstasi, 400 butir Happy Five, 250 botol vape liquid mengandung narkotika, 60 botol ketamin cair, serta 800 botol minuman beralkohol berbagai merek.
Angka-angka ini bukan sekadar deretan data.
Ia adalah representasi dari ancaman serius yang menggerogoti sendi keluarga, merusak masa depan generasi muda, dan membebani sistem sosial serta ekonomi kota.
Kapolrestabes Medan, Jean Calvijn Simanjuntak, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan implementasi konkret dari program asta cita Presiden Prabowo Subianto serta instruksi Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam perang total terhadap narkoba.
“Selama 100 hari pemberantasan narkoba, kami telah melaksanakan Gerebek Sarang Narkoba (GSN) yang menyasar barak dan loket narkoba, tempat hiburan malam, pengungkapan kasus atensi hingga kasus besar yang melibatkan jaringan internasional dan nasional,” ujar Calvijn, Minggu (22/2/2026).
Tiga Wilayah Rawan: Titik Tekan Peredaran
Dari ratusan kasus yang diungkap, terdapat tiga wilayah hukum yang dinilai paling rawan dan menjadi episentrum peredaran narkotika:
Polsek Medan Tembung: 89 kasus, 110 tersangka
Polsek Sunggal: 62 kasus, 68 tersangka
Polsek Medan Kota: 54 kasus, 70 tersangka
Ketiga wilayah ini menjadi cerminan kompleksitas persoalan narkoba di kawasan urban.
Kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, serta keberadaan titik-titik ekonomi informal kerap dimanfaatkan jaringan pengedar sebagai ruang aman distribusi gelap.
Polrestabes Medan menegaskan akan memperkuat patroli, intelijen, dan kolaborasi lintas sektor di kawasan tersebut. “Kami akan berupaya maksimal menindak narkoba di lokasi-lokasi rawan peredaran dan penyalahgunaan,” tegas Calvijn.
Jaringan Nasional hingga Internasional
Pengungkapan selama 100 hari tidak hanya menyasar pengguna dan pengedar kecil.
Beberapa kasus besar mengarah pada jaringan lintas provinsi bahkan lintas negara.
Hal ini menunjukkan bahwa Medan masih menjadi salah satu pintu strategis peredaran narkotika, baik melalui jalur darat maupun laut.
Penyitaan 156 kilogram sabu mengindikasikan potensi ribuan jiwa yang berhasil diselamatkan dari ketergantungan dan kehancuran.
Secara kalkulatif, satu gram sabu dapat dikonsumsi beberapa orang. Artinya, ratusan ribu peluang kerusakan sosial berhasil diputus sebelum menjalar lebih jauh.
Lebih dari Sekadar Penindakan
Namun, perang terhadap narkoba tidak dapat semata-mata mengandalkan pendekatan represif.
Diperlukan langkah preventif dan rehabilitatif yang berkelanjutan. Aparat penegak hukum, pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan keluarga harus menjadi satu kesatuan ekosistem yang solid.
Pemberantasan narkoba adalah soal keberanian negara menjaga masa depan bangsanya.
Ketika aparat menembus barak-barak narkoba dan membongkar loket-loket transaksi gelap, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya hukum, tetapi harapan.
Alarm bagi Kota Medan
Capaian 526 kasus dalam 100 hari adalah prestasi sekaligus alarm keras. Ia menegaskan bahwa narkoba masih menemukan ruang hidup di tengah masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan ruang itu semakin menyempit, hingga akhirnya tertutup rapat.
Medan tidak boleh menjadi ladang subur bagi sindikat narkotika. Kota ini harus kembali menjadi ruang tumbuh yang aman bagi generasi muda, bukan medan pertempuran sunyi melawan candu.
Perang belum usai. Namun 100 hari ini telah menunjukkan bahwa negara hadir — dan tidak tinggal diam.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)










